26 June 2020, 14:20 WIB

Survivor LDM Jaga Kewarasan di Masa Pandemi


Henri Siagian | Humaniora

PANDEMI virus korona atau covid-19 menyebabkan pasangan long distance marriage (LDM) harus semakin berjarak. Beragam media berbasis teknologi tetap tidak bisa menggantikan interaksi fisik.

LDM survivor Siti Retno Wulandari dan Beatrix Budhiadhi membagikan kisah mereka menjalin hubungan jarak jauh. Psikolog Relasi Rebeka Pinaima juga membagikan tips dalam mengatasi persoalan hubungan jarak jauh tersebut di program Nunggu Sunset yang dipandu jurnalis Media Indonesia Astri Novaria di Instagram @mediaindonesia, Kamis (25/6).

Baca juga: Membagi Waktu Jadi Fotografer sekaligus Anak Band

Siti Retno Wulandari atau yang kerap disapa Wulan mengaku telah menjalin hubungan jarak jauh sebelum menikah. Akan tetapi, Wulan mengaku ada perbedaan.

"Kalau masih pacaran sudah long distance relationship (LDR). Tapi setelah menikah dan punya anak, jadi semakin banyak yang harus dipikirkan, khususnya soal tumbuh kembang anak. Kalau dalam kondisi normal, mengurus anak sendiri sih oke-oke saja. Tapi pas ada covid-19, khawatirnya jadi makin banyak," kata Wulan.

Ditambah, lanjut Wulan, anak kedua mereka lahir di awal pandemi covid-19 di Tanah Air. Setelah itu, sang suami yang harus bekerja di luar Pulau Jawa juga tidak bisa pulang ke Jakarta seiring kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Baca juga: Urusan BNN sampai Soal Breeding Anjing

Di masa PSBB, lanjut Wulan, komunikasi virtual menjadi andalan. "Sebelum ada covid-19 memang sudah seperti itu. Semenjak ada covid-19, karena kita tahu enggak bakal bisa bersama-sama dalam waktu dekat, jadi makin intens telepon. Bisa tiap satu jam teleponan. Apalagi, saat ini ada bayi newborn," ungkapnya.

Sebelum pandemi covid-19, sang suami bisa pulang ke Jakarta sekitar sekali dalam sebulan. Dan sejak pandemi mewabah, sang suami juga sudah tidak bisa rutin pulang ke rumah mereka.

Anak pertama mereka, lanjut Wulan, mulai terpengaruh. "Pas awal-awal, anak kami bisa mengerti. Tapi sejak bulan ketiga tidak pulang, mulai nangis terus dan menanyakan bapaknya. 'Kenapa bapak enggak bisa pulang padahal korona kan sudah enggak ada'," kata Wulan menirukan ucapan anaknya.

Dan pekan silam, sang suami akhirnya bisa pulang ke rumah. "Kita khawatir kesempatan untuk bisa pulang akan lama lagi makanya akhirnya kita putusin untuk pulang dulu. Sesampai di rumah, langsung disemprot disinfektan, mandi, baju dicuci disinfektan. Dia juga khawatir untuk memegang anak. Dia bisa mencium anak kami juga setelah empat hari di rumah," ungkapnya.

Wulan mengakui sempat mengalami postpartum depression. Di saat harus mengurus dua anak, komunikasi dengan suami juga dirasakan agak terbatas. "Jadi punya pikiran macam-maca. Sempat malas komunikasi dengan pasangan. Akhirnya pasangan mengerti dan mulai mencoba ikut mengasuh anak meski tidak bisa hadir. Dan di saat dia pulang, dia juga ikut mengasuh. Saya juga banyak sharing ke teman-teman supaya tetap waras," kata Wulan.

Baca juga: Kepala BNN Tegas Tolak Legalisasi Ganja. Ini Alasannya

Adapun Beatrix Budhiadhi yang berdomisili di Bali saat ini sedang hamil di saat sang suami menimba pendidikan doktoral di Australia. Dia dan pasangannya juga sudah menjalin LDR semasa berpacaran.

Dia dan pasangannya terakhir bertemu pada Februari. Saat itu, dirinya harus menjalani perawatan di rumah sakit. "Itu momen terakhir bertemu sebelum penutupan penerbangan di Darwin," kata dia.

Yang jadi persoalan, lanjut Beatrix, sang suami kemungkinan besar tidak bisa mendampingi persalinan pada September. Pasalnya, Darwin kemungkinan menutup perbatasan mereka hingga tahun depan. "Sulit berharap suami bisa ke sini," kata dia.

Akhirnya, dia pun banyak mengisi kegiatan dengan mendatangi lokasi wisata dan pantai di Bali. "Yang bisa bikin hepi dan tidak bikin stres," katanya.

Kondisi pandemi virus korona, lanjut dia, membuat orang lebih menghargai waktu. "Never take anything for granted. Seperti anggapan bisa bertemu pasangan setiap waktu. Buat sebagian orang memang mudah tapi bagi saya, bisa bertemu pasangan itu sangat berarti. Saat ada pasangan di samping, disayang-sayang dan jangan sia-siakan. Waktu untuk melakukan segala sesuatu dengan pasangan adalah sangat berharga," kata dia.

Rebeka Pinaima mengungkapkan, LDM di pandemi covid-19 berpeluang menambah tingkat kecemasan. "Mayoritas berawal dari komunikasi dan persoalan kepercayaan," ujar dia.

Dia menambahkan, pandemi korona membuat akses komunikasi pasangan LDM semakin terbatas. "Padahal biasanya struggle bisa di-share berdua dengan pasangan. Kenapa sekarang jadi terasa single?" ucapnya.

Selain itu, ada perbedaan ekspektasi dengan pasangan.

"Karena sudah lama tinggal bareng menganggap pasangan otomatis tahu apa mau pasangannya. Tapi itu untuk pasangan untuk yang beruntung. Sehingga, harus ada komunikasi terkait ekspektasi. Sebab, pasangan itu bukan dukun yang bisa baca pikiran orang. Misalnya, harus sampaikan kalau kita merasa perlu waktu lebih untuk ngobrol atau video call-an," kata dia.

Dan dalam berkomunikasi, sambung dia, harus tetap melihat cara dan waktu. "Apalagi kalau LDM yang ada masalah time zone. Yang satu belum selesai kerja, tapi pasangannya ingin dengar cerita. Timing komunikasi harus di saat pasangan dalam keadaan nyaman. Jika tidak, akan jadi gangguan atau kalau makin menjurus memunculkan perasaan sebal ke pasangan," ucap dia. (X-15)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Media Indonesia (@mediaindonesia) on

 

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT