26 June 2020, 05:00 WIB

Pertanian Penyangga Perekonomian Nasional di Masa Pandemi


S1-25 | Ekonomi

 

DATA Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertanian, kehutanan, dan kelautan masih menjadi salah satu sektor penting pada struktur produk domestik bruto (PDB). Pada kuartal I/2020 tercatat kontribusinya terhadap PDB dengan peran 12,84%.

Struktur sektor pertanian sebesar 12,84% tersebut merupakan ketiga tertinggi setelah industri pengolahan (19,98%) dan perdagangan besar dan eceran (13,30%).

“Kontribusi menurut lapangan usaha tersebut meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal IV 2019, peran sektor pertanian, kehutanan, kelautan sebesar 11,19%,” tutur Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri saat dimintai keterangan di Jakarta, Rabu (25/6).

Fakta itu menyatakan bahwa pertanian masih menjadi salah satu sektor yang mendominasi struktur PDB menurut lapangan usaha. Padahal periode Januari–Maret 2020, dunia sudah mulai dilanda wabah covid-19.

Selain itu, sektor pertanian, kehutanan, kelautan pun mengalami pertumbuhan sebesar 9,46% pada kuartal I/2020 jika dibandingkan dengan kuartal IV/2019. Hal itu dipicu masa tanam yang dimulai pada akhir Desember 2019 dan adanya masa panen pada Februari dan Maret 2020.

Kuntoro menambahkan sektor pertanian bisa memberi daya ungkit pada perekonomian kuartal II/2020 mengingat masa panen yang masih ada pada periode itu dan bukti kontribusinya yang cukup besar pada kuartal I.

“Mengutip pernyataan Kepala BPS (Suhariyanto), kuartal kedua nanti pertanian justru bisa menjadi pengungkit dan membantu pertumbuhan ekonomi karena ada pergeseran masa panen dari Maret menjadi April. Kami sendiri optimistis karena sesuai arahan Menteri Pertanian, teman-teman di lapangan saat ini sedang giat melakukan percepatan tanam,” ungkapnya.

Indikator lain yang disebutnya bisa menunjukkan peningkatan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian adalah peningkatan ekspor pertanian pada April lalu. Di tengah pandemi covid-19 yang melemahkan ekonomi dan juga kinerja ekspor secara nasional, sektor pertanian justru menjadi satu-satunya yang mengalami kenaikan ketimbang tahun lalu. “Data BPS menyebutkan bahwa ekspor pertanian tetap menunjukkan kinerja yang baik pada April 2020 dengan nilai US$0,28 miliar atau tumbuh sekitar 12,66 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2019,” tutur Kuntoro.

Berpihak pada petani Kuntoro juga menyebutkan pemerintah sangat memahami pandemi covid-19 berdampak besar pada tatanan pembangunan pertanian nasional, terutama terhadap petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian. “Untuk itu Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk menjalankan program dan kebijakan berorientasi pada kesejahteraan petani,” ujarnya.

Sebagai bentuk keberpihakan kepada petani, anggaran pendapatan belanja negara (ABPN) di sektor pertanian difokuskan untuk memberikan insentif dan bantuan bagi petani dalam berproduksi, baik dalam bentuk bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), benih, maupun pupuk.

Selain itu, ada upaya meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengembangan e-commerce untuk mempercepat penyerapan produk petani dan sekaligus memudahkan masyarakat mengakses pangan.

“Kami memahami kondisi pandemi sangat berpengaruh terhadap penyerapan hasil produk petani di lapangan. Karena itu, Kementerian Pertanian
juga bekerja sama dengan perusahaan swasta maupun start-up untuk memudahkan distribusi pangan,” jelas Kuntoro.

Kementan juga memperkuat sistem logistik pangan melalui kelembagaan distribusi pangan yang dikelola oleh BUMN sebagai nasional hub dan BUMD sebagai regional hub yang dilakukan dengan pengendalian bersama oleh stakeholder terkait. Penguatan sistem logistik pangan sangat penting guna menjamin kelancaran distribusi pangan yang terjangkau dan merata ke seluruh wilayah Indonesia.

Berkaca pada kinerja sektor pertanian di awal 2020, Kuntoro menyebutkan pemulihan ekonomi pada 2021 akan banyak bertumpu pada sektor pertanian, terutama dalam menjaga ketahanan pangan usai pandemi.

“Pada rapat kerja bersama DPR RI pada Senin (22/6) lalu, Menteri Pertanian telah mengusulkan tambahan Rp10 triliun untuk peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi pangan lokal, penguatan cadangan dan sistem logistik pangan, serta pengembangan pertanian modern dan peningkatan ekspor. Penambahan anggaran ini penting untuk meningkatkan kapasitas produksi petani kita dan sekaligus menata sistem logistik pangan nasional,” tutur Kuntoro.

