24 June 2020, 17:35 WIB

Semua Negara Diserukan Lindungi Minimal 30% Tanah dan Lautan


Deri Dahuri | Internasional

KELOMMPOK yang terdiri dari para mantan kepala negara, menteri luar negeri, dan diplomat dari empat benua meluncurkan Campaign for Nature pada 17 Juli 2020 mendatang.

Indonesia diwakili  mantan menteri Lingkungan Hidup Emil Salim yang menjadi anggota Global Steering Committee. Komite dipimpin mantan Senator Amerika Serikat dan mantan Utusan Khusus untuk Great Lakes Region of Africa Russ Feingold.

Tujuan utama Campaign for Nature adalah menyerukan pemerintahan di seluruh dunia agar mendukung tujuan global baru untuk melindungi paling sedikitnya 30% dari tanah dan lautan dunia pada 2030. Kesepakatan tersebut elah dinyatakan para ilmuwan sebagai jumlah minimal yang diperlukan untuk mencegah hilangnya keragaman hayati global.

Dalam pernyataan bersama yang menandai peluncurannya, Global Steering Committee mendorong para pemimpin dunia untuk berinvestasi ke alam sebagai elemen inti dari rencana pemulihan ekonomi. Mereka berargumen bahwa keuntungan-keuntungan dari wilayah-wilayah yang dilindungi sering tidak diperhatikan, sehingga wilayah-wilayah tersebut layak mendapatkan dukungan stimulus.

Di antara keuntungan-keuntungan tersebut adalah wilayah-wilayah yang dilindungi dapat mengurangi kemiskinan, menyediakan habitat utama satwa liar, menghasilkan lapangan pekerjaan, melawan perubahan iklim, dan melindungi dari pandemi di masa depan.

Wilayah-wilayah tersebut juga penting untuk mengakhiri kepunahan massal tumbuhan, binatang, dan mikro organisme yang menjaga udara kita bersih, air kita jernih, dan persediaan pangan kita banyak.

Pernyataan mereka didasarkan pada temuan-temuan sebuah laporan baru, yang  diluncurkan juga pada 17 Juni 2020 oleh Campaign for Nature, yaitu "A Key Sector Forgotten in the Stimulus Debate: the Nature-Based Economy".

 Laporan tersebut memaparkan alasan-alasan mengapa para pemerintah harus mengalokasikan dukungan stimulus pada wilayah-wilayah yang dilindungi, dan komunitas-komunitas masyarakat yang menjaga dan bergantung pada wilayah-wilayah itu.

Jelang peluncuran Campaign for Nature, anggota Campaign for Nature's Global Steering Committee mengeluarkan pernyataan. Russ Feingold, mantan Senator Amerika Serikat dan mantan Utusan Khusus untuk Great Lakes Region of Africa, mengatakan:

"Konservasi alam harus menjadi elemen inti dari semua rencana pemulihan dan stimulus. Dengan lebih melindungi alam, pemerintah-pemerintah di dunia bisa secara bersamaan menciptakan lapangan pekerjaan, menghindari akibat jangka panjang terkait perubahan iklim dan hilangnya keragaman hayati, dan membuat pertahanan terhadap pandemi-pandemi di masa depan," kata Feingold.

Mary Robinson, mantan Presiden Irlandia, mengatakan,"Kita tidak akan bisa mencapai target Persetujuan Paris (Paris Agreement) tanpa sepenuhnya menerima solusi-solusi berbasis lingkungan dan melindungi paling tidak 30% dari tanah dan lautan dunia pada 2030."

Tzipi Livni, mantan Menteri Luar Negeri Israel, mengatakan,"Kemanusiaan dapat maju tanpa meninggalkan jejak-jejak kehancuran pada alam kita. Fakta bahwa kita semakin cepat dalam merusak alam di seluruh dunia bukanlah hanya ancaman bagi satwa liar, tapi juga ekonomi dan masyarakat kita.”

“ Meningkatkan secara signifikan jumlah tanah dan lautan yang kita lindungi dan pulihkan harus menjadi bagian dari rencana apapun dalam menolong masyarakat-masyarakat untuk pulih dari krisis sekarang," jelas Livni,

Ernest Bai Koroma, mantan Presiden Sierra Leone, mengatakan,"Di seluruh dunia, terutama Afrika, masyarakat-masyarakat lokal di sekitar wilayah yang dilindungi sedang menderita dan membutuhkan bantuan.”

 “Pemerintah-pemerintah seluruh dunia seharusnya sekarang bertindak mendukung wilayah-wilayah yang dilindungi dan masyarakat-masyarakat lokal di sekitarnya untuk kepentingan kita bersama," ucapnya.

Anggota Kongres Deb Haaland mengatakan target melindungi 30% dari tanah dan lautan dunia harus berlaku juga bagi Amerika Serikat.

“Melindungi lebih banyak tanah dan air di negara kami akan menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan akses terhadap alam bagi kelompok masyarakat yang kekurangan, melindungi tanah-tanah adat, dan melindungi kawasan-kawasan alami yang spektakuler serta mencerminkan karakter dan budaya Amerika Serikat yang beragam," jelasnya.

Yongyuth Yuthavong, mantan Wakil Perdana Menteri Thailand, mengatakan kerusakan alam yang parah meningkatkan risiko dari pandemi. Kita harus lebih melindungi alam sebagai bagian dari strategi menghadapi penyebaran penyakit-penyakit menular.

Zakri Abdul Hamid, mantan Penasehat Sains Perdana Menteri Malaysia, mengatakan Malaysia adalah rumah bagi sebagian dari keragaman hayati dunia yang paling spektakuler.

“Pemerintah kami harus mengikuti target melindungi 30% dari tanah dan lautan dunia, dan menjadi contoh yang menunjukkan bagaimana berinvestasi pada alam bisa mencegah pandemi-pandemi masa depan dan menciptakan masyarakat yang lebih sehat," jelasnya.

Susanna Malcorra, mantan Menteri Luar Negeri Argentina, mengatakan memprioritaskan secara lebih baik pada perlindungan alam juga merupakan langkah kunci dalam membangun dunia yang lebih tangguh dan berkelanjutan." (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT