18 June 2020, 06:18 WIB

Pelajar Indonesia Jadi Jembatani Kerja Sama Energi RI-Rusia


Panca Syurkani laporan dari Moskow | Internasional

DUTA Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarus Mohamad Wahid Supriyadi mendukung para mahasiswa Indonesia di Rusia yang tergabung dalam Komunitas Migas Indonesia Wilayah Rusia dan Eropa Timur (KMI RET) untuk mempelopori kerja sama Indonesia-Rusia dalam sektor energi. Hal itu ia sampaikan dalam halalbihalal virtual yang digelar KMRI RET beberapa waktu lalu.

Menurut Wahid, bahasa menjadi kendala utama yang sering dijumpai dalam menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Rusia. Oleh karena itu, ia berharap KMI RET dapat menjembatani kerja sama bilateral Indonesia dengan Rusia. Ia yakin, dengan pendekatan dan komunikasi yang baik, akan banyak perusahaan yang menanggapi pengajuan kerja sama secara positif. Wahid menekankan KBRI sangat terbuka dan siap untuk membantu memfasilitasi pelaku bisnis, termasuk dalam bidang energi yang ingin menjalin kerja sama.

Selain menduduki peringkat ketiga di dunia dalam hal produksi minyak, Rusia juga memiliki teknologi yang bagus dan murah.

"Rusia dalam segi produksi minyak merupakan negara terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi. Rusia sangat hemat dan ekonomis dalam masalah energi. Selain itu, teknologinya juga sangat bagus dan murah," ujar dubes. 

Dubes juga menyinggung kerja sama pembangunan kilang minyak di Tuban antara Pertamina dengan perusahaan minyak Rusia, Rosneft, masih berjalan hingga saat ini.

Selain minyak, Wahid juga membahas sektor energi nuklir. Menurutnya, Badan Nuklir Rusia, Rosatom, sangat ingin membantu Indonesia dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Namun, izin pembangunan PLTN di Indonesia masih belum jelas hingga saat ini. Untuk itu, Wahid meminta KMI RET dapat berperan dalam mengubah stigma negatif masyarakat Indonesia terhadap nuklir.

baca juga: ASEAN-Rusia Kerja Sama Atasi Pandemi

Ketua KMI RET Muhammad Iksan Kiat mengatakan ntuk mewujudkan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional dibutuhkan skema dan cakupan yang lebih besar, serta waktu persiapan yang banyak. Oleh karena itu, ia bersama para mahasiswa yang tergabung di KMI RET dan Komisi Energi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia mengamati secara aktif perkembangan kebijakan energi maupun teknologi yang ada di negara-negara tempat mereka menempuh studi masing-masing. Selain itu, mereka juga berkomitmen untuk menjembatani Indonesia dalam kerja sama sektor energi, baik dengan Rusia dan Eropa Timur, maupun dengan seluruh dunia melalui PPI Dunia.

KMI RET berencana menyelenggarakan program Pekan Energi dalam rangka mendukung kerja sama bilateral Indonesia-Rusia dalam bidang energi secara daring dengan melibatkan  para pemangku kepentingan, profesional, dan akademisi, baik dari Rusia maupun Indonesia.  (OL-3)

BERITA TERKAIT