24 June 2020, 18:15 WIB

Demo Tolak Tambang di Manggarai Ricuh, Polisi Bertindak Anarkis


Yohanes Manasye | Nusantara

KUNJUNGAN kerja Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat di Reo, Kabupaten Manggarai diwarnai demonstrasi mahasiswa dan pemuda. 

Massa yang terdiri dari aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), dan Pemuda Tolak Tambang menolak rencana investasi pertambangan gamping dan pembangunan pabrik semen di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur. 

Massa meminta berdialog dengan Gubernur Laiskodat, tetapi aparat gabungan dari Polres Manggarai dan Polres Manggarai Timur tidak mengizinkan. 

Mereka pun menggelar orasi, spanduk dan poster, hingga memblokir jalan di jembatan Gongger, perbatasan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. 

Rombongan Gubernur sempat tertahan saat hendak melintas karena massa mendesak untuk menyampaikan aspirasinya. 

Pada saat itulah polisi bertindak represif dengan memukul dan mencekik mahasiswa. Ketika mahasiswa dibuat kocar-kacir oleh aparat, rombongan Gubernur pun lolos dari kepungan lalu bertolak ke Manggarai Timur. 

Ketua GMNI Ruteng Ricky Joman mengatakan para mahasiswa ingin mengingatkan kembali janji tolak jambang di NTT yang disampaikan oleh Gubernur Victor pada saat kampanye pemilihan gubernur dan pada masa awal kepemipinannya. 

"Yang disampaikan Gubernur pada saat kampanye maupun pada masa awal kepemimpinannya, Gubernur memoratorium izin tambang di NTT. Tetapi toh buktinya dia sudah memproses izin tambang dan pabrik semen," ujarnya. 

Ketua Presidium PMKRI Ruteng Hendrikus Mandela mengatakan masyarakat NTT masih mengingar janji politik Victor.

Karena itu, masyarakat berhak untuk menagih pemenuhan janji-janji itu. Masyarakat juga perlu mempertanyakan dasar sikap Gubernur Victor membuka pintu bagi kehadiran investasi yang terbukti telah merusak lingkungan dan alam serta bertentangan dengan sektor pertanian, peternakan, dan pariwisata 

Koordinator Pemuda Tolak Tambang, Yohanes Febriano Maot menambahkan aksi yang digelar hari ini merupakan pembuka. Mereka tidak akan diam selama Gubernur Victor belum bersikap tegas untuk menutup tambang di daerah itu. 

"Aksi hari ini merupakan pembukaan. Suara kami tidak akan bisa dibungkam. Suara kami akan terus disampaikan sampai kapan pun, sampai tambang ditutup," katanya. 

Sebelumnya, Gubernur Nusa Victor  mengatakan tak mau gegabah menyikapi rencana investasi tambang gamping dan pabrik semen di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur. 

Ia mesti berhitung secara cermat untuk memilih investasi yang lebih menguntungkan bagi masa depan propinsi itu. 

"Kita akan berhitung secara cermat. Tentunya ketika ada dua kepentingan yang berseberangan, kita akan berhitung betul. Yang mana yang akan menguntungkan Nusa Tenggara Timur ke depan," ujar Victor saat diwawancarai seusai bertemu Uskup RutengMgr Siprianus Hormat di Aula Missio Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng, Selasa (23/6) malam. 

Sebagai Gubernur, ia harus mempertimbangkan dan memilih hal-hal yang menguntungkan secara ekonomi, sosial, budaya, dan kesehatan. “Saya pikir itu yang saya ambil sebagai Gubernur. Kita akan putuskan, mana yang secara lebih untuk perbaikan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan kesehatan," lanjut Victor. (OL-8).

BERITA TERKAIT