22 June 2020, 19:05 WIB

Koneksi Internet di Lebih dari 12 Ribu Desa Masih Belum Lancar


Putri Rosmalia Octaviyani | Humaniora

DATA Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebutkan penggunaan internet pada masa pandemi Covid-19 ini meningkat hingga 443%. Namun sayangnya masih ada 12.548 desa yang belum bisa mengakses internet dengan baik.

“Pada masa pandemi seperti sekarang ini akses internet jadi andalan semua kegiatan. Anggaran rumah tangga untuk internet sekarang bisa jadi sudah melebihi anggaran untuk makan dan transportasi," ujar Anggora Komisi I DPR, Sukamta, dalam keterangan pers, Senin, (22/6).

Sukamta mendorong kepada pemerintah agar internet terjangkau dari segi harga dan cakupan wilayahnya. Terjangkau dari segi harga menandakan ada keberpihakan negara khususnya bagi masyarakat kecil, pengemudi ojek online, UMKM.

"Negara sebisa mungkin menggratiskan internet. Atau jika tidak bisa, setidaknya mengurangi biaya internet. Berilah subsidi internet utamanya kepada anak-anak sekolah, UMKM dan pengemudi ojek online. Negara perlu berpihak khususnya mereka agar meringankan pengeluaran internet ketika pendapatan sedang turun dan negara tidak bisa memberikan BLT kepada mereka," ujar Sukamta.

Sukamta juga meminta pemerintah menjamin internet terjangkau dari segi cakupan wilayah sinyalnya semua agar daerah bisa akses internet. Sampai saat ini banyak daerah yang belum terjangkau internet.

Baca juga : Pencairan Insentif Prakerja yang Tertunda Tidak Tunggu Evaluasi

“Saat ini saya kira internet provider sudah lebih dari BEP (break even point) sehingga seharusnya kita bisa sharing beban. Mereka mengurangi keuntungannya dan pemerintah memberikan subsidi untuk internet ini," tuturnya.

Pada sisi yang lain, dikatakan Sukamta, yang perlu perhatian pemerintah, pulsa internet yang dirasakan masih mahal. Perlu juga diperhatikan, berapa kuota yang habis untuk tayangan iklan dan berapa banyak dana iklan yang disedot Facebook dan platform lainnya dari Indonesia yang tidak membayar pajak.

Ia menjelaskan, ada dua tipe iklan di Facebook. kelas tertinggi ada 70 ribu pengiklan dari seluruh dunia yang membayar 5.000 dollar AS per hari, atau sama dengan Rp5.250 triliun.

"Sayangnya dengan simulasi penghasilan sebesar itu mereka tidak membayar pajak, sehingga secara nasional sebetulnya bangsa kita dirugikan, dan ini sangat kita rasakan ketika bangsa ini sedang butuh anggaran seperti dalam masa pandemi ini,” tutupnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT