26 June 2020, 07:55 WIB

Menjaga Generasi agar Hidup 100%


Dero Iqbal Mahendra | WAWANCARA

HARI Antinarkotika Internasional (HANI) diperingati setiap 26 Juni. Bagi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Heru Winarko, HANI merupakan suatu bentuk peringatan atas keprihatinan negara terkait penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba).

Pengguna narkoba sebagian besar ialah generasi muda yang sangat penting bagi masa depan Indonesia. Sementara itu, pada 2035, generasi masa depan ini akan menghadapi bonus demografi yang diharapkan mampu membawa Indonesia berada di posisi tiga atau empat besar ekonomi dunia.

Karena itu, pada peringatan HANI kali ini, BNN mengusung tagline baru ‘Hidup 100%’, yaitu hidup tanpa narkoba, tanpa covid-19, tanpa radikalisme dan korupsi.

Tagline ‘Hidup 100%’ diharapkan merupakan hidup manusia Indonesia seutuhnya.

Terkait hal itu, Media Indonesia mewawancarai Komjen Pol Heru Winarko untuk mengetahui berbagai hal tentang penanganan narkoba. Berikut petikannya:


Sejak menerima tongkat estafet kepemimpinan dari Pak Budi Waseso pada 2018, tantangan apa yang Anda hadapi sebagai kepala BNN?

Ketika saya dilantik menjadi kepala BNN ada arahan Presiden yang saya pegang, yakni mengurangi suplay (narkoba) dan mengurangi demand serta terkait rehabilitasi. Saya juga diminta membawa budaya dari instansi saya yang lama, yakni KPK ke BNN.

Waktu awal dilantik saya menyampaikan, saya akan melakukan pengembangan koordinasi, penguatan, pemberdayaan di dalam BNN antarkedeputian. Ada banyak irisan-irisan yang harus difokuskan, begitu juga dengan instansi lain dan juga dengan negara lain.

Ketika awal menjabat, saya ajukan ke Presiden untuk mengeluarkan instruksi presiden tentang memberdayakan semua kementerian, pemerintah daerah agar melaksanakan P4GN (pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika).

Saya melihat masalah narkoba tidak bisa ditangani secara parsial, tetapi harus ditangani secara komprehensif, integral, dan memberdayakan semua pihak.


Apa langkah untuk mencapai hal tersebut?

Ketika saya masuk (BNN), semua kedeputian saya berdayakan. Dengan pemberdayaan inpres yang kami usulkan tersebut, kita mapping kurang lebih 654 daerah rawan narkoba.

Itu menjadi fokus untuk capasity building. Kita fokuskan dengan program Desa Bersinar agar daerah rawan menjadi daerah bersih narkoba.

Kami pun mengajak kementerian dengan Inpres No 6 Tahun 2018 pada periode pertama Presiden Jokowi. Inpres ini kita berdayakan untuk bekerja sama dengan BUMN. Dengan lebih kurang 21 tempat yang rawan narkoba menjadi binaan dengan CSR sejumlah BUMN, seperti BRI, Pertamina, Angkasa Pura yang difokuskan di wilayahwilayah rawan narkoba. Kami latih dan bina masyarakat sekitarnya untuk capasity building.

Untuk pemberantasan, kami tingkatkan kerja sama dengan berbagai negara karena kita tahu sumber narkoba ada tiga tempat, dengan yang paling banyak adalah golden triangle.


Apa saja yang telah menjadi capaian BNN selama dua tahun terakhir ini?

Kelebihan di BNN ini dalam penanganan narkotika kami tidak parsial, tetapi semuanya berjalan. Selain itu, kementerian-kementerian pun ikut kami ajak.

Alhamdulilah dari 2011 hingga 2019, jumlah pengguna dari sekitar 4,5 juta sekarang menurun hingga 3,5 juta. Hampir 1 juta pengguna narkotika di Indonesia secara bersama kami turunkan.

Fokus kami menjaga generasi muda. Memang kebanyakan pengguna ini masih para pekerja. Untuk itu kami sangat menjaga agar dan berupaya menurunkan angka penggunanya.

