23 June 2020, 06:38 WIB

80 Anak Indonesia Eks IS sudah Teridentifikasi


Ind/Cah/Ant/P-1 | Politik dan Hukum

BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan setidaknya 80 anak Indonesia eks IS (Islamic State) yang kini berada di sejumlah negara telah teridentifikasi identitasnya.

Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar menjelaskan anak-anak tersebut dibawa orangtua mereka yang terpengaruh paham dan gerakan IS. “Mereka ada di wilayah berbagai negara, seperti Turki, Irak, Suriah, dan beberapa tempat. Ada tiga sampai empat (negara),” katanya.

Menurut dia, BNPT sangat terbantu dengan sistem data kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil) dalam mengidentifikasi data melalui foto warga yang sempat bergabung dengan IS.

“Makanya, sudah sekitar 80 (orang) yang kategorinya anak sudah kita pegang datanya. Mereka di bawah 10 tahun. Anak-anak ini dibawa bapak ibunya berangkat ke sana.”

Mengenai nasib anak-anak umur di bawah 10 tahun, ia mengaku, penyelesaiannya masih terus dibicarakan dalam forum internasional, baik dengan negara pemegang otoritas maupun lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Boy juga mengingatkan, teroris tidak bisa diidentikkan dari penampilan, termasuk cara berpakaian. “Tidak bisa diidentikkan orang seperti ini, seperti ini (teroris). Bisa saja mereka kamuflase pakaian biasa dan sebagainya,” ujarnya.

Boy menegaskan tidak ada jaminan bahwa penampilan dan cara berpakaian tertentu identik dengan penganut paham radikalisme atau pelaku terorisme. “Tapi dari sisi penyampaian pesan pelaku ini yang harus diwaspadai,” imbuh mantan Kapolda Papua dan Banten tersebut.

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan perempuan yang mudah percaya pada kabar bohong atau hoaks, rentan terjerumus dalam jeratan terorisme.

Menurutnya, saat ini terorisme bukan hanya dilakukan laki-laki, melainkan juga kaum perempuan. Beberapa tahun belakangan terdapat tren perempuan menjadi sasaran organisasi ekstremis (teroris) yang memanfaatkan posisi perempuan sebagai penggerak di garis depan, propagandis, dan perekrut. (Ind/Cah/Ant/P-1)

BERITA TERKAIT