27 June 2020, 06:45 WIB

BNN Selamatkan 1Juta Penduduk dari Narkoba


Gana Buana | Politik dan Hukum

BADAN Narkotika Nasional (BNN) menyampaikan prevalensi penyalahgunaan narkotika terus menurun dari 2011 hingga 2019. Berdasarkan penelitian BNN dan Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI tercatat pada 2011 prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 2,40% atau setara dengan 4.530.000 orang, sedangkan pada 2019 mencapai 1,80% atau setara dengan 3,49 juta orang.

“Dengan demikian kita dapat menyelamatkan sekitar 1 juta jiwa penduduk Indonesia,” ungkap Kepala BNN Komjen Heru Winarko dalam sambutan acara peringatan Hari Antinarkotika Internasional (HANI) yang digelar secara daring bertemakan Hidup 100% di era new normal sadar, sehat, produktif dan bahagia tanpa narkoba, di Jakarta, kemarin.

Heru menerangkan ada sejumlah pendekatan untuk mengatasi peredaran dan penyalahgunaan narkotika tersebut. Ada langkah untuk menekan peredaran atau disebut dengan supply reduction. “Ada pula langkah edukasi serta pendekatan kepada masyarakat agar tidak tergoda untuk menyalahgunakan narkotika atau demand reduction,” lanjut dia.

Heru mengatakan dari sisi supply reduction pihaknya mampu memetakan 98 jaringan narkotika, dengan 27 jaringan di antaranya sindikat berskala internasional. Dari jumlah itu, ada 33 jaringan telah diungkap serta 19 jaringan di antaranya melibatkan warga binaan atau napi di lembaga pemasyarakatan (LP).

Dia mengaku pada 2019 BNN berhasil mengungkap 55 kasus dengan jumlah tersangka 59 orang. Pada masa pandemi covid-19, BNN juga mengungkap 14 jaringan narkotika berskala internasional. “(Peredaran) kebanyakan lewat online, jasa pengiriman, tapi masih ada juga lewat jalur laut,” imbuh Heru.

BNN, kata dia, tidak hanya memotong peredaran narkotika, tapi juga terus menumbuhkan kesadaran di tengah-tengah masyarakat atas bahaya penyalahgunaannya. Dengan demikian, peredaran narkotika dapat ditekan, baik dari sisi suplai maupun dari sisi permintaan.

Selain edukasi masyarakat, pihaknya menggelar pelatihan keterampilan kepada warga binaan atau napi. Dengan demikian, mereka bisa memiliki modal keterampilan tertentu untuk menyokong hidupnya secara ekonomi. “Selain mengajarkan sejumlah keterampilan, BNN juga membantu proses pemasaran produk-produk hasil karya para warga binaan,” pungkas Heru.


Konsisten

Pada kesempatan itu, Wapres Ma’ruf Amin mengatakan pemberantasan dan pencegahan peredaran narkoba bukanlah hal yang mudah lantaran masih tingginya supply (pemasok) dan demand (pengguna) narkoba di dunia. Sehingga diperlukan tindakan pencegahan (preventif) dan konsistensi penegakan hukum untuk memberantas peredarannya.

“Salah satu pemicu peredaran narkoba ialah masih tingginya supply dan demand. Karena itu, upaya preventif melalui strategi demand reduction (pemutusan mata rantai pengguna) dan upaya penegakkan hukum sebagai strategi supply reduction (pemutusan jaringan sindikat narkotika), harus terus dilakukan secara konsisten,” tegas Ma’ruf saat memberikan sambutan pada peresmian pembukaan Puncak Peringatan HANI 2020 melalui video conference di kediaman resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, kemarin.

MI/ANDRI WIDIYANTO

Wapres Ma’ruf Amin saat memberikan sambutan pada peresmian pembukaan Puncak Peringatan HANI 2020 melalui video conference.

 

Wapres melanjutkan unsur penting lainnya untuk mencapai keberhasilan dalam memberantas narkotika ialah kerja sama dari semua pihak, baik pemerintah maupun lembaga internasional.

“Narkotika merupakan kejahatan lintas batas negara dan kejahatan luar biasa. Jadi, penanganannya harus melibatkan seluruh unsur masyarakat. Kerja sama internasional sangat diperlukan untuk memutus mata rantai peredaran narkotika,” tutup Wapres. (Gan/S3-25)

BERITA TERKAIT