Untuk sisi demand daerah rawan narkoba kami lakukan operasi. Namun, bukan hanya operasi penindakan semata, melainkan dibarengi dengan rehabilitasi, pencegahan, hingga pelatihan pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, di era saya, kami memperkuat Tim Asesmen Terpadu (TAT) karena asesmen ini penting untuk membedakan mana pengguna, mana pengedar, dan mana bandar narkoba. Di lapas itu separuhnya narkoba, ada 130 ribu orang yang narkoba dan 40 ribu lebih pengguna. Ini yang kami coba asesmen.

Pengguna-pengguna ini menurut pendapat saya tidak perlu ditahan, tetapi bisa dilakukan rehabilitasi atau sanksi lainnya. Sementara itu yang perlu diproses dan ditindak tegas adalah bandar dan pengedar.

Kami kerja sama dengan UNIC juga untuk pelatihan dengan penyidik, jaksa, serta hakim dari 2018. Alhamdulilah sudah mulai terlihat adanya arah keputusan yang mendorong ke rehabilitasi bagi pengguna.

Ini salah satu upaya kami untuk menyamakan persepsi karena kita tidak bisa menyalahkan kalau penegak hukum menangkap orang, nafsu untuk memasukkan ke penjara.

Kami pun sudah mampu mengembangkan sendiri Unit Deteksi K9 sehingga tidak perlu impor lagi. Kemampuan lab kita juga sudah meningkat, bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis narkotiknya, tetapi mampu melacak asal dari narkotik tersebut. Narkoba itu seperti kopi, ada standar signature-nya.


Ke depannya apa yang ingin BNN capai untuk pemberantasan narkoba?

Untuk prestasi memang saya jarang mengekspos, terus terang banyak dari instansi datang ke sini terkaget-kaget.

Karena saya berusaha mengubah IT kita, saya punya mimpi mudah-mudahan bisa terpenuhi, BNN menjadi big data bagi law firm (penegakan hukum) seperti di Amerika.

Sekarang kami sudah ada posko untuk monitor terkait hal tersebut, misalnya, datadata perhubungan udara maupun laut, hingga Bea Cukai. Datanya kita bisa tahu kapal maupun pesawat yang masuk ke Indonesia, termasuk manifestnya.

Saya punya mimpi bukan hanya itu tetapi juga data dari kepolisian, KPK, dan lainnya terkumpul menjadi big data di sini. Saya yakin narkoba bisa turun kalau semua sepakat dan ego-ego yang ada hilang, karena narkoba musuh bersama.


Apa yang menjadi concern bagi BNN untuk saat ini?

Sekarang yang sedang kita fokus terkait dengan pengawasan prekursor. Ini agak berat memang dan kami sudah mulai. Dari awal kami tidak pernah melaporkan ke CND (Convention of Narcotics Drug).

Namun kita mulai melaporkan dengan International Narcotics Control Board (INCB), yang mana ada 990 new psychoactive substances/NPS jenis baru saat ini dan di Indonesia ada 77 jenis NPS baru.

Narkoba itu bukan hanya sabu dan ganja, melainkan yang perlu diperhatikan ini juga NPS ini.

Saat ini, kita mulai membangun sistemnya dan telah disepakati BNN menjadi leading untuk pengawasan NPS ini dengan Balai POM, Bea Cukai, kepolisian, perdagangan, kesehatan, dan lainnya.

Ini termasuk berbahaya karena bisa home industry dengan kapasitas 2,5 juta butir per hari dan mereka menargetkan anak muda.

Saya ingin pengawasan prekursor ini seperti pengawasan bahan peledak dari masuk hingga ke end user.

Hampir 80% barang obat di Indonesia impor semua. Karena itu, kami ingin tahu berapa yang diimpor farmasi besar dan berapa kebutuhannya. Ini perlu kita awasi sehingga end user-nya bisa ketahui.

Ini kita bicara soal kepercayaan, bagaimana kita mengajak kepolisian, Bea Cukai, hingga lapas untuk bergerak bersama.


Salah satu menjadi sorotan dan harapan Presiden Jokowi pada BNN ialah upaya pencegahan narkoba di masyarakat dari Sabang sampai Merauke karena banyak titik rawan peredaran terutama di garis-garis perbatasan antarnegara. Bagaimana tanggapan Anda?

