23 June 2020, 08:27 WIB

Luwuk, Kampung Subur yang Hendak Dialihkan Jadi Pabrik Semen


Yohanes Manasye | Nusantara

DI balik keterisolasiannya, Kampung Luwuk di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menyimpan pemandangan eksotisme.

Wilayah yang berada persis di bibir Laut Flores ini memiliki alam yang indah. Pantainya berpasir putih tanpa sampah plastik, ditumbuhi hutan bakau, dan pesona mentari terbenam senantiasa terpancar.

Baca juga: Tolak Pabrik Semen di Matim, Viktor: NTT Butuh Semen

Kampung dengan latar pegunungan ini juga memiliki lahan yang luas dan subur. Bentangan alamnya berupa bukit dan lembah yang luas ditumbuhi berbagai tanaman, seperti sawah padi, pisang, dan kelapa.

Warga kampung pesisir ini memang lebih banyak memilih pekerjaan sebagai petani sambil beternak daripada nelayan. Selain tak memiliki alat tangkap memadai, asal-usul nenek moyangnya sebagai orang gunung dan adat istiadat membuat mereka lebih terbiasa bertani daripada melaut.

Baca juga: Bupati Manggarai Timur Apresiasi Petisi Tolak Pabrik Semen

Lembah Ulung Luwuk yang berada di bagian selatan kampung merupakan salah satu lahan pertanian yang subur bagi warga di kampung ini. Mata air tumbuh di mana-mana dan mengalir sepanjang tahun membuat areal persawahan produktif sepanjang tahun.

Konstantinus Esa, salah seorang warga, bersyukur atas alam kampung Luwuk yang menyediakan sumber kehidupan. Di areal persawahan ini, ia memiliki tiga bidang tanah. Satu dari tiga bidang tersebut baru saja dipanen dengan hasil 30 karung padi. Dua bidang lainnya belum saatnya untuk panen.

Baca juga: Uskup Ruteng Tolak Rencana Pabrik Semen di Manggarai Timur

Ia juga memiliki lahan kering yang ditanami pisang. Dari kebun pisang tersebut, ia biasa panen 40 tandan pisang perbulan. Ia biasa didatangi pedagang pisang dan membelinya dengan harga Rp40 ribu per tandan.

Selain lahan-lahan produktif, ia masih memiliki sebidang lahan sawah yang tidak produktif lagi. Penambangan mangan di kampung tetangga, Lingko Lolok, 1997, telah membawa petaka bagi petani di Luwuk.

Sebab, longsor akibat penambangan telah menutupi sawah milik warga, termasuk milik Konstantinus Esa.

Baca juga: Diaspora Manggarai Tolak Pembangunan Pabrik Semen

Sudah lebih dari 20 tahun ia merugi karena tak bisa memanen padi dari lahan tersebut. Kerugiannya tak pernah dibayar oleh pihak perusahan meskipun mereka sudah pernah berjanji untuk membayar ganti rugi.

"Saat penambangan mangan di Lengko Lolok terjadi erosi dan menimbun areal persawahan dan kebun pisang. Lahan ini tidak bisa dikerjakan lagi. Kemudian utusan perusahan tambang datang periksa lahan yang tertimbun longsor. Saya sampaikan agar kerugian saya dibayar. Mereka jawab, siap untuk membayar. Namun ternyata bohong. Sampai saat ini, hingga saya tua ini, saya tidak melihat satu rupiah, seratus rupiah, atau seribu rupiah pun untuk bayar kerugian lahan saya. Tidak terbayar hingga saat ini," tuturnya.

Baca juga: Manggarai Terancam Hilang Akibat Rencana Pembangunan Pabrik ...

Warga lainnya Blasius Bandung mengungkapkan hal serupa. Di areal persawahan Ulung Luwuk ini, Blasius memiliki 13 petak sawah. Namun satu petak terbesarnya sudah ditutup material longsor dari penambangan mangan tersebut.

"Satu petak tidak bisa dikerjakan lagi sejak tertimbun material longsoran dari tambang mangan pada 1997. Tidak ada ganti rugi. Dulu mereka janjikan ganti rugi berupa 1,6 ton padi. Namun sampai saat ini tidak terealisasi. Mungkin karena tidak secara tertulis. Janji lisan saja," tutur Blasius.

Para petani sawah di Luwuk tampaknya masih trauma dengan pengalaman kehadiran tambang mangan pada 23 tahun silam. Lahan yang menjadi lumbung pangan mereka tertimbun longsor sehingga beberapa bagian lahannya tak lagi produktif seperti semula.

