28 June 2020, 02:45 WIB

Mengabdi pada Tari Tradisi


Fathurrozak | Weekend

TUMBUH dan besar dalam lingkungan keluarga yang mencintai dan menekuni kesenian tradisional menjadi faktor utama ketertarikan alami Rakyan Ratri Syandriasari Mardikawati Guntur Soekarno Putri Kameron kepada seni tradisi, khususnya seni tari.

Syandria, nama panggilannya, sejak kecil tidak asing dengan tari-tarian tradisional. Sang nenek ialah penari di Istana yang kerap menceritakan pengalaman menarinya kepada Syandria cilik.

Ia pun kerap menyimak saat sang eyang, Guruh Soekarnoputra, tengah melatih para penarinya setiap ada pergelaran. Segala pengalaman tersebut mengendap menjadi motivasi yang mendorongnya mempelajari tarian Nusantara, termasuk Legong, tari tradisional dari Pulau Dewata, tempat muasal buyutnya.

Berikut petikan wawancara Muda bersama Syandria via surat elektronik, Rabu (24/6):

Bagaimana awal pengalaman kamu menari?
Awalnya saya menarikan tarian Manuk Dadali untuk acara ulang tahun nenek mengingat dia penari pada zaman dulu. Jadi, saya disuruh coba menari tarian Jawa Barat. Ketika itu saya masih kaku, belum bisa menari dengan luwes dan bagus. Namun, setelah itu saya malah tertarik dengan tari.

Beberapa bulan kemudian, Eyang Guruh menyuruh saya menarikan tarian itu lagi untuk ulang tahun dia. Di situ saya merasakan semakin suka dengan menari. Tidak lama kemudian, saya diajak menari di depan Raja Kamboja.  Tariannya Gending Sriwijaya dari Palembang. Akhirnya, saya mengambil kesempatan tersebut dan saya menari dengan Kinarya GSP, dilatih langsung oleh Eyang Guruh. Dari situ juga saya semakin cinta dengan tarian.

Terus berlanjut sampai sekarang?
Sempat juga enggak meneruskan menari cukup lama, kira-kira sekitar enam bulan. Saat itu masih usia 16 tahun. Namun, lama-kelamaan saya tertarik lagi untuk mencoba tarian baru.

Akhirnya, saya mencoba mencari tahu mengenai tari Legong. Saya pikir saya tidak mampu menarikan tarian ini karena cukup sulit. Akan tetapi, saya berkonsultasi dengan Eyang Guruh dan dia bersemangat mengajarkan tarian ini. Dari situ saya menekuni tari Legong Lasem menggunakan gaya Peliatan.

Bagaimana proses kamu mendalami tari Legong?
Saya belajar dari Eyang Guruh dan Mbak Nyoman Trianawati (Nana) yang memang sudah ahlinya di bidang itu. Tantangan dalam belajar tari Legong itu karena durasinya panjang sekitar 23 menit, jadi harus terus mengatur napa, mengatur ekspresi, dan mengatur postur badan. 

Itu yang menurutku sulit. Kalau sudah kehabisan napas, semuanya jadi berantakan. Jadi, benar-benar harus fit dan punya stamina kuat. Namun, kalau sudah sering latihan, nanti lama-lama juga terbiasa.

Bagaimana kamu berjejaring ketika mene kuni tari Legong ini?
Untuk membangun jejaringnya, itu dimulai dari mengajak orang-orang terdekat saya, seperti saudara, teman, dan kerabat saya yang lainnya, baik dari kalangan muda maupun yang lebih tua, untuk ikut menari dengan saya.

Meskipun awalnya itu bukan langsung tari Legong, melainkan tarian lain seperti Pendet, misalnya, seiring berjalannya waktu, sebagian dari mereka juga menjadi ada keinginan ikut menekuni tari Legong bersama dengan saya.

Bagaimana peluangnya ketika seni tradi sional ditekuni generasi muda?
Memang sejauh ini saya juga merasa banyak sekali perajin seni yang kurang terekspos. Itu merupakan hal yang sangat disayangkan. Menurut saya, kalau kawula muda mulai turut berkontribusi dalam perkembangan dunia seni, apalagi generasi muda yang sangat familier dengan teknologi seperti smartphone dan sebagainya, melalui media sosial, mereka bisa mengekspos karya seni anak bangsa.  Dengan begitu, baik secara langsung maupun tidak, bisa turut mengajak kawula muda lain untuk turut menjaga kesenian asli kita.

Apa ini juga akan membuka akses lebih luas lagi?
Itu salah satu jalan ya, untuk seni tradisional menjadi lebih dikenal, dikembangkan, dan dilestarikan kembali. Untuk dampaknya, sejauh ini yang saya pikirkan sih sebenarnya cenderung ke dampak positif apabila akses mulai terbuka dan seni tradisional mulai terekspos.

Dengan tereksposnya seni tradisional ini, kita bisa mempertahankan dan melestarikan kebudayaan kita juga. Selain itu, kita juga jadi bisa lebih menghargai para perajin seni di Indonesia. Mengekspos seni tradisional juga bisa membuka peluang di berbagai hal, misalnya, bidang perekonomian.

Anak muda banyak terpengaruh perkembangan kultur pop, bagaimana kamu membawa seni tradisi tetap relevan?
Enggak begitu banyak anak muda yang tertarik dengan seni tradisional, tapi bukannya enggak ada yang mau belajar. Saya juga tidak bisa menyalahkan karena mungkin saja memang hal seperti itu tidak ditanamkan sejak kecil sehingga menjadi jauh dengan anakanak muda.

Mungkin agar lebih relevan ialah dikemas dengan cara yang modern, jadi enggak itu-itu saja. Mungkin dari segi kostum, musik, tata panggung, bahkan koreografi diubah sedikit sehingga menjadi lebih menarik bagi anak muda. Jika mereka sudah tertarik dengan hal tersebut, otomatis mereka mencari tahu mengenai tarian klasiknya, dari situlah kita sudah sama-sama melestarikan kebudayaan ini. Ini contohnya seperti yang dilakukan sekumpulan anak-anak muda yang juga berjuang untuk kebudayaan Indonesia, namanya Swara Gembira. Mereka teman-temanku juga.

Apa rencana terdekat?
Untuk sekarang, saya masih tetap terus belajar menari Legong, belum ada rencana lainnya karena Legong sendiri pun memiliki banyak varian, ada Legong Lasem, Jobog, Semarandhana, Kuntir, Kuntul, dan masih banyak lagi. Nanti setelah menguasai tari Legong, saya ada ketertarikan untuk belajar tari Bedhaya dan tari Pakarena.

Punya pesan ke sesama anak muda pegiat tari tradisional?
Teruslah berkarya dan tekuni karyamu sampai karya itu bisa terus berkembang dan menghasilkan makna, baik bagi diri kamu maupun bagi khalayak umum.

Apakah kamu akan menjadi penari profesional?
Untuk ke depannya aku ingin mendalami tarian-tarian Indonesia. Aku juga ingin punya sanggar, tapi mengemasnya lebih modern, jadi bisa diminati anakanak muda. Enggak dilihat membosankan dan kuno. (M-2)

BERITA TERKAIT