26 June 2020, 15:31 WIB

Ini Kronologi Prajurit TNI Gugur di Kongo


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

PRAJURIT TNI tergabung dalam pasukan pemelihara perdamaian Indonesia meninggal dunia saat bertugas di Misi MONUSCO, Republik Demokratik Kongo, Sersan Mayor Rama Wahyudi. 

Saat kejadian, almarhum yang menjabat sebagai Komandan Tim bersama 11 prajurit TNI lainnya tengah menjalankan tugas pembangunan jembatan di Halulu namun saat pulang diserangan kelompok bersenjata terkenal di timur negara dan Uganda.

"Sersan Mayor Rama Wahyudi ketika terkena serangan (milisi Uganda) itu tidak bisa melarikan diri akibat sudah kena luka tembak," kata Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) Mayor Jenderal TNI Victor Hasudungan Simatupang saat memberikan keterangan resmi di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Jumat (26/6).

Menurut dia, kejadian itu bermula pada Senin (22/6) Juni 2020 pukul 08:10 waktu setempat Sersan Mayor Rama Wahyudi sebagai Dantim melaksanakan tugas pergeseran pasukan dan dukungan logistik wilayah di Halulu, Kongo. Perjalanan lebih kurang memakan waktu tiga jam, mereka sampai di tempat dalam keadaan aman.

Sersan Mayor Rama Wahyudi bersama 11 Anggota TNI menjalankan menjalankan tugas pengiriman logistik dan sejumlah perbaikan bersama dua orang prajurit perdamaian asal Malawi. Hingga pukul 13:00 waktu setempat pasukan melakukan tugasnya di Halulu hingga pukul 16.00 waktu setempat, mereka kembali ke Mavivi.

"Saat perjalanan pulang dari Halulu ke Mavivi lebih kurang pukul 15.45 waktu setempat. Mereka ditembus oleh milisi dari Uganda yang masuk ke wilayah Kongo," lanjut dia.

Serangan milisi Uganda itu, kata dia, membuat Sersan Mayor Rama Wahyudi mengalami luka tembak di bagian dada dan perut. Kemudian seluruh prajurit pada saat terjadi serangan itu semuanya melarikan diri dengan turun dari kendaraan turun dan berlindung ke roda truk. Mereka merayap ke belakang menuju kendaraan APC yang digunakan pasukan pengawal bersama-sama dengan dua personel tentara Malawi.

Baca juga: Satgas TNI RDB Berhasil Damaikan Pertikaian 3 Suku Desa di Kongo

Tentara malawi bisa menggunakan bahasa lokal untuk bisa berlindung masuk ke APC. Kalau mereka menggunakan bahasa Inggris kemungkinan tidak dibuka. Setelah seluruhnya masuk dan berhitung ternyata Sersan Mayor Rama Wahyudi tidak ada.

"Anggota kita di dalam APC berteriak untuk minta Dantimnya dijemput. Dalam waktu 10 menit Sersan Mayor Rama Wahyudi sudah tidak sadarkan diri kemudian milisi merampok seluruh perlengkapan perorangan mulai dari senjatanya kemudian jaket, helm dan lainnya diambil semuanya oleh milisi Uganda," paparnya.

Setelah itu, lanjut dia, almarhum kemudian dibawa ke rumah sakit serempat untuk selanjutnya diproses pemulasaraan jenazah dan pada 2 Juli dijadwalkan akan dipulangkan ke Indonesia. 

"Sedangkan satu prajurit TNI lainnya dalam kejadian itu yakni Pratu Syafii Makbul juga mengalami luka-luka. Helmnya kena serpihan tembakan kemudian laporan terakhir di jidatnya terkena serpihan kaca yang tembus dari kaca depan kendaraan truk logistik yang saat itu digunakan," pungkasnya.

Dewan Keamanan PBB telah mengutuk keras serangan kepada MONUSCO dan meminta otoritas Kongo untuk melakukan investigasi dan membawa pelakunya ke meja pengadilan.

Dalam sebuah pernyataan, Kepala MONUSCO Leila Zerrougui mengutuk serangan itu, yang katanya dilakukan oleh anggota ADF yakni Pasukan Sekutu Demokrat, sebuah kelompok bersenjata terkenal di timur negara tersebut. (A-2)

BERITA TERKAIT