Baca juga: Pandemi Semen

Kini areal persawahan Ulung Luwuk diincar oleh sebuah pabrik semen asal Tiongkok. Investor berencana mendirikan pabrik semen dengan bahan baku dari Lengko Lolok, kampung di atas bukit bagian selatan Luwuk.

Bupati Manggarai Timur Agas Andreas juga pernah mendampingi pihak investor untuk memengaruhi warga agar menjual lahan pada investor.

Misalnya pada 21 Januari 2020, Agas mendampingi investor mengajak warga di kampung Luwuk. Seperti terekam dalam video yang viral di media sosial, Bupati Agas terlibat dalam dialog dengan seorang warga yang menolak kehadiran investor.

Baca juga: Bupati Manggarai Timur-Uskup Ruteng akan Dialog soal Pabrik ...

Ia menekan seorang warga yang menyampaikan pengalaman bahwa kehadiran investasi pertambangan terdahulu terbukti tidak berhasil menyejahterakan warga, selain meninggalkan kerusakan lingkungan dan menipisnya lahan pertanian.

Agas juga pernah mengundang tokoh masyarakat Kampung Luwuk dan Lengko Lolok untuk rapat di rumah pribadinya di Cekalikang, Poco Ranaka.

Dalam pertemuan itu, Agas meminta warga agar rela menyerahkan lahannya kepada investor. Bahkan, tokoh-tokoh adat kampung Lengko Lolok pun menandatangani dokumen kesepakatan yang belakangan baru diketahui salah satu poin kesepakatannya adalah relokasi dari Kampung Lengko Lolok. Itu berarti warga harus merelakan kampung adat dikuasai oleh investor.

Baca juga: Gereja Apresiasi PKB dan Hanura NTT Tolak Pabrik Semen

Namun, Agas membantah pertemuan tersebut atas inisiatif dirinya. Agas berdalih hanya menerima warga yang ingin bertemu dirinya. Ia juga mengklaim pertemuan tersebut dimaksudkan agar kesepakatan antara warga dan investor tidak terlalu merugikan warga.

"Mereka datang membawa kesepakatan. Kita bicara. Kesepakatan mesti operasional. Jangan ada kesepakatan yang merugikan kamu. Yang bisa dilaksanakan, maksud saya. Mereka sendiri yang bawa kesepakatan. Bukan saya yang tentukan. Tidak. Saya hanya memfasilitasi," kata Agas.

Baca juga: Konsistensi Seorang Ibu di NTT, Tolak Lahan untuk Pabrik Semen

Meski ada yang terpengaruh dengan rayuan investor, tak semua pemilik lahan merelakan sawah dan kebunnya untuk dijual. Karolina Hinam, misalnya. Selain karena sudah merasakan hasil panen berlimpah tiga kali setahun, ia juga beralasan, tanah tak akan berkembangbiak seperti manusia. Jika lahan sudah terjual, ia khawatir akan kehidupan anak cucunya kelak.

"Tanah ini tidak pernah beranak. Kita manusia saja yang beranak. Tanah ini, tanah warisan dari kakeknya anak-anak saya. Harus saya wariskan kepada anak-cucu saya," ujar Karolina Hinam.

Yosep Neja, warga lainnya, tetap kukuh untuk tidak menjual lahan pada investor. Pemilik lahan sawah dan kebun pisang yang sangat luas itu tak tergoda meskipun investor terus mengincar lahannya.

"Tanah sawah dan kebun pisang itu usaha kami orangtua. Karena sudah ada anak, anak lah yang berhak. Kami orangtua tidak bisa berbuat sesuka hati," ujarnya.

Maria, istrinya, mendukung keteguhan sikap Yosep Neja. Maria mengatakan anak-anaknya tak ingin lahan tersebut dijual kepada investor, berapa pun harganya. Sebagai orangtua, mereka harus mengikuti kehendak anaknya.

"Tanah itu milik anak kami. Kami ini hanya menjaga tanah milik anak. Kami orangtua tidak punya hak (untuk menjualnya)," katanya.

Baca juga: Warga Diaspora Manggarai Surati Gubernur NTT dan Bupati

Sementara itu, pihak investor sudah belum pernah menjelaskan terkait rencana investasi tersebut. Media Indonesia sudah beberapa kali mendatangi kantor perusahan yang terletak di Reo, Kabupaten Manggarai. Namun penjaga kantor mengaku, pimpinannya tidak bersedia diwawancarai. (X-15)

BERITA TERKAIT