Komitmen jaga target produksi Pada rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Senin (22/6), Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan tetap berkomitmen menyediakan pangan bagi 267 juta penduduk dengan mencanangkan target beberapa komoditas pada 2021.

Kebutuhan pangan selama bulan puasa, Lebaran dan masa pandemi covid-19 sudah tercukupi dengan baik sehingga tidak ada gejolak krisis pangan dan harga pangan stabil di pasaran. “Dalam memperkuat ketersediaan dan stabilisasi harga, kami telah mengembangkan Pasar Tani atau Toko Tani untuk memangkas rantai pasok. Kemudian mendorong masyarakat untuk memperluas pilihan makan melalui diversifikasi pangan,” ujar Mentan.

Menurutnya, persoalan pangan sangat penting dan harus dikelola sungguh-sungguh. Karena itu, pernyataannya di tengah rapat untuk mundur sebagai menteri jika target diturunkan dimaknai sebagai ketidakrelaannya atas penurunan target produksi pangan yang disampaikan beberapa pihak. “Buat saya petani dan rakyat harus dibela kepentingannya. Rakyat pangannya harus kita cukupi dengan tangan kita sendiri,” tegasnya.

Karenanya, dirinya bertekad terus meningkatkan produksi nasional, khususnya pangan strategis. Pasalnya, pada masa pandemi covid-19 secara langsung maupun tidak menjadi ancaman dan tantangan bagi upaya menjamin ketersediaan pangan karena distribusi pangan dan kapasitas produksi mengalami gangguan.

“Tapi kami di Kementan bersama para pejabat Kementan, para gubernur, bupati, camat, dan para petani tetap optimis dengan target yang sudah kami tetapkan. Karena ini merupakan kebutuhan nasional,” ujarnya.

Mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu memaparkan pihaknya juga tengah ber upaya meningkatkan nilai ekspor untuk memperkuat ekonomi nasional yang merosot akibat covid-19. Nilai ekspor produk pertanian pada April 2020 tumbuh 12,66%, di tengah lesunya ekspor pada sektor lain.

Capaian lainnya adalah kinerja produksi beras selama masa tanam MT I/2020, meningkat mencapai 16,65 juta ton. Belum lagi adanya tambahan stok di akhir Juni 2020 yang diperkirakan mencapai 7,49 juta ton.

“Untuk mempertahankan kecukupan stok beras sampai Desember 2020, Kementan telah melakukan akselerasi tanam padi MT II sebesar 5,6 juta hektare dengan menggerakkan seluruh komponen sumber daya yang didukung oleh ketersediaan air yang cukup di sentra produksi dan wilayah lainnya,” katanya.

Karena itu, ia optimistis mampu mencapai target yang telah ditetapkan, meski dengan anggaran yang terbatas.

Target itu, kata dia, masih terus didorong dengan pelibatan partisipasi petani untuk memanfaatkan keredit usaha rakyat (KUR).

“Kami juga menggerakan semua potensi sumberdaya yang ada untuk menutupi kekurangan anggaran dari APBN. Kami bahkan sudah bekerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga lain untuk mendukung program pembangunan pertanian, menggerakkan seluruh komponen dan pelaku usaha untuk mendorong pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan pertanian, serta mendorong keterlibatan swasta dan BUMN dalam mengamankan ketersediaan dan distribusi pangan strategis,” terangnya.

Anggaran Kementan pada 2020 yang awalnya sebesar Rp21,055 triliun, mengalami efisens menjadi Rp14,049 triliun. Padahal, Kementan membutuhkan anggaran yang mencukupi untuk merealisasikan program-program yang sudah direncanakan.

DPR dukung tambah anggaran Pada rapat tersebut, Komisi IV DPR RI menegaskan mendukung penambahan anggaran Kementan. “Melihat paparan dari Pak Mentan yang sangat semangat sekali untuk memperjuangan pertanian kita, kami sangat mendukung anggaran Kementan bisa lebih besar lagi kedepannya,” kata anggota Komisi IV DPR RI, Sigit Sosiantomo.

Anggota komisi IV lainnya, Hasan Aminuddin, mengapresi kinerja Mentan Syahrul Yasin Limpo. Dia menilai, Mentan terus memberikan optimisme kepada masyarakat terkait ketersediaan pangan.

Menurut Hasan, dengan pendekatan yang dilakukan Kementan terbukti mampu menyediakan kebutuhan bahan pokok selama Ramadan dan pandemi covid-19 sehingga terjadi terjadi kekhawatiran di tengah masyarakat.

“Saya salut dengan Pak Mentan yang tidak henti-hentinya terus memberikan keyakinan bahwa pangan kita ini dalam kondisi aman dan terkendali,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan produksi beras Januari-Agustus 2020 sebesar 23,05 juta ton sehingga diprediksi stok beras pada Agustus 2020 sebesar 8,84 juta ton. Produksi jagung pada 2020 juga memperlihatkan tren positif, yaitu sebesar 22,58 juta ton. (S1-25)

BERITA TERKAIT