22 June 2020, 03:20 WIB

Menjaga Momentum, Mengungkit Ekonomi


Fithra Faisal Hastiadi Dosen FEB Universitas Indonesia, Direktur Eksekutif Next Policy | Kolom Pakar

SAYA ingat sekali pada 2011, dua tahun setelah krisis finansial Eropa, penerbangan saya dari Tokyo menuju Thessaloniki, Yunani, harus ditunda. Padahal, saat itu koper sudah lengkap dan persiapan presentasi sudah matang. Saat itu saya harus melakukan presentasi penelitian pada sebuah konferensi internasional di kota terbesar kedua di Yunani tersebut.

Dengan kecewa, tetapi maklum saya harus kembali lagi ke apartemen saya di pinggiran Tokyo karena memang situasi Yunani pada saat itu sedang tidak menentu. Demonstrasi terjadi di mana-mana seakan ingin mempertontonkan kebolehannya sebagai negara pencipta demokrasi.

Sebuah konsekuensi atas pemburukan ekonomi yang dalam tak kelihatan ujungnya. Kinerja ekonomi yang cukup baik sebelum krisis bak hilang tak berbekas. Yunani telah kehilangan momentum pertumbuhan. Mungkin bukan kebetulan jika literatur Yunani klasik pernah memunculkan sebuah kata unik: hystereo. Dalam perjalanannya, hystereo ini diadopsi pada cabang ilmu yang multiragam, salah satunya ilmu ekonomi.

Langkah cepat

Histerisis ialah sebuah fenomena ekonomi yang mana gejolak atau tekanan pada perekonomian yang jika tidak diintervensi dapat menyebabkan perekonomian akan tenggelam tanpa pernah kembali ke permukaan. Belajar dari Yunani, dalam menghadapi potensi histerisis, Indonesia harus mengambil langkah cepat dan efektif di era covid-19.

Sebagaimana yang kita ketahui, pandemi covid-19 memberikan guncangan besar terhadap perekomian dunia, Indonesia tidak terkecuali. Masalahnya covid-19 ini semakin memberikan tekanan pada sisi supply yang memang sudah bermasalah, bahkan sejak beberapa tahun terakhir.

Meminjam ungkapan Jean Baptise Say yang tersohor, 'supply creates its own demand', yang mana stimulus dari sisi supply akan memberikan efek pengganda bagi perekonomian. Maka itu, tekanan pada sisi supply ini juga bisa menghadirkan fenomena yang disebut 'keynesian supply shocks'.

Fenomena itu cukup memberi masalah karena tekanan berlebihan pada sisi supply ini kemudian memberikan tekanan lintas sektor sebagai akibat dari sisi demand yang juga ikut terdampak. Akibatnya, efek domino akan terjadi. Semua sektor ekonomi, tanpa terkecuali, akan terdampak cukup signifi kan.

Rangkaian simulasi yang dilakukan Next Policy menghasilkan skenario pertumbuhan ekonomi terberat mungkin saja terjadi jika mitigasi pandemi tidak bisa dilakukan secara optimal. Dalam simulasi ini, skenario pertumbuhan minus 0.8% berimplikasi pada peningkatan angka pengangguran hingga 20 juta orang.

Di sisi lain, covid-19 juga menimbulkan ketakutan pasar (market fear) sebagaimana ditunjukkan hasil simulasi impulse response function yang kami lakukan. Kondisi terberat sempat kita alami sepanjang Maret ketika rupiah sempat mencapai 17.000 per 1 US$. Kondisi fundamental rupiah sebenarnya pada level yang cukup baik karena moncernya neraca dagang dan juga ekspansi moneter yang cukup agresif di Amerika Serikat dan Eropa. Akan tetapi, rupiah lebih banyak ditarik oleh ketakutan pasar akibat melawan musuh yang tidak terlihat.

Untungnya pasar sudah relatif normal menjelang April karena kebijakan pemerintah mulai kelihatan arahnya dan pengumuman paket stimulus yang disambut baik. Namun, fenomena market fear ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dikontrol. Karena itu, bisa saja mendorong rupiah kembali tertekan ke level yang berisiko.