Garis pantai sudah kita kerja sama dengan UNIC dan kita adakan border management. Kita latihan bersama di Mota’Ain yang berbatasan dengan Timor Leste.

Kita tahu Timor Leste sekarang termasuk menjadi tempat pijakan karena di sana perundangan narkobanya seperti Iran 80 tahun lalu dan masih menggunakan UU narkoba era saat masih dengan Indonesia sehingga narkotika seperti ekstasi dan sabu belum ada aturannya.

Penanganan narkoba bukan hanya soal pecegahan, rehabilitasi, atau pemberantasan tetapi terpadu.

Kami mengajak negara-negara lain di ASEAN hingga Australia dan negara lainnya untuk ikut bergerak. Kita tingkatkan kerja sama dengan berbagai negara, karena kita tahu sumber narkoba ada tiga tempat, dengan yang paling banyak adalah golden triangle di wilayah utara Indonesia.

Kita kerja sama dengan Malaysia, Thailand, Birma, Laos dan lainnya. Strategi kita adalah defence aktif, jadi kita menguatkan kerja sama di luar sehingga dapat melakukan penangkapan di luar.

Misalnya seperti beberapa minggu yang lalu di Birma, di daerah tempat sumber narkoba. Kami bisa menangkap hingga 14 ton methamefamin (sabu). Kami sering koordinasi dengan mereka, termasuk juga di Malaysia. *Untuk dalam negeri kami kerja sama dengan Bea Cukai, kepolisian. Dengan kepolisian kami dekat sekali karena kebanyakan yang di lapangan dari kepolisian.

Akhir tahun lalu kami operasi bersama dengan Mabes Polri, Bea cukai dan mendapatkan 2 ton, yang kemudian pengembangannya dilakukan oleh pihak Kepolisian. *Tipikal saya memang tidak terlalu banyak mengerjakan sendiri, tetapi saya ajak semuanya. Kalau ada keberhasilan itu merupakan keberhasilan bersama. Narkoba kalau dibuat sekat-sekat yang senang itu bandar.

Memang sekarang kalau dilihat banyak penangkapan dilakukan polisi karena terus terang, banyak SDM kami yang berprestasi pada masa (Kepala BNN) Pak Budi Waseso, kami berikan reward di sekolahkan lagi dan kemudian kembali ke Kepolisian.

Namun tidak masalah yang baru pun akan kami latih kembali. Yang terpenting di manapun mereka sama tujuannya memberantas narkoba, mau itu di Kepolisian maupun di Bea Cukai sama saja. Selain itu tentu akan memudahkan koordinasi nantinya dalam penanganan narkoba.

BNN juga telah melakukan pelatihan bersama dalam International Narcotic Centre Of Excelent. Tahun lalu kita adakan dua angkatan, angkatan pertama ada tujuh negara dan yang kedua ada sembilan negara. Negara-negaranya antara lain seperti Malaysia, Brunai, Thailand, Fhilipina, Srilangka, Arab Saudi.

Terakhir, ada negara yang mengirimkan petugas lapangannya untuk latihan di kita dari Kolombia. Kita juga mengirim anggota kita untuk pelatihan di Kolombia, sehingga kita sharing informasi.

Itu selain tujuannya untuk meningkatkan kemampuan anggota di lapangan, dan bukan hanya BNN, melainkan juga dari kepolisian, Bea cukai, kejaksaan, kita sama-sama 30 orang melakukan pelatihan selama dua minggu .


Apakah covid-19 berpengaruh pada permintaan narkoba dari masyarakat selama pandemi covid-19?

Selama covid-19 pun cukup banyak, tetapi mereka memesan via online. Kita sudah ungkap cukup banyak.

Memang kendala dan dinamikanya banyak selama covid, dan saya sudah prediksi larinya pasti akan melalui online.

Begitu juga dengan tempat hiburan tutup larinya akan ke rumah-rumah. Kami terus pantau dan saat ini mereka sedang agak kesusahan mendapatkan barang.

Nah, kami menurunkan tim pencegahan dan rehabilitasi karena pengguna narkoba kalau amfetamin tidak begitu berat, yang berat itu heroin yang butuh barang secara konstan agar tidak sakaw.

