22 June 2020, 11:41 WIB

Pemberian SKM pada Anak Tantangan Pengentasan Stunting


Atalya Puspa | Humaniora

KESALAHPAHAMAN masyarakat terkait susu kental manis (SKM) masih menjadi masalah dalam upaya pemerintah memperbaiki gizi anak Indonesia. 

Padahal, 50% kandungan dalam SKM merupakan gula yang jika dikonsumsi berlebih oleh anak akan menyebabkan permasalahan gizi.

"Satu gelas SKM sama dengan mengkonsumsi 5 - 9 sendok gula. Masih banyak orang tua yang tidak mengetahui bahwa SKM adalah gula yang beraroma susu," kata Ketua Harian YAICI Arif Hidayat dalam webinar bertajuk Lindungi Anak Indonesia dari Stunting di Masa Pandemi Covid-19, Senin (22/6).

Berdasarkan survei yang dilakukan YAICI pada 2018, 97% orang tua di Kendari, Sulawesi Tenggara dan 79% orang tua di Batam, Kepulauan Riau, masih beranggapan bahwa SKM merupakan susu yang bergizi dan harus dikonsumsi anak setiap hari.

"Di era pandemi covid-19 ini juga banyak yang menyusipkan SKM pada sembako bantuan pemerintah yang makin menyesatkan persepsi masyarakat," ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Chairunissa. Pada 2019 pihaknya mengadakan survei terkait SKM di 9 kabupaten di 3 provinsi. 

Baca juga: Flores Timur Targetkan Zero Stunting Tahun 2022

Dari 2.700 responden ibu yang memiliki bayi 0 - 5 tahun, 37% responden mengatakan bahwa SKM merupakan susu bernilai gizi, sementara 35% di antaranya rutin memberikan SKM kepada anak setiap hari.

"Pada 2020 kita juga melakukan survei di 161 supermarket Jabodetabek. Ternyata 62,7% meletakan SKM tidak tepat, masih diletakkan di satu tempat produk susu. Ini kan berbahaya kalau masyarakat masih menganggap bahwa SKM adalah susu," bebernya.

Untuk itu, Chairunissa menilai perlu kerja sama berbagai pihak untuk mengubah persepsi masyarakat bahwa SKM tidak semestinya diberikan kepada anak-anak sebagai minuman untuk pemenuhan gizi.

"Paket sembako jangan berikan dengan SKM. Kemudian harus dilakukan gerakan lumbung hidup. Ini menjadi gerakan kita dengan cara menanam sayur-mayur agar cepat menghasilkan," bebernya.

Berdasarkan riset kesehatan dasar nasional 2018, menunjukkan bahwa prevalensi balita underweight (17,7%), stunting (30,8%), Wasting (10,2%) dan obesitas (balita, 8%). Hal itu menunjukan bahwa Indonesia masih membutuhkan perhatian serus dalam pemenuhan gizi ibu dan anak. (A-2)

BERITA TERKAIT