Rupiah menjadi salah satu indikator yang patut dicermati mengingat hasil stress test OJK menunjukkan perbankan akan terpapar risiko sistemis apabila kurs rupiah terhadap dolar AS tembus di level Rp20.000.

Sejak 2018, setidaknya ada 15 bank memiliki risiko sistemis jika terdorong gejolak eksternal. Jika bank tersebut gagal, risiko krisis keuangan akan semakin besar karena akan menimbulkan perilaku ge rombolan (herd behaviour) yang memicu rush money.

Skenario itu tentu memiliki implikasi sosial-ekonomi yang cukup besar. Dengan angka pengangguran yang diperkirakan melonjak hingga 20 juta orang (skenario berat) dan juga ada kelompok rentan miskin yang cukup besar, skenario rush money akan menjalar ke permasalahan social unrest.

Menjaga daya ungkit

Untuk mencegah ini, pemerintah perlu melakukan beberapa hal. Pertama, mitigasi pandemi dengan baik sehingga kepercayaan pasar bisa lebih terkelola. Kedua, mempercepat eksekusi stimulus, terutama pada kelompok rentan miskin.

Untungnya Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah cukup waspada terhadap potensi negatif dari pandemi ini. Berdasarkan penelusuran mesin kecerdasan buatan (Artifi sial Intelligence) kami, Sri Mulyani menjadi Menteri yang paling awal bersuara mengenai dampak covid-19, bahkan lebih awal jika dibandingkan dengan Terawan sebagai Menteri Kesehatan.

Sri mulyani tampak serius melakukan langkah-langkah mitigasi demi menangkis dampak dari covid-19 terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini cukup pivotal mengingat dampak ekonomi dari virus ini memang cukup serius dan menebarkan ketakutan pada pasar.

Rangkaian kebijakan yang dikeluarkan juga tampak cukup inline untuk tetap menjaga daya ungkit perekonomian di tengah pandemi. Salah satunya ialah dengan memperluas cakupan jaring pengaman sosial serta penambahan dana stimulus hingga Rp677,2 triliun yang terangkum dari program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Anggaran pemulihan ekonomi terbagi menjadi dua, yaitu dari sisi demand dan sisi supply. Dari sisi demand, pemerintah menganggarkan dana Rp205,20 triliun yang akan digunakan untuk perlindungan sosial.

Dari sisi supply, anggaran yang dialokasikan ialah sebesar Rp384,45 triliun untuk menolong sektor usaha serta para pelaku industri agar bisa tetap beroperasi dan bertahan.

Meskipun sudah meningkat, menurut perhitungan kami, idealnya stimulus tersebut bisa ditingkatkan hingga Rp1.000 triliun dengan mempertimbangkan kebutuhan perluasan jaring pengaman sosial, kebutuhan modal kerja UMKM. Utamanya, kelompok ultramikro serta bantalan bagi 120 juta orang aspiring middle class.

Sebagai perbandingan dengan negara lain, pemerintah Australia dan Singapura menggelontorkan stimulus hingga 10,9% dari total produk domestik bruto (PDB). Amerika Serikat memberikan stimulus sebesar 10,5% dari total PDB. Selain itu, juga Malaysia merogoh anggarannya hingga sebesar 10% dari total PDB.

Sementara itu, Jepang bahkan memberikan paket stimulus hingga 20% dari PDB, sebuah besaran yang disebut Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sebagai paket stimulus kelas dunia.

Indonesia jelas berada di liga yang berbeda mengingat paket stimulusnya masih di bawah 5% dari PDB. Meskipun demikian, saya melihat ini masih sesuatu yang cukup dinamis. Pemerintah tampaknya masih akan melakukan evaluasi dari sisi besaran dan periode pemberian stimulus. Ide besarnya ialah kebijakan triple S, yaitu spend, spend, dan spend.

