27 June 2020, 01:45 WIB

Sel Punca buat Sembuhkan Korona


MI | Humaniora

RISET mengenai pengobatan yang tepat untuk mengatasi virus SARS-CoV-2 menjadi salah satu prioritas dalam penanganan pandemi covid-19. Salah satu terapi yang akan diteliti ialah penggunaan stem cell atau sel punca yang diambil dari sel tali pusat.

Proposal penelitian sel punca tersebut diajukan dokter spesialis paru Universitas Indonesia Erlina Burhan yang berjudul Penggunaan Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cell sebagai terapi pasien Covid-19. Proposal ini mendapatkan pendanaan senilai Rp1,9 miliar dari Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

Erlina menjelaskan, penelitian ini membahas tentang terapi pada pasien covid-19 menggunakan stem cell atau sel punca yang diambil dari sel tali pusat. Terapi ini diharapkan dapat membantu menyembuhkan pasien covid-19 dalam kondisi kritis.

“Sel punca ini ditambahkan pada obat-obat yang standar diberikan bagi pasien yang kritis, yang sudah masuk ke ventilator. Kalau dengan obat-obatan yang biasa kita berikan tidak mengalami respons, kita tambahkan stem cell,” kata Erlina kepada Media Indonesia, Senin (22/6).

Fakultas Kesehatan UI, lanjut Erlina, bekerja sama dengan RSCM, RS Persahabatan, dan RS UI mereproduksi sel punca tali pusat ini agar dapat disuntikkan kepada pasien covid-19. Tujuannya, mencegah terjadinya badai sitokin pada tubuh pasien sehingga kondisinya tidak semakin kritis.

Seperti diketahui, pada pasien covid-19, sistem imun memproduksi faktor inflamasi dalam jumlah besar yang menyebabkan badai sitokin, termasuk produksi berlebihan dari sel imun dan sitokin. Kondisi ini dapat membahayakan keselamatan pasien.

“Setelah stem cell disuntikkan, selsel proinflamasi yang menimbulkan radang kita ubah menjadi sel-sel yang antiinflamasi sehingga kita berusaha memperbaiki atau mencegah badai sitokin. Dengan demikian, diharapkan terjadi perbaikan pada pasien,” tuturnya.

Selain mencegah badai sitokin, terapi ini juga disebut mampu menyebabkan perbaikan endogen oleh sifat reparatif dari stem cell dengan memperbaiki lingkungan mikro paru, melindungi sel epitel elveolar, mencegah fibrosis paru, dan meningkatkan fungsi paru.

Dalam pelaksanaan terapi, sel punca akan disuntikkan kepada pasien sebanyak satu kali sehari dengan dosis yang berbeda-beda sesuai dengan berat badan pasien. Jika berat badan pasien mencapai 60 kg, dibutuhkan sebanyak 60 juta sel. Harga 1 sel punca mencapai Rp2,2, jika dikalikan, dibutuhkan Rp132 juta untuk setiap pasien/suntik.

“Itulah kenapa penelitian ini cukup mahal karena pembuat stem cell-nya itu. Tapi kalau ini hasilnya bagus akan dibuat seperti bank cell. Jadi, doakan semoga berhasil,” tandasnya. (Atikah Ishmah/H-3)

 

BERITA TERKAIT