21 June 2020, 05:45 WIB

Lauk Daun karena Korona


Dony Tjiptonugroho Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend

AWAL April lalu saya melihat seorang teman mengunggah status Whatsapp berupa video lelucon. Dalam video itu tampil seorang asisten rumah tangga dan majikannya. Dialog mereka menghibur saya sejenak di tengah wabah awal tahun ini.

Si asisten rumah tangga sedang menyiapkan sayur untuk dimasak ketika majikannya datang. Si majikan mempertanyakan pilihan asisten rumah tangganya yang berhari-hari hanya memasak sayur. Ia meminta asisten rumah tangganya itu berhenti memasak sayur. “Bosan tiap hari lihat daun hijau lagi daun hijau lagi. Lauk yang lain, kek.”

Si asisten rumah tangga menanggapi, seingat saya kira-kira begini, “Lah, Nyonya, sekarang ini kan lauk daun disarankan untuk menjaga kesehatan pas lagi ada virus korona. Orang-orang bilang harus lauk daun di rumah biar enggak ketularan virus korona.”

Si majikan tertegun sepersekian detik lalu berkata, “Itu lockdown, Bi. Bukan lauk daun seperti ini.” Gantian si asisten rumah tangga yang bengong, menunjukkan air muka tak mengerti dan masih tak setuju ketika majikannya berlalu.

Saya tertawa karena salah tangkap istilah lockdown itu. Mengandalkan pendengaran memang bisa menimbulkan ketidakakuratan dalam menerima informasi.

Dalam ajaran komunikasi sebagai transmisi pesan, ada hal-hal yang mengganggu kejernihan penyampaian pesan. Ada noise yang memecah perhatian. Akhirnya penerima pesan membuat persepsi yang keliru.

Dampaknya bisa terjadi communication breakdown, seperti dilantunkan Led Zeppelin di lagu Communication Breakdown. ‘Communication breakdown It’s always the same I’m having a nervous breakdown Drive me insane

Komunikasi yang tak sampai--atau pantun masa kininya Jaka Sembung naik ojek, nggak nyambung Jek--memang bisa berbuah macam-macam rasa, dari mangkel hingga frustrasi. Bikin gila juga, teriak Robert Plant si vokalis grup rock itu.

Video itu memang hasil kreativitas orang dalam memanfaatkan keterputusan komunikasi karena penyerapan informasi berdasarkan indra pendengaran.

Namun, saya juga menangkap adanya pelampiasan emosi si kreator dalam situasi wabah virus korona ini. Informasi tentang virus itu yang begitu banyak didapat berbenturan dengan realitas yang dihadapi orang.

Berseliweran informasi mulai ciri dan cara penularan hingga pencegahan penularannya dari diri sendiri lewat jaga jarak fisik dan lewat cara yang diulang-ulang digaungkan di banyak saluran komunikasi: lockdown.

Namun, bukan lockdown--atau karantina wilayah dalam bahasa undang-undangnya-- yang diterapkan, justru istilah baru lagi yang diberlakukan, pembatasan sosial berskala besar.

Muncul lagi keterputusan komunikasi karena pembatasan yang dipopulerkan dengan singkatan PSBB itu berbeda dengan lockdown. Padahal, lockdown sudah diproses dan diterima alat penerima pesan dalam benak masyarakat sebagai keniscayaan dalam menanggulangi penyakit yang ditimbulkan virus itu, yang sebenarnya berbentuk indah bak korona matahari.

Berikutnya memang ditransmisikan makna dan maksud pembatasan sosial berskala besar kepada masyarakat. Ketika komunikasi efektif membutuhkan waktu, situasinya justru mendesak semua pihak untuk segera mematuhi PSBB.

Memperbaiki keterputusan komunikasi membutuhkan rasa menerima adanya kesalahan, ketenangan, fokus pada kesatuan, pengutamaan orang alih-alih argumen, dan kesabaran. Namun, membahasakannya lebih mudah daripada mempraktikkannya agar tak muncul lauk daun lagi, lauk daun lagi.

BERITA TERKAIT