Selain itu, kami juga memantau mantan pengguna heroin, khususnya yang suntik. Karena pasokan berkurang akhirnya mereka menggunakan apa saja, kita sebut ‘nano-nano’. Ini paling bahaya karena banyak menimbulkan kematian.


Dari berbagai program pencegahan BNN, apa saja yang jadi prioritas?

Pencegahan itu salah satu aspek penting. Bahkan saat saya dulu di KPK meski ada penindakan OTT(operasi tangkap tangan) langsung diiringi dengan tim pencegahan untuk memperbaiki sistem yang ada.

Metode yang sama akan kita terapkan di narkoba juga. Salah satu program pencegahan utama yang dilakukan BNN adalah pemberdayaan masyarakat.

Sekarang paling banyak di Indonesia hingga 65% itu ganja. Ini juga untuk penanganan ini kita ada program khusus, yakni alternative development yang melanjutkan program kepemimpinan sebelumnya dengan penyempurnaan.

Misalnya di Bireun Aceh, yang sebelumnya lahan ganja diubah menjadi lahan kopi. Sekarang juga memproduksi jagung. Dua bulan lalu panen raya hingga 12 ribu hektare. Jagung ini nantinya akan diolah menjadi pakan ternak.

Sekarang akan disiapkan 50 ribu hektare dari lahan bekas ladang ganja yang akan di transformasikan. Ini pun sekaligus untuk memberdayakan masyarakat Aceh agar tidak menanam ganja sebagai mata pencaharian.

Kami kemudian kerja sama dengan kampus swakelola dengan menggandeng Japfa (produsen pakan ternak) yang memberikan pelatihan ternak ayam dari yang modern hingga yang konvensional sehingga masyarakat Aceh bisa ikut pelatihan di sana.

Kami pun mengajak pemda aceh. Kalau ini tidak segera diperbaiki bukan hanya berbahaya bagi wilayah lain, melainkan orang Aceh pun dapat terkena penyalahgunaan ganja.

Kami juga ada program pemberdayaan masyarakat untuk wilayah kawasan rawan narkoba, yakni dengan memberikan pelatihan dan capacity building kepada masyarakat untuk membuat kerajinan maupun produk makanan.

Nantinya, prodak-produk tersebut akan dipasarkan secara online melaui platform digital kita, tokostopnarkoba.com. Dengan membeli produk tersebut selain mendapatkan produk unik dengan kualitas yang baik sekaligus berkontribusi untuk pencegahan penyebaran narkoba.

Nantinya, pun kami akan bekerja sama juga dengan Kementerian koperasi dan usaha kecil dan menengah. Kami nanti akan membuat koperasi simpan pinjam sehingga bila diperlukan modal bisa disalurkan dari kita.


Bagaimana harapan Anda terhadap masyarakat khususnya generasi muda dalam upaya membantu pencegahan peredaran narkoba di masyarakat?

Pencegahan yang sudah baik dari masa Pak Budi Waseso, saya tambah targetnya. Dengan generasi muda, seperti milenial kami berdayakan dengan adanya media sosial center saya berdayakan dan kuatkan.

Kita pun menerima masukan dari generasi milenial itu sendiri yang kemudian membentuk REAN (ruang edukasi antinarkotika), yang mana mereka sendiri membuat konten bloger-bloger yang kemudian kita kembangkan untuk menjadi tempat mereka meningkatkan kreativitas.

Saya melihat untuk meningkatkan kreativitas dan memberdayakan generasi muda tempatnya agak terbatas. Perlu kita buka itu (ruang) agar mereka bisa latihan melalui dunia maya.

Fokus kami menjaga generasi muda, memang kebanyakan pengguna ini masih para pekerja. Untuk itu kita sangat menjaga agar tidak ke generasi muda dan berupaya menurunkan angka penggunanya.

Untuk generasi muda misalnya melalui media sosial, kita intercept mereka, dan mempengaruhi mereka agar tidak menggunakan narkotika. Kami pun banyak sharing dengan teman-teman (BNN) dari Tiongkok.

Mereka mampu memengaruhi mindset generasi mudanya melalui aplikasi we chat dari Ali Baba, yang meng-intercept generasi mudanya dengan berbagai konten positif dan menjauhkan dari bahaya narkoba.

