23 June 2020, 21:25 WIB

Kapolda Sulteng Pastikan Operasi Tinombala Berlanjut di Poso


M Taufan SP Bustan | Politik dan Hukum

KEPALA Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Tengah, Irjen Pol Syafril Nursal sangat menyayangkan ada pihak yang menuntut agar Operasi Tinombala, yang bertujuan menangkap kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso dihentikan.

Menurut jenderal bintang dua itu, jaringan MIT yang saat ini dipimpin Ali Kalora bukan hanya ada di Poso. Mereka tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Nusa Tenggara Barat, Maluku, Banten, dan beberapa provinsi lainnya.

"Saat ini mereka yang masih berada di hutan dan pegunungan itu gabungan warga dari Poso termasuk juga dari NTB, Maluku, dan Banten," terang Syafril kepada sejumlah jurnalis di Palu, Selasa (23/6).

Polda Sulteng mengkhawatirkan ratusan WNI yang dilabeli pemerintah sebagai eks kombatan ISIS masuk ke Poso.

"Ada kurang lebih 600 eks kombatan ISIS. Bayangkan kalau kita menghentikan Operasi Tinombala dan mereka ke Poso. Jadi pihak yang tuntut Operasi Tinombala dihentikan itu tidak mengerti masalahnya," tegas Syafril.

Dia menjelaskan, Operasi Tinombala menjadi panjang, karena pengkaderan pengikut baru MIT di bawahnya masih berjalan. Buktinya, setiap dilakukan penangkapan, ada lagi pengikut baru yang naik bergabung.

"Jadi operasi akan terus dilanjutkan dengan menerapkan sejumlah pola," ungkapnya.

Dalam menyelesaikan tindak pidana terorisme di Poso, tambah Syafril, perlu pelibatan seluruh elemen masyarakat. Sebab, memutus akar dari kasus terorisme bukan hanya tugas polisi saja, melainkan ada peran sejumlah pihak termasuk dari Kementerian Agama untuk melakukan pembinaan.

"Kita ingin menghentikan Operasi Tinombala apabila teroris di wilayah kita ini, baik yang ada di gunung maupun yang di sejumlah wilayah berakhir," pungkasnya.

Salah Tembak

Sebelumnya, Anggota TPM Sulteng Andi Akbar mengatakan, belum selesai kasus dugaan salah tembak yang menyebabkan seorang warga bernama Qidam Alfariski Mofance, 20, meninggal dunia di Dusun III Desa Tobe, Kecamatan Poso Pesisir Utara, pada 9 April 2020, kini terjadi lagi dugaan salah tembak yang menyebabkan dua orang petani bernama Firman, 17, dan Syarifudding, 25, meninggal dunia di Desa Maranda, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Menurutnya, hingga saat ini kasus Qidam belum jelas. Meski pun TPM sudah membuat laporan ke Polda. Padahal secara bukti yang dikumpulkan, kasus Qidam adalah kasus salah tembak yang dilakukan Satgas Operasi Tinombala.

"Kasus Qidam kami lihat polisi seperti tidak peduli. Nyatanya sampai saat ini kami belum dapat update seperti apa kelanjutan kasus salah tembak itu," terang Akbar saat di konfirmasi terpisah.

Akbar menyebutkan, kasus penembakan Qidam sudah dilaporkan ke Polda sejak April lalu, namun hingga saat ini belum ada kejelasan. "Ditambah dengan kasus terbaru ini, kami pesimis dengan kinerja Polda mau menyelesaikan semua ini," ungkapnya.

Melihat kasus Qidam dan kasus terbaru yang menimpa almarhum Firman dan Syarifudding, TPM meminta agar Kapolda Sulteng Irjen Pol Syafril Nursal bertanggung jawab dan segera melakukan evaluasi serta menghentikan Operasi Tinombala.

"Sebagai penanggung jawab operasi, kapolda harus bertanggung jawab. Evaluasi dan dihentikan operasi itu. Jika kapolda tidak bisa menyelesaikan ini semua, maka patut untuk mundur dari jabatannya itu," tandas Akbar. (OL-13)

Baca Juga: Sejumlah Ormas Minta Kapolri Hentikan Operasi Tinombala di Poso

BERITA TERKAIT