26 June 2020, 06:25 WIB

Sumsel Optimisis Jadi Daerah Penyangga Pangan Nasional


(Sru/S2-25) | Advertorial

PROVINSI Sumatra Selatan terus meningkatkan produksi berasnya melalui sinergitas pemerintah daerah dan pusat serta transformasi teknologi pertanian.

Gubernur Sumsel Herman Deru optimistis daerah yang dipimpinnya tersebut mampu menjadi daerah penyangga pangan nasional. "Kami terdiri atas 17 kabupaten dan kota yang hampir semuanya menghasilkan beras, tapi dengan potensi yang berbeda," ujarnya saat dihubungi, kemarin.

Saat ini, Sumsel mengalami surplus beras 700 ribu ton dan berada di posisi lima penghasil beras nasional. Posisi ini meningkat dari sebelumnya yakni di posisi delapan. Hal itu terus memacu pemerintah daerah untuk terus mengedepankan potensi alam, sumber daya manusia (SDM), termasuk infrastruktur dan teknologi.

"Kami harus fokus drngan potensi yang kami miliki seperti manusia dan alamnya. Lahan tersedia namun butuh sentuhan pemerintah seperti pupuk yang tepat sasaran, irigasi, infrastruktur juga wajib disediakan pemerintah sehingga petani jadi lebih tergugah," terangnya.

Meski mengalami surplus, lanjut Herman, daerahnya sempat menghadapi kesulitan sebagai dampak dari pandemi virus korona baru atau covid-19. Namun, Sumsel tetap siaga, termasuk menghadapi kemarau panjang serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Untuk kondisi alam setelah Juni diprediksi akan mengalami kemarau panjang. Jadi, sekarang siaga pangan dan karhutla. Tapi, kami optimistis ke depan Sumsel bisa pengekspor beras," cetusnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, ketahanan pangan harus diciptakan dengan berbagai inovasi dan sinergi pemerintah daerah dan pusat. "Masalah pertanian itu masalah lapangan. Kita harus mampu melakukan kombinasi dan kerja sama, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Maka, kami yakin lahan eksistensi teknikal, ketersediaan dan garapan juga budidayanya yang baik bisa diwujudkan," tegasnya.

Syahrul pun senada dengan Herman terkait inovasi dan teknologi pertanian yang harus terus dilakukan, khususnya riset bibit berkualitas. "Riset bibit yang berkualitas itu penting. Kedua mekanisasi seperti traktor yang bisa digunakan dengan pola moderen.

Ketiga pencitraan satelit. Interaksi, modernisasi, dan teknologi itu penting untuk diwujudkan," tuturnya. Sementara terkait ketersediaan pangan tahun ini, kata Mentan, data menunjukkan sangat kondusif dan aman. (Sru/S2-25)

BERITA TERKAIT