Bengkaknya defisit APBN dan juga utang pemerintah merupakan sesuatu yang bisa ditoleransi asalkan paket stimulus bisa dieksekusi dengan cepat. Meskipun pengalaman empiris memberi hikmah bahwa kebijakan fiskal lebih sering terkendala dalam situasi resesi yang dimunculkan dari sisi supply, untuk mengungkit demand di jangka pendek, stimulus ini sangat dibutuhkan. Selain daya beli (ability to spend) yang tertekan, masyarakat juga mengalami penurunan keinginan belanja (willingness to spend) karena cenderung menghindari risiko (risk averse) penularan virus selama pandemi.

Hal itu butuh diungkit segera dengan harapan momentum pertumbuhan ekonomi di jangka panjang akan tetap terjaga dan terhindar dari histerisis ekonomi. Untuk itu, fokus perhatian di jangka pendek selain perluasan jaring pengaman sosial juga menyokong tumbuh UMKM.

Betapa tidak, UMKM memiliki peran sentral dalam perekonomian. Yang menjadikan keberadaan UMKM kuat karena keberadaannya tersebar di seluruh penjuru negeri dan menguasai sekitar 99% aktivitas bisnis di Indonesia dengan lebih dari 98% berstatus usaha mikro. Bahkan, pada saat krisis global melanda dunia, kontribusi UMKM dalam roda perekonomian Indonesia masih berdiri tegak.

Paket stimulus

Akan tetapi, pandemi pada 2020 menimbulkan efek yang berbeda dengan krisis pada 1998 dan 2008. Jika pada periode tersebut UMKM berhasil menjadi bantalan perekonomian Indonesia dari tekanan eksternal, pada 2020 ini UMKM harus terhambat aktivitasnya karena adanya pembatasan mobilitas ekonomi.

Untuk menyelesaikan permasalahan UMKM, kita perlu membaginya menjadi dua bagian skenario penyelamatan. Pertama, survival mode dengan perluasan jaring pengaman sosial. Mayoritas UMKM justru berada pada kategori aspiring middle class yang butuh bantuan di jangka pendek. Bantuan ini sudah dianggarkan dalam paket stimulus pemulihan ekonomi nasional, yaitu dengan dukungan konsumsi sebesar 172 triliun.

Tahap berikutnya ialah jika infeksi sudah mulai melandai, UMKM perlu diberikan stimulus lanjutan untuk dapat mengembangkan aktivitas bisnisnya dengan dukungan finansial dari sektor keuangan hingga perbankan.

Pada Peraturan OJK No 11 Tahun 2020 sebenarnya telah diatur kebijakan restrukturisasi dan relaksasi kredit perbankan sebagai bagian dari strategi countercyclical dari pandemi covid-19. Namun, peraturan OJK tersebut masih mendapatkan hambatan di lapangan karena dukungan jaminan terhadap penyaluran kredit perbankan tersebut masih belum jelas.

Dengan kenyataan bahwa mayoritas UMKM bahkan belum terhubung dengan sektor perbankan, peluang UMKM untuk mengajukan kredit juga cukup kecil. Hal ini didasari oleh perilaku hindar risiko (risk averse) dari perbankan.

Untungnya, Peraturan Pemerintah No 23 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional telah mengatur penempatan dana pemerintah pada bank jangkar. Dengan demikian, perilaku risk averse dari perbankan sedikit banyak akan terselesaikan mengingat sudah ada bantalan likuiditas yang terjamin penuh.

Hystereo perekonomian Yunani bisa kita lihat dari data meskipun ketika fakta ini saya ceritakan ke Thomas Pappas, teman saya asal Yunani, dia pasti akan selalu menyangkal. "Tidak bung, kami baikbaik saja," katanya. Masyarakat Yunani meski perekonomiannya sedang terjerembab, tidak pernah kehilangan pesonanya.

Pernah suatu waktu saya naik bus di pinggiran Kota Yunani dan kebetulan uang saya tertinggal di hotel. Sesosok wanita anggun di dekat saya, tanpa basa-basi, langsung memberikan uangnya ke sopir, membayari saya yang sedang kebingungan. Ah, ternyata Thomas Pappas benar, negeri itu dianugerahi cinta Aphrodite.

BERITA TERKAIT