Ini yang kita coba lakukan juga di Indonesia dengan menggunakan media sosial.


Pada 26 Juni mendatang, dunia akan memperingati Hari Antinarkotika Internasional (HANI). Terkait hal itu, tema apakah yang akan diangkat BNN pada HANI 2020 kali ini?

HANI sebetulnya bukan perayaan, melainkan hari keprihatinan. Terus terang saja, 65% narkoba Indonesia adalah ganja, dunia sekarang sedang berusaha melegalkan untuk pengobatan.

Saya termasuk yang paling keras menyuarakan di forum dunia untuk tetap memasukkan ganja ke golongan 1 narkoba sebab mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya.

Kita ingin mencapai bonus demografi, sedangkan ganja itu mengandung tetrahidrokanabinol (TAC) kalau di rokok dikenal nikotin. Ganja memang tidak langsung mematikan, melainkan menyerang ke otak dan membuat otak mengeras.

Negara-negara yang melegalkan ganja pun sebetulnya banyak yang mengeluh juga karena generasi mudanya lebih senang mengisap ganja dibandingkan kegiatan produktif. Ganja itu akan membuat produktivitas jauh berkurang.

Ada yang mungkin bilang kan bisa diekspor, mungkin bisa karena yang memakai bukan orang Indonesia. Namun bisa jadi nantinya masuk ke Indonesia bentuknya sudah sintesis dan itu jauh lebih berbahaya.

Tugas saya bagaimana bonus demografi ini tetap terjaga. Harapan kita tentu sama bahwa generasi berikutnya dapat sehat dan berprestasi.

Untuk itu saya akan membuka tag line baru ‘Hidup 100’, hidup tanpa narkoba, tanpa covid, tanpa radikalisme dan korupsi’.


Sejauh mana persiapan kegiatan HANI 2020 dan apa saja yang akan dilakukan pada peringatan nanti?

Persiapan HANI sudah berjalan 100% saat ini, tidak ada masalah. Presiden insya Allah akan hadir dan akan ada beberapa reward nantinya. Kita harapan Presiden berkenan (hadir) saat acara HANI dan konser Slank nantinya.

Nantinya kita akan melakukan kegiatan kepedulian covid-19 dengan mengadakan Konser Slank. Contohnya, saat show kepeduliannya Didi Kempot yang mengajak ‘di rumah aja’. Nah sekarang ini saya mau mencoba untuk new normal, bagaimana menjalani new normal.

Nanti, akan ada donasi, diharapkan akan ada bayak donasi yang nantinya diberikan ke satgas covid-19.


Salah satu tujuan HANI kali ini adalah generasi muda, dan Anda mengusung tagline baru Hidup 100%, apa maksudnya?

‘Hidup 100%’, hidup tanpa narkoba, tanpa covid, tanpa radikalisme dan korupsi. Hidup 100% itu merupakan hidup manusia Indonesia seutuhnya.

Fokus saya adalah bagaimana membuat generasi muda kita itu sehat dari semuanya dan bisa menjadi bonus demografi berhasil. Sebab bonus demografi itu tidak semua negara punya.

Indonesia akan mengalami bonus demografi pada 2035, yakni jumlah angkatan kerja produktif lebih banyak ketimbang yang tidak produktif. Kita bisa menjadi tiga atau empat besar ekonomi dunia.

Ini bisa kita capai dengan catatan, usia yang menjalankan adalah usia 10-30 tahun saat ini. Nantinya usia mereka di 2035 akan kisaran 40-50 tahun yang sangat produktif, dengan catatan mereka tidak kena narkoba, tidak terpapar radikalisme, tidak korupsi.

Pada event HANI nanti kami akan undang Pak Doni Monardo (Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19), Pak Firli Bahuri (Ketua KPK), serta Kepala BNPT (Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Irjen Boy Rafly Amar). Kita akan sama-sama memblast kepada anak muda kita bahwa kita siap new normal dan siap hidup 100%.

Saya harapkan ‘Hidup 100%’ bukan hanya untuk ekslusif BNN, melainkan untuk semuanya. Misalnya nanti pada hari Korupsi Internasional digunakan kembali ‘Hidup 100%’ tanpa korupsi. (dro/S1-25)

BERITA TERKAIT