27 June 2020, 08:05 WIB

Penanganan Covid-19 Terkendali


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

APABILA penanganan virus korona baru (covid- 19) dilakukan dengan konsisten, Jakarta akan segera terbebas dari pandemi. Pun penanganan wabah tersebut sudah setara dengan kota-kota maju di dunia.

Hal itu dikemukakan Gubernur DKI Anies Baswedan di sela-sela acara daring bertajuk Gebyar Dzikir dan Doa untuk Keberkahan Jakarta, kemarin.

Ia mengklaim penanganan terkait pandemi korona terkendali.

Menurutnya, positivity rate atau rasio antara jumlah kasus yang terkonfirmasi positif dan total pemeriksaan spesimen covid-19 di Jakarta masih di bawah 5%. “Jakarta alhamdulillah sudah satu bulan ini angka positifnya rata-rata 5%. Bahkan, dua hari ini 3,8%. Artinya, kondisi di Jakarta terkendali,” ujar Anies.

Anies membeberkan angka positif DKI Jakarta saat ini jauh di bawah angka yang berisiko menurut World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia. “Tapi ini belum selesai, tantangannya masih besar. Ke depan, kita perlu lebih disiplin,” tukasnya.

Mantan Mendikbud itu menyebut 67 rumah sakit disiapkan khusus untuk penanganan covid-19 dengan fasilitas 3.500 tempat tidur dan 500 ruang ICU.

Meski penggunaan fasilitasnya baru mencapai 35%, kamar inap diyakini masih cukup memfasilitasi warga yang menjalani perawatan. *“Itu semua adalah benteng pertahanan kita yang alhamdulillah hari ini dan hari-hari kemarin tidak pernah terpakai secara optimal. Paling saat ini hanya sekitar 30%-35%. Artinya, kita kerja makin terasa dampaknya.”

Hingga kemarin, angka kumulatif kasus positif di Jakarta mencapai 10.472 kasus. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan DKI Fify Mulyani mengatakan 5.434 orang dinyatakan telah sembuh dan 631 orang meninggal dunia. Selain itu, sebanyak 1.338 pasien juga masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 3.069 orang melakukan isolasi mandiri.


Masih tinggi

Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia Syahrizal Syarif menuturkan risiko orang tertular covid-19 di Jakarta belum menunjukkan ada penurunan. Ia menyebut risiko orang di DKI terjangkit ialah 106 per 100 ribu penduduk atau sama dengan 1 per 1.000 penduduk.

“Risiko tertular covid-19 di DKI masih tertinggi di Indonesia, sementara orang Jawa Timur hanya 26 per 100 ribu penduduk,” kata dia.

Syahrizal juga mempertanyakan pernyataan Anies tentang angka positivity rate DKI 3,8%. “Jika dihitung dari jumlah positif pemeriksaan dari orang yang diperiksa spesimennya juga sama, sepanjang jumlah ODP dan PDP yang masih menunggu antrean panjang hanya menunjukkan tingkat kapasitas pemeriksaan. Apalagi, kalau angkanya 3,8%, ini jumlah positif dari denominator apa, angka ini kok kecil,” ujarnya.

Ia mengatakan untuk menentukan apakah pandemi covid-19 dikatakan terkendali, tentu bisa dilihat dari kasus harian yang terdata. Bukan semata soal reproduction number (Rt) dan positivity rate.

“Sederhana saja, jika dalam 14 hari masa inkubasi kasus harian yang dilaporkan terus menurun, lalu 28 hari terus turun, namanya terkendali. Angka Rt juga harus konsisten 7 hari, 14 hari-28 hari. Jika 28 hari tidak ada kasus baru yang dilaporkan, wabah bisa dikatakan selesai,” pungkasnya. (Ins/Ssr/J-3)

BERITA TERKAIT