24 June 2020, 06:30 WIB

Jawa Barat Fokus Rapid Test di 3 Zona


(BY/S1-25) | Advertorial

PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) terus menggencarkan tes covid-19 dengan metode rapid test. Setidaknya upaya tersebut terus dilakukan hingga mencapai 300 ribu sampel.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil (Emil) mengatakan, angka tersebut setara dengan 0,6% penduduk Jawa Barat yang berjumlah sekitar 50 juta.

Jumlah persentase pengetesan tersebut sama dengan yang dilakukan pemerintah Korea Selatan, yang dianggap berhasil menangani pandemi covid-19.

Salah satu cara untuk mencapai 300 ribu sampel, Emil menyebut pihaknya akan fokus pada tiga zona, yakni pasar tradisional, lokasi wisata, serta stasiun dan terminal.

Ketiga kawasan tersebut diyakini berpotensi besar untuk menjadi klaster penularan virus korona tersebut. "Kami akan terus meningkatkan kewaspadaan. Mereka yang reaktif (saat rapid test) akan di-follow up dengan swab test," kata Emil yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan covid-19 Jabar, di Bandung, pada Selasa (23/6).

Emil mencontohkan potensi penyebaran covid-19 di pasar tradisional cukup tinggi, terbukti dengan adanya sejumlah pedagang yang positif terpapar virus tersebut.

Terlebih, tingkat kedisiplinan pedagang dan pembeli dalam menerapkan protokol kesehatan masih tergolong rendah, seperti tidak menjaga jarak, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan. Oleh karena itu, ia memastikan Pemprov Jabar akan menyasar setidaknya 700 pasar tradisional di Jabar untuk dilakukan rapid test.

"500 pasar tradisional yang dikelola pemerintah, 200 oleh swasta," katanya. Untuk pengetesan, pihaknya mengirim 627 mobile covid-19 test yang didukung laboratorium mobile bio safety level 3 (BSL3) dari PT Bio Farma yang akan mengambil sampel di pasar tradisional.

Tidak hanya rapid test, swab test pun disiapkan untuk menindaklanjuti sampel yang diketahui positif/reaktif. "Saya sudah koordinasi dengan TNI/Polisi untuk mengawal pengetesan ini," katanya.

Pada zona wisata, Emil menyontohkan pihaknya sudah menggelar rapid test di lima titik di kawasan Puncak (Cianjur dan Bogor).

"Dari sekitar 1.540 (sampel rapid test) warga yang sedang berwisata, terdapat 69 yang reaktif," ujarnya. Hingga 17 Juni 2020, menurut dia, sudah dilakukan rapid test terhadap 148.789 sampel, dan 60.389 dengan metode PCR.

Terendah di Pulau Jawa

Meski begitu, Emil menyebut sebaran virus korona di daerah yang dipimpinnya masih terkendali. Hal itu terlihat dari angka reproduktif efektif (Rt) covid-19 yang konsisten berada di bawah 1. "Rata-rata selama dua minggu ada di 0,68," ucapnya.

Dengan begitu, tambah Emil, berdasarkan data dari badan kesehatan dunia (WHO), tingkat infeksi di Jabar menjadi yang terendah di Pulau Jawa.

"Ini menandakan walaupun Jawa Barat penduduknya banyak, tapi tingkat infeksinya persentasenya paling kecil, di urutan ke-28 dari 34 provinsi," katanya.

Hal itu juga terlihat dari tingkat keterisian rumah sakit rujukan yang hanya 27,64%. Artinya, lanjut Emil, terdapat 72,36% ruang perawatan covid-19 yang tidak terisi karena pasien yang tidak banyak.

"Jadi keterisian selalu turun menandakan tingkat kesembuhan yang sudah tujuh kali lipat dari angkat kematian," paparnya.

Atas keberhasilan tersebut, Emil menyebut pihaknya menerima banyak apresiasi, termasuk dari Menteri Kesehatan yang menilai Jabar terus berinovasi dan berkolaborasi dalam penanganan covid-19. "Kemarin kami kedatangan Menko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) dan Menteri Kesehatan yang mengapresiasi inovasi-inovasi Jawa Barat.

Bahkan Pak Menteri Kesehatan berkomitmen membeli rapid test produk Jawa Barat," ujarnya.

Emil pun menyebut pihaknya akan memberikan rapor penilaian kinerja gugus tugas kabupaten/kota. "Agar gugus tugas (kabupaten/kota) bisa evaluasi diri, plus minus, kelemahannya di mana," ujarnya.

Lebih lanjut, Emil mengatakan saat ini 70% kegiatan ekonomi di Jabar sudah berjalan. "Ekonomi sudah bergerak," katanya.

Selama dibukanya kegiatan ekonomi, pergerakan lalulintas pun turut terdongkrak.

"Itu menandakan pergerakan ekonomi sudah terjadi," kata dia.

Pihaknya berharap pada akhir tahun ini pertumbuhan ekonomi di Jabar bisa mencapai 2 5%. "Tidak yang seperti diprediksi, di bawah 0," ucapnya.

Berdasarkan hasil kajian pihaknya, sektor jasa mengalami penurunan mencapai 4,8%. Selain itu, industri manufaktur pun menurun 4,2% akibat pandemi ini.

"Pertanian terkoreksinya hanya 0,9%. Ini menandakan pertanian tangguh selama covid-19," ucapnya. (BY/S1-25)

BERITA TERKAIT