24 June 2020, 09:35 WIB

Cegah Covid Perkebunan Kelapa Sawit di Kalteng Dilockdown


Surya Sriyanti | Nusantara

SEJUMLAH perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai menutup akses keluar masuk kedalam perkebunan mereka. Hal ini untuk menghindari agar ribuan pekerja yang berada di dalam kebun tidak terpapar virus corona.

Teguh Patriawan, Direktur Utama PT. Nusantra Sawit Persada, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng, mengatakan, penutupan akses keluar masuk kedalam perkebunan ini sudah dilakukan pihaknya sejak virus asal negeri tirai bambu itu mulai menyerang Indonesia.

"Kita sudah melakukan penutupan total akses keluar masuk kebun (lockdown) sekitar 3 bulan lalu," kata Teguh saat dihubungi mediaindonesia.com, Rabu (24/6).

Penutupan ini kata dia dilakukan semata-mata untuk melindungi karyawannya yang jumlanya ribuan itu tidak terpapar virus corona. Karena bila ada satu saja pekerjanya yang terpapar corona bukan tak mungkin nantinya akan cepat menyebar.

Selain itu kata dia dalam hal bekerja, diperkebunan kelapa sawit itu tidak bergerombol seperti halnya usaha lain tapi dilakukan perorangan, misalnya untuk pekerja  pemetik buah antara satu dan lainnya jaraknya minimal 10 meter juga untuk pengangkutan.

"Jadi diperusahaan perkebunan itu sosial distancing dan juga physical distancing memang sudah diterapkan dengan sendirinya," katanya.

Ia menyebutkan, saat ini untuk memenuhi kebutuhan semua karyawannya mulai sandang hingga lainnya, disiapkan oleh perusahaan dengan menggunakan sistim koperasi yang juga dikelola oleh pegawai.

"Ini termasuk bila ada karyawan hendak mengirim atau menyimpan uang, kita bekerjasama dengan salah satu bank pemerintah yang ditempatkan dikebun," katanya.

Teguh menampik bila dikatakan perusahaan pekerbunan akan melakukan pemutusan huibungan kerja (PHK) seperti halnya bidang usaha lain yang terdampak corona.

Menurut dia  perkebunan kelapa sawit itu adalah kegiatan yang tidak bisa berhenti karena setiap hari pohon sawit itu berbuah dan harus dipetik maksimal dua hari sekali, belum lagi pengangkutan kepabrik hingga pengolahannya, semua membutuhkan tenaga kerja. "Jadi kita tak mungkin melakukan PHK diperkebunan kelapa swit," tegasnya.

Saat ini  yang sangat berpengaruh bagi sector perkebunan adalah fluktuasi yang cepat, tergantung suplay dan demand. Karena itu pihaknya mengaku membutuhkan proteksi dari pemerintah agar kegiatan ini tetap berjalan dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak orang. (OL-13)

Baca Juga: Dampak Virus Korona, Harga Minyak Sawit Mentah Anjlok

BERITA TERKAIT