28 June 2020, 05:40 WIB

Keluarga Kusmajadi Keliling Indonesia dengan Truk


BAGUS PRADANA | Weekend

KURANG lebih 13 tahun bermukim di Malaysia, Dodi Kusmajadi dan Melati M Putri, hanya sesekali pulang ke Indonesia. Itu pun biasanya saat mudik Lebaran. Bukan berarti Keluarga Dodi tidak cinta Tanah Air, justru karena kecintaan itulah, pada September 2018 lalu, keluarga ini memutuskan keliling Indonesia. Dodi, selaku kepala keluarga, berniat memperkenalkan Indonesia kepada anak-anaknya, Hakim dan Sabiya, yang sedari kecil tak mengenal kampung halaman orangtuanya.

"Kami pulang ke Indonesia mungkin hanya pas Lebaran saja, jadi kami ingin kasih tahu mereka (anak-anak) bahwa sebenarnya Indonesia itu kaya," papar Dodi di acara Kick Andy yang ditayangkan pada Minggu (28/6) malam nanti.

Sebelum memulai petualangannya bersama keluarga, Dodi memutuskan resign dari pekerjaannya di Malaysia. Perjalanan keluarga Kusmajadi ini dimulai pada 3 September 2018 dengan misi pertama berkelliling ke Pulau Sumatra selama satu tahun. Dari Sumatra, petualangan keluarga petualang ini pun berlanjut ke Pulaun Jawa, Bali, Lombok, Flores, dan beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara Timur, kemudian menyeberang melalui jalur laut sebelum menapaki tanah Sulawesi dan Kalimantan.

Dodi dan Melati mengungkapkan begitu banyak hal di Indonesia yang menjadi pelajaran teramat berharga bagi mereka selama perjalanan keliling Indonesia, unlocking Indonesia's treasure. "Saya berpikir pasti banyak hal yang bisa dipelajari di Indonesia dari masyarakat tradisionalnya hingga kearifan lokalnya mereka bisa hidup berselaras dengan alam, mengambil secukupnya dari alam, menjalani fitrah manusia sebagai pemelihara alam.

Oleh karena itu, perjalanan ini sendiri kami kasih misi unlocking Indonesia's treasure, yaitu membongkar kekayaan Indonesia," ungkap Melati. Perjalanan keliling Indonesia memang bukan perkara mudah. Selain butuh kesiapan mental, persiapan kendaraan juga perlu dipikirkan agar perjalanan lancar. Untuk petualang an ini, Dodi memodifikasi truk Mitsubishi Fuso miliknya sebagai alat transportasi sekaligus rumah.

Dodi mengaku telah menghabiskan dana sekitar Rp700 juta hanya untuk memodifikasi truk kesayangan yang ia beri nama Moti tersebut. "Memang mahal, 700 juta kami keluarkan untuk itu. Harganya hampir sama dengan harga mobil baru. Tapi itu merupakan aset kami," ujar pria yang juga merupakan mantan jurnalis tersebut.

Menurutnya, truk modifikasi tersebut ialah sebuah aset yang sebanding dengan, misalnya, pengalaman tinggal di hotel di setiap daerah yang ia datangi yang menurutnya biaya yang ia keluarkan pun akhirnya tidak jauh berbeda. "Kalau menginap di hotel, uang kita akan habis untuk itu, sedangkan dengan truk modifikasi ini, kita mendapat pengalaman dengan tidur di mana saja dan kami memiliki aset," tambah Dodi.

Untuk urusan pendidikan anak, Dodi dan istri menawarkan kepada anak mereka sekolah mandiri atau home schooling. Di saat melakukan perjalanan, kegiatan home schooling yang rutin diberikan Dodi kepada kedua anaknya pun berubah menjadi travel schooling. Anak-anak belajar langsung dari tentang kebudayaan, sejarah, hingga kearifan lokal yang mereka temui selama perjalanan.

"Gurunya macam-macam, dari guide, kepala suku, tukang ojek, penduduk lokal, kami orangtuanya, siapa pun bisa menjadi guru mereka selama memberikan informasi," ujar Melati memberikan penjelasan tentang kegiatan home schooling yang biasanya didapatkan anak-anaknya.

Meski menerapkan travel school, Dodi dan istri tetap memiliki target mingguan untuk memfasilitasi pelajaran yang bersifat akademis kepada anak-anaknya, seperti matematika, sains, dan bahasa Inggris yang dapat mereka peroleh melalui internet. "Jam belajar sangat bergantung pada sinyal dan posisi kami saat sedang berhenti," tandas Dodi.

Tidak terlupakan

Ada satu peristiwa tragis yang tidak dapat dilupakan keluarga Kusmajadi dalam perjalanannya menyusuri Sulawesi. Saat itu, cerita Dodi, ada seorang anggota keluarga baru yang bergabung dalam petualangan mereka, yakni Wak Iyan, kerabat yang telah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh Dodi. Namun, di tengah perjalanan, mereka kehilangan Wak Iyan yang wafat secara tiba-tiba.

Dodi bercerita ketika itu mereka sekeluarga sedang menikmati keindahan alam di Taman Nasional Lore Lindu yang terletak di Lembah Bada, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tiba-tiba seorang guide berteriak mengabarkan bahwa Wak Iyan telah terbaring di tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Lantas, mereka membawanya ke puskemas terdekat. Namun, setibanya di puskesmas, detak jantung Wak Iyan sudah sangat lemah, bahkan hampir tidak terdeteksi. Wak Iyan dinyatakan sudah meninggal ketika tiba di puskesmas.

"Kejadian waktu itu menjadi momen yang membuat saya terpukul. Almarhum sudah saya anggap sebagai kakak kandung," kenang Dodi yang memutuskan mengantarkan jenazah Wak Iyan ke kampung halamannya di Garut, Jawa Barat.

Setelah mengantarkan jenazah Wak Iyan ke Garut, keluarga Kusmajadi pun memutuskan rehat sejenak di Jakarta sembari mengevaluasi perjalanan yang telah mereka lalui dan menenangkan diri selepas kepergian Wak Iyan.

Selepas tiga bulan berada di Jakarta, Dodi dan istri pun kembali menyusun rencana untuk melanjutkan misi berkeliling Indonesia, khususnya ke kawasan Maluku dan Papua. Namun, rencana tersebut terpaksa harus mereka tunda akibat pandemi covid-19 yang menerpa Indoesia saat ini. "Rencananya nanti untuk Maluku dan Papua kami akan gunakan jalur laut dan udara saja, tidak bawa kendaraan sendiri karena risikonya lebih besar," pungkas Dodi. (M-4)

BERITA TERKAIT