27 June 2020, 17:15 WIB

Petani Desa Macan Tanggar Bangun Usaha Agro Wisata


John Lewar | Ekonomi

PETANI kampung Mbrata, Desa Macan Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), NTT, memulai usaha agro wisata. Aneka tanaman produktif jangka pendek,baik sayuran dan buah-buahan serta tanaman herbal untuk pengobatan.

Tak hanya itu, mereka juga menanam berbagai jenis bunga sebagai tanaman herbal atau apotik hidup di pingir ruas jalan yang akan di lintasi para peserta G-20 sebelum menuju ke desa Golomori arah selatan Labuan Bajo.

Sebagaimana di ketahui Desa Golo Mori merupakan salah satu  lokasi yang berhadapan dengan obyek wisata pulau Rinca milik (TN Komodo), berjarak 5 menit dengan menyeberang di selat Molo ke pulau Rinca.

Lokasi Golo Mori Tanah Naga dipastikan akan digelar pertemuan 20 negara persemakmuran di dunia yang menurut rencana akhir 2023 mendatang.

Warga di daerah itu, mulai bekreasi menata tanaman dengan seapik mungkin sehingga bisa menyambut dan menarik minat kunjungan para tamu negara negara persemakmuran atau the group twenty (G-20).

Peluang usaha agro wisata yang dilakukan petani Yoseph Sudir, 38 dan kawan kawan, asal kampung Mbrata desa Macan Tanggar Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat NTT, telah menjadi pusat perhatian masyarakat luas
baik wisatawan maupun warga yang ingin membeli sayur dan buah segar.

Pantauan mediaindonesia.com, Sabtu (27/6) ratusan pengunjung datang ke lokasi usahanya. Mereka membeli berbagai jenis buah sayur mayur sambil swafoto. Lokasi agro wisata itu, ditata dengan apik mulai dari pintu masuk hingga penataan tanaman yang menarik minat pengunjung.

Usaha agoro wisata yang di lakukan Yoseph dengan menanam sejumlah kebutuhan harian, mulai dari sayur, buah buahan berbagai jenis seluas satu hektar lebih ini di ikuti dengan tanaman bunga Marigold yang mampu menyembuhkan
penyakit katarak.

Yoseph Surdi mengatakan usaha yang di gelutinya merupakan persiapan menyambut kunjungan pariwisata premium termasuk penerimaan tamu negara G-20.

"Ini untuk memancing minat wisata agar peserta  G-20 bisa mengisi waktu luang dengan sudut pandang menarik dari usaha tani di daerah ini," ungkap Yoseph kepada mediaindonesia.com, Sabtu (27/6).

Yoseph menyebut, karena Labuan Bajo telah di tetapkan sebagai pariwisata super premium sehingga kesiapan sumberdaya sangat diperlukan. Wisatawan dalam dan luar negeri akan berdatangan ke Manggarai Barat dimana ada Labuan Bajo.

"Kesiapan sumberdaya alam pertanian, untuk menyambut kunjungan wisatawan. Kita melihat peluang pasar agar petani tidak lagi menjual ke pasar tetapi mengajak pembeli membeli sambil menikmati keindahan sistim pertanian," tutur Yoseph.

Dari usaha ini, jelas dia, buah dan sayuran langsung dibeli di tempat oleh pengunjung. Buah-buahannya langsung bisa dimakan di lokasi dan pengunjungn bebas berswafoto di sini.

"Lumanyan meski di tengah pandemi virus korona, kalau sepi jualan bisa dapat Rp2 juta perhari. Kalau musim libur atau di hari minggu bisa mencapai Rp4 juta," sebut Yoseph.

Ditambahkan Yos usaha ini baru enam bulan, pertama kali dan di rasa masih belum cukup karena luas areanya masih kurang, rencananya akan menambah area tanam dengan penataan yang lebih menarik lagi. (OL-13)

 

BERITA TERKAIT