27 June 2020, 01:15 WIB

Paludikultur Digadang untuk Restorasi Gambut


Ferdian Ananda M | Humaniora

PERAN strategis paludikultur di lahan gambut menjadi sebuah pilihan menjanjikan untuk perbaikan dan restorasi gambut sekaligus berkorelasi positif pada reduksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menguatkan ketahanan pangan nasional, mitigasi iklim, dan menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar.

Demikian disampaikan dalam webinar Paludikultur di Tengah Pandemi Covid-19 dan Menjelang Musim Kemarau 2020 yang menghadirkan Wakil Menteri LHK Alue Dohong sebagai pembicara kunci pada Kamis (25/6).

Paludikultur sebagai sebuah konsep budi daya tanaman di lahan gambut tergenang memiliki implikasi positif pada keberlanjutan lahan gambut, salah satunya pada pengendalian karhutla.

“Paludikultur dapat mereduksi karhutla karena mensyaratkan kondisi lahan yang tetap basah dan lembap. Lahan gambut yang basah ini akan mencegah gambut mudah terbakar akibat kekeringan pada musim kemarau,” kata Wamen Alue Dohong. Selain itu, gambut yang tidak terbakar juga akan mengurangi pelepasan gas rumah kaca sehingga menjadi salah satu pendorong upaya mitigasi perubahan iklim.

Paludikultur disebut Alue dapat menjadi sebuah peluang untuk mendukung ketahanan pangan nasional karena banyak jenis tanaman paludikultur yang bisa menjadi sumber pangan. Saat ini, telah tercatat sekitar 534 jenis spesies tanaman endemik lahan gambut, antara lain sagu, ramin, jelutung, belangiran, dan gelam.

Alue mengatakan pemerintah juga sedang menggodok kebijakan pengembangan food estate di lahan eks pengembangan lahan gambut (PLG) 1 juta hektare di Kalimantan Tengah.

“Jadi tidak benar jika ada anggapan bahwa seluruh kawasan eks PLG akan dibuka kembali seluruhnya la han sawah karena pemerintah paham dan mengerti bahwa gambut-gambut dalam tidak akan cocok untuk tanam padi, melainkan akan dipulihkan dan dikonservasi,” tegasnya.


Degradasi lahan

Dalam peringatan World Day to Combat Desertifi cation and Drought (WDCD) atau Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Dunia 2020, Alue Dohong menekankan upaya mengubah sikap dan perilaku publik diharapkan menjadi pendorong dalam pencegahan degradasi lahan.

Pemerintah, terang Alue, memberikan perhatian serius terhadap masalah degradasi hutan dan lahan dengan menurunkan laju deforestasi serta meningkatkan program pemulihan hutan dan lahan. Percepatan rehabilitasi serta reklamasi lahan dan hutan menjadi salah satu prioritas
pembangunan.

“Keterpaduan sistem pengelolaan lahan dan hutan yang berorientasi pada kelestarian melalui pola-pola agroforestry merupakan keniscayaan untuk mengatasi kebutuhan pangan, pakan, dan serat tanpa harus mengorbankan kepentingan perlindungan lingkungan,” terang Alue, kemarin.

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (PDASHL) Hudoyo menyampaikan pihaknya telah melakukan langkahlangkah koreksi, khususnya di Ditjen PDASHL melalui rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). “Selain melakukan RHL secara intensif, kami juga melaksanakan agroforestry dan upaya lain,” jelas Hudoyo. (Fer/RO/H-3)
 

BERITA TERKAIT