19 June 2020, 16:04 WIB

Warga Banten Tolak Rapid Test karena Khawatir Dinyatakan Positif


Nur Azizah | Humaniora

RATUSAN warga Banten menolak menjalani pemeriksaan tes cepat atau rapid test karena takut dinyatakan positif.

Baca juga: Fraksi PKS Tolak Rapid Test Karena Rakyat Lebih Membutuhkan

"Ya betul (ada penolakan), tapi setelah saya dalami ke masyarakat bukan karena ketidaktahuan soal rapid test. Tapi faktor psikologis," kata Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta, Jakarta Timur, Jumat (19/6).

Baca juga: Puluhan Warga Tolak Rapid Test, Satgas Covid-19 Siapkan Dua Cara

Andika menyebut masyarakat takut bila harus diisolasi. Mereka tak mau berpisah dari keluarga dan dirawat di rumah sakit. "Mereka khawatir kalau positif ada sesuatu yang harus dijauhi. Seperti mereka harus terpisah dari keluarga dan harus menjalani karantina," ungkapnya.

Baca juga: Warga Blokade Jalan Tolak Rapid Test

Andika mengaku sudah melakukan pendekatan kepada sejumlah kelompok terkait rapid test. Ia menjelaskan bahwa rapid berguna untuk mendeteksi dan mencegah penyebaran virus.

"Kita sudah lakukan pendekatan personal. Dalam lingkup pondok pesantren juga kita lakukan. Kita berikan info lebih detail. Alhamdulillah semua sudah berjalan," ujarnya.

Baca juga: Ada Dugaan Provokator di Balik Penolakan Rapid Test di Flotim

Ratusan warga di Kampung Masigit, Kelurahan Masjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, pada Senin (15/6) menolak ikuti rapid test. Mayoritas dari mereka bahkan memilih untuk mengungsi. (X-15)

BERITA TERKAIT