28 June 2020, 04:54 WIB

Waspadai Kelas-Kelas Online Radikalisme


Cah/Pro/Ant/P-1 | Politik dan Hukum

WAKIL Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Khariri Makmun mengatakan BNPT mewaspadai adanya kelaskelas online radikalisme yang tumbuh di masa teknologi informasi dan komunikasi kini.

‘’Untuk mencegah penyebaran paham radikal terorisme, saya kira Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) perlu untuk mengawasi pergerakan kelompok radikal di media online. Karena sekarang dengan adanya aplikasi seperti Zoom, mereka bisa saja membuat kelas-kelas online untuk menyebarkan pemahaman mereka dan saya kira itu perlu diwaspadai juga oleh BNPT,’’ katanya.

Hal ini mengingat pesatnya perkembangan teknologi yang semakin memudahkan dalam melakukan komunikasi dan penyebaran informasi. Menurut alumni Universitas Al-Azhar Kairo itu, dulu kelompok radikal belajar lewat internet sendiri melalui Google, kini sudah dapat menggunakan guru melalui kelas online.

‘’Kalau pertama, kan mereka masih baca sendiri, di doktrin melalui tulisan. Nah, kalau sekarang didoktrin melalui pengajaran dan itu jarak jauh, itu tentunya selangkah lebih maju. Jadi, perlu kita waspadai munculnya generasi kelompok radikal yang hasil dari didikan doktrinasi jarak jauh melalui kelas online itu.’’

Ia pun menyampaikan perlunya moderasi beragama untuk memberi ruang kepada orang lain yang berbeda agama atau berbeda paham dengan kita. ‘’Dengan berpikir moderat, kita akan memberi ruang kepada orang lain untuk berbeda dengan kita. Kalau mereka yang radikal itu, dia tidak memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda dengan dia sehingga siapa pun yang berbeda dengan dia dianggap sesat.’’

Pada kesempatan berbeda, Wakil Ketua Pembina Pengurus Pusat Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PP Perti) Anwar Sanusi mengatakan Pancasila ialah cara terbaik untuk tingkatkan kekebalan masyarakat dari pengaruh paham radikal terorisme.

‘’Karena Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya bahwa seluruh rakyat dan warga Indonesia harus mempunyai Tuhan dan harus beragama. Sepanjang yang saya ketahui tidak ada agama yang mengajarkan radikalisme dan terorisme. Kalau sila pertama ini sudah meresap di dalam
jiwa masyarakat, tidak akan ada yang namanya terorisme ataupun radikalisme.’’

Menurut dia, seperti halnya vovid-19, virus radikal terorisme juga tidak mengenal ruang dan waktu sehingga masyarakat dengan pemahaman agama yang rendah sebagai daya imun dirinya akan mudah terpapar paham radikalisme terorisme.

Anwar mengatakan bahwa sesungguhnya Pancasila ini sebagai falsafah bangsa dan juga sebagai ideologi yang pada hakikatnya menghen daki keadilan. (Cah/Pro/Ant/P-1)

BERITA TERKAIT