28 June 2020, 01:15 WIB

Optimisme dari Jalanan Melawan Covid-19


Furqon Ulya Himawan | Weekend

SESOSOK tubuh memakai baju beskap dan celana panjang selutut bercorak batik dengan motif bunga. Sehelai kain batik bermotif parang rusak melingkar di pinggang dengan selendang warna hijau yang menjuntai ke bawah.

Sekilas mirip dengan seragam yang biasa dikenakan bregada Keraton Yogyakarta. Di kepalanya terdapat irahirahan khas kepala pemain wayang orang. Mulut dan hidungnya tertutup masker berwarna biru muda. Tangan kanannya menjulur ke depan, menengadah te pat di bawah bibir, sementara yang kiri mengulur lebih jauh di depannya.

Kedua tangannya itu sedang mengalirkan energi yang keluar dari mulut. Tepat di depannya sebuah benda bulat yang di sekelilingnya terdapat benjolan, perlahan menjauh karena tiupan energi dari mulut yang mengalir di kedua tangan yang menjulur ke depan.

Benda bulat yang menjauh itu tak lain ialah virus korona atau SARS-CoV2. 'Goodbye corona', begitulah yang tertulis tepat di atas sesosok tubuh tadi. Sosok itu berada di depan Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jalan Parangtiritis, Km 6,5 Sewon, Bantul, DIY.

Sosok yang meniup pergi virus korona atau covid-19 merupakan karya stensil seorang seniman bernama Anagard. Seorang seniman street art dari Yogyakarta.

Pesan dalam karya seni stensil Anagard di depan tembok ISI Yogyakarta sangat jelas, yakni sebentuk doa dan memupuk rasa optimisme kepada masyarakat untuk melawan covid-19. “Penggambaran optimisme. Kita harus optimistis mengembuskan semangat melawan covid-19,” ujar nya, Rabu (24/06), seusai menyelesaikan karya stensilnya di depan ISI Yogyakarta.

Karya itu sangat relevan dengan situasi saat ini yang mana pemerintah sedang me ngam panyekan new normal atau kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari melawan covid-19. Bagi Anagard, optimisme ialah sikap yang harus masyarakat miliki saat ini.

“Meskipun covid-nya masih ada, slogan tentang covid-19 menjauh itu harus disuarakan, kita harus optimistis,” imbuh Anagard.

Ada sekitar tujuh karya stensil Anagard yang semuanya membicarakan pandemi covid19. Semua tersebar di berbagai tembok di pinggir jalan. Meski semuanya bertemakan pandemi covid-19, setiap karya memiliki pesan dan judul karya yang berbeda, yakni sesuai dengan situasi dan perkembangan penanganan pagebluk ini. 

“Kalau di masa awal pandemi, saya membuat karya agar masyarakat waspada dan berhati-hati. Kalau sekarang, pesannya lebih kepada optimisme dan new normal,” tandasnya.


Dari tembok ke tembok

Karya seni stensil berisi kritik dan pesan yang Anagard sampaikan ada di tembok-tembok berbagai wilayah DIY. Dia tak butuh waktu lama dalam menyemprot tembok untuk menghasilkan sebuah gambar. Anagard yang memang sudah sering membuat karya seni stensil itu mampu menyelesaikan karya seninya dan bisa langsung dinikmati masyarakat hanya satu jam.

Di tembok rumah barat jalan yang terletak di dekat lampu merah perempatan Jalan Bugisan, terdapat sosok memakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Dia menghadap ke timur. Pakaiannya berwarna oranye bermotif bungabunga.

Tangan kirinya memegang karya alat penyemprot disinfektan, sementara tangan kanannya mengarah ke depan, membuka, membe rikan isyarat berhenti. Dari telapak tangannya itu terdapat tulisan ‘setop covid-19’. Di samping kirinya terdapat satu lagi sosok yang sedang berdiri bertumpu pada lutut. Dia juga mengenakan APD lengkap.

Bedanya, pakaian yang dikenakan berwarna merah muda. Kedua tangannya ke atas membawa selem bar poster putih bertuliskan 'setop coronavirus tanpa dis kriminasi’. Dua sosok itu merupakan karya stensil bertemakan pandemi covid19 pertama yang Anagard buat.

Dengan kedua karya itu, Anagard ingin mengajak masyarakat bersama-sama melawan covid-19 dan tidak mendiskriminasi pasien yang terjangkit virus tersebut.

“Kan ada sebagian masyarakat yang malah menolak tetangganya atau petugas medis yang terkena covid-19 dan menolak pemakaman jenazah pasien covid-19. Itu yang saya sampaikan dalam karya ini,” katanya.


Karakter lokal

Karya-karya stensil Anagard bertemakan pandemi covid-19 yang menempel di tembok jalanan DIY sangat khas dengan karyakarya stensilnya yang lain, yakni penggabungan antara karakter yang mengandung nilai lokal dan global, serta dengan semprotan warna-warna cerah dan kontras.

“Saya memang suka meng gabungkan nilai lokal dan global sebagai karakter,” ujarnya. 

Seperti karya stensil yang ada di tembok depan kampus ISI, di situ Anagard menggambarkan sosok seperti orang berpakaian ala bregada Keraton Yogyakarta dengan ornamen wayang dan motif-motif batik.

Pemakaian batik parang sangat tepat untuk menyampaikan pesannya agar tetap optimistis dan bersemangat dalam melawan covid-19. “Batik parang maknanya kan ketangguhan dalam berjuang dan kita hidup di tengah covid-19 ini harus semangat,” tegasnya.

Pesan-pesan yang Anagard sampaikan pun masih sama, yakni meski dalam tema pandemi covid19, dia selalu menyelipkan pesan antidiskriminasi, antirasialisme, perdamaian, dan peduli pada kelestarian lingkungan. "Seniman tetap harus bergerak dan ikut melawan covid-19. New normal bagi saya semacam ke lahiran kembali dan semangat optimisme,” katanya. (M-4)

 

BERITA TERKAIT