25 June 2020, 14:05 WIB

Urgensi Regulasi Restorasi Karya Seni; Belajar dari Spanyol


Abdillah Marzuqi | Weekend

 

PAKAR seni di Spanyol bergejolak. Mereka bersama menyeru pemerintah segera memberlakukan regulasi yang mengatur restorasi karya seni secara ketat. Hal itu diakibatkan kegagalan restorasi lukisan karya seniman barok Spanyol, Bartolomé Esteban Murillo (1617–1682). Ironisnya, restorasi karya seni berjudul Immaculate Conception itu dilakukan tukang furnitur.

Seorang kolektor seni di Valencia dilaporkan dikenai biaya € 1.200 atau sekitar Rp 19,2juta oleh tukang furnitur untuk membersihkan lukisan Immaculate Conception. Sayangnya, pekerjaan itu tidak berjalan sesuai rencana. Wajah Perawan Maria pun menjadi tidak bisa dikenali, meski mereka telah berupaya mengembalikannya ke keadaan semula.

Kejadian itu menambah daftar panjang karya seni yang rusak akibat restorasi sembarangan. Pada 2012 lalu, publik seni dunia dihebohkan dengan insiden terkenal 'Monkey Christ'. Seorang umat paroki gagal merestorasi lukisan Ecce Homo karya Elías García Martínez pada dinding sebuah gereja di pinggiran kota Borja, Zaragoza, Spanyol.

Sebelum itu, ada pula restorasi gagal patung polikrom Saint George and the dragon dari abad ke-16. Alih-alih membuatnya kembali ke bentuk semula, wajah Saint George malah menyerupai karakter Tintin.

Pakar seni Fernando Carrera, mengatakan kasus-kasus seperti itu menandakan restorasi hanya boleh dilakukan oleh ahli.

"Saya tidak berpikir orang ini bisa disebut sebagai restorer (ahli restorasi)," kata Carrera yang juga sebagai seorang profesor di the Galician School for the Conservation and Restoration of Cultural Heritage, seperti diloansir The Guardian.

“Jujur saja, mereka adalah orang yang merusak segalanya. Mereka menghancurkan banyak hal,” tegasnya mantan Presiden Professional Association of Restorers and Conservators (Acre) Spanyol itu.

Ia mengatakan undang-undang saat ini mengizinkan orang untuk terlibat dalam proyek restorasi bahkan jika mereka tidak memiliki keterampilan yang diperlukan.

“Bisakah Anda bayangkan sembarang orang diizinkan mengoperasi pada orang lain? Atau seseorang diizinkan menjual obat tanpa lisensi apoteker? Atau seseorang yang bukan arsitek diizinkan membangun gedung?" tandasnya.

"Sementara restorasi kurang lebih sama pentingnya dengan dokter,” tambahnya.

Menurutnya, restorasi karya seni harus diatur secara ketat demi sejarah budaya Spanyol.

“Kami melihat hal semacam ini berulang kali, namun hal itu terus terjadi," sesalnya.

Carrera juga menyatakan hal itu menjadi bukti betapa pentingnya restorasi dilakukan para profesional. Ia mengatakan Spanyol memiliki sejumlah besar warisan budaya dan sejarah karena semua kelompok berbeda yang telah melewati negara itu selama berabad-abad, meninggalkan bekas dan monumen mereka.

"Kita perlu berinvestasi dalam warisan kita, tetapi bahkan sebelum kita berbicara tentang uang, kita perlu memastikan bahwa orang-orang yang melakukan pekerjaan semacam ini telah dilatih di dalamnya,” tandasnya.

Wakil Presiden Acre María Borja mengatakan insiden pada kasus Murillo hanya sebagian kecil dari kasus kegagalan restorasi karya seni.

“Kami hanya mengetahui tentang mereka ketika orang melaporkannya kepada pers atau di media sosial, tetapi ada banyak kejadian bahwa pekerjaan restorasi dilakukan oleh orang yang tidak terlatih," paparnya.

Ia pun menyeru semua pihak untuk peduli pada masalah tersebut, dari mulai pemerintah, politisi, hingga masyarakat. Memang tidak bisa dipungkiri perawatan karya seni berbeda dengan perawatan kesehatan dalam hal prioritas. Namun, karya seni patut diperhatikan karena itu adalah sejarah.

“Tidak harus berada di posisi teratas karena jelas tidak seperti sektor kesehatan atau lapangan kerja -ada banyak hal yang lebih penting. Tapi ini sejarah kita," pungkasnya. (M-4)

BERITA TERKAIT