28 June 2020, 13:30 WIB

BPBD Sukabumi Waspadai Potensi Krisis Air dan Kebakaran Lahan


Benny Bastiandy | Nusantara

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah Kota Sukabumi, Jawa Barat, mewaspadai potensi terjadinya krisis air bersih maupun kebakaran hutan dan lahan menyusul prediksi segera memasukinya kemarau. Setiap kelurahan pun diinstruksikan BPBD memitigasi daerah-daerah yang sekiranya bakal berpotensi rawan terdampak kemarau.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami, mengatakan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, sebagian wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau seperti yang. Cakupan wilayah yang telah mengalami kemarau hampir 51,2% dan sisanya masih terjadi hujan.

Baca juga: Daerah di Pantura Jateng Waspadai Serangan DBD

"Di Kota Sukabumi sendiri, kami (BPBD) sudah meminta kepada seluruh kelurahan untuk melakukan pemetaan terhadap kantong-kantong yang sekiranya kurang air dan lahan lahan ilalang yang berpotensi menimbulkan kebakaran," terang Zulkarnain kepada Media Indonesia, Minggu (28/6).

Terdapat beberapa wilayah yang diwaspadai BPBD berpotensi rawan kebakaran lahan dan krisis air bersih. Zulkarnain menyebut, daerah yang diantisipasi rawan kebakaran lahan di antaranya berada di Kecamatan Lembursitu.

"Seperti di kawasan Pasir Babi, lahan pemakaman nonmuslim, dan kawasan TPA Cikundul," jelas Zulkarnain.

Sedangkan untuk daerah yang diantisipasi rawan krisis air bersih berada di Kecamatan Baros, Lembursitu, dan Cibeureum. Wilayah tersebut terbilang langganan krisis air bersih setiap kali memasuki kemarau.

"Di kawasan Bacile (Baros, Cibeureum, dan Lembursitu) juga masih terdapat banyak lahan pertanian. Ini harus bisa kita antisipasi pasokan airnya berkoordinasi dengan perangkat daerah teknis," tegasnya.

Sementara itu, selama periode Januari-Juni 2020, bencana di Kota Sukabumi dilaporkan terjadi sebanyak 106 kali. Rinciannya, tanah longsor sebanyak 41 kali, cuaca ekstrem sebanyak 32 kali, banjir sebanyak 14 kali, kebakaran sebanyak 9 kali, gempa sebanyak 8 kali, dan angin kencang sebanyak 2 kali.

"Jika melihat data, tanah longsor dan cuaca ekstrem masih mendominasi kejadian bencana selama semester pertama tahun ini," ucapnya.

Zulkarnain merinci periode terjadinya bencana selama semester pertama tahun ini. Pada Januari tercatat sebanyak 16 kali bencana, Februari sebanyak 15 kali bencana, Maret sebanyak 28 kali bencana, April sebanyak 18 kali bencana, Mei sebanyak 25 kali bencana, dan Juni sebanyak 4 kali bencana.

"Dalam kondisi apapun, BPBD tentu harus selalu siap siaga menghadapinya," pungkas Zulkarnain. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT