18 June 2020, 02:04 WIB

Bising di Medsos, Fungsi Edukasi & Hiburan Mesti Dikembalikan


Syarief Oebaidillah | Humaniora

PLATFORM media sosial sering berkembang jadi arena adu debat secara emosional, terutama jika terkait dengan pernyataan publik figur tertentu yang diunggah ke media sosial.

Anggota Komisi I DPR RI Farah Puteri Nahlia pun mengimbau pengguna dan penggiat media sosial untuk mengembalikan fungsi medsos sebagai platform edukasi dan hiburan, dibanding jadi arena debat penuh emosi.

"Kita harus hati-hati dan ahli karena menyangkut substansi lalu jangan larut emosi sehingga tak bisa membatasi. Ingat, ada Undang Undang dan aturan hukum yang membatasi. Juga jangan sampai memicu fitnah atau ujaran kebencian. Mari kita kembalikan media sosial sebagai sarana pendidikan dan hiburan,” kata Farah Putri Nahlia melalui keterangan tertulis, Rabu (17/6).

Ia menjelaskan, perdebatan penuh emosi dalam media sosial justru menciptakan noise atau kebisingan yang mengaburkan substansi, hingga subtansi dari perdebatan pun sering bergeser menjadi debat kusir tak berujung yang dapat mengandung fitnah dan kekerasan verbal.

Baca juga : Kesalahan Postur Tubuh Berdampak Serius

Salah satu kebisingan yang timbul di Medsos menurut Farah ialah komentar terkait unggahan komika Gusti Muhammad Abdurrahman Bintang Mahaputra atau Bintang Emon yang menyoroti tuntutan jaksa dalam penyiraman air keras ke penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan.

Saling rundung hingga masuk ke ranah pribadi oleh pengguna medsos dalam mengomentari unggahan Bintang Emon diakui Farah amat disayangkan.

"Pertama kita perlu mendudukkan dulu masalahnya. Disatu sisi hak yang bersangkutan Bintang Emon sebagai warga negara, mengkritisi apa yang terjadi di persidangan. Disisi lain ada warga negara lain yang mungkin membela persidangan, yang saya sayangkan adalah fakta bahwa hari ini di medsos lebih banyak debat emosi, bukannya debat substansi,” pungkas Farah. (OL-7)

BERITA TERKAIT