17 June 2020, 05:36 WIB

Belajar dari Skotlandia


Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group | Opini

KAPAN sekolah dibuka kembali? Jawaban paling aman ialah yang paling akhir setelah perkantoran, mal, dan tempat rekreasi dibuka.

Jawaban itu menunjukkan di dalam hal dibukanya kembali sekolah dianut kebijakan prokesehatan masyarakat yang paling hati-hati. Akan tetapi, pemerintah kita bukan penganut garis keras prokesehatan masyarakat. Di tengah pertarungan kebijakan proekonomi rakyat versus kebijakan prokesehatan masyarakat, kita penganut jalan tengah.

Skotlandia kiranya contoh terbaik penganut kebijakan garis keras prokesehatan masyarakat untuk semua dimensi kehidupan. WHO menggariskan jaga jarak minimal 1 meter. Inggris menerapkan ketentuan jaga jarak 2 meter. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson ingin menurunkannya menjadi 1 meter.

Akan tetapi, Skotlandia tetap bertahan menegakkan norma jaga jarak 2 meter sekalipun datang tekanan dari berbagai perusahaan besar, seperti Ovo Energy, Macdonald Hotels, dan Rolls-Royce, yang didukung Kamar Dagang Skotlandia.

Dampak ekonomi garis keras prokesehatan masyarakat itu dramatis. Contohnya, Macdonald Hotels Group memberhentikan 80% karyawannya. Group itu menderita kerugian £2 juta (Rp35,6 miliar) per bulan.

Hotel di Inggris akan buka secara terbatas mulai 4 Juli 2020. Skotlandia baru akan membuka sektor turisme pada fase ketiga, 15 Juli 2020. Itu pun masih dengan ketentuan pub, restoran, museum, dan sinema boleh buka dengan tetap berlaku norma jaga jarak 2 meter.

Demikianlah Skotlandia yang dipimpin Menteri Pertama (First Minister) Nicola Sturgeon dari Scottish National Party, tak ingin tergesa melonggarkan protokol kesehatan demi bergeraknya ekonomi.

Skotlandia punya route map sangat sistematis dalam menghadapi pandemi korona. Lockdown dicabut dalam empat fase berdasarkan bukti-bukti epidemiologi dan kesehatan, yakni angka penyebaran infeksi R turun berkelanjutan, tak ada kasus baru, yang dirawat di rumah sakit dan ICU menurun, juga kematian. Publik di seluruh dunia secara terbuka dapat menyimaknya melalui gov.scot atau nrscotlans.gov.uk.

Relaksasi lockdown fase pertama mulai 28 Mei 2020. Pada saat itu angka penyebaran korona R berada di antara 0,7 dan 1,0 selama 4 minggu. Jumlah kasus baru mulai menurun. Demikian pula yang dirawat di rumah sakit, yang masuk ICU, dan kematian yang semuanya
menurun dalam tiga minggu. Pada 5 Juni 2020, sebanyak 4.500 penduduk Skotlandia terinfeksi korona atau 0,08% dari total penduduk 5,4 juta. Pada saat itu angka R di Skotlandia antara 0,6 dan 0,8 merupakan penyebaran infeksi terendah di Inggris. Sekalipun angka reproduksi korona paling rendah, Skotlandia baru memulai fase ke dua pelonggaran lockdown pada 18 Juni 2020.

Ekonomi Skotlandia bergantung sangat signifikan pada turisme, minyak, dan gas. Pub dan restoran besar mengkritik kebijakan pemerintah. Mereka dibolehkan kembali buka, tetapi tak efisien akibat aturan jaga jarak 2 meter. Dengan aturan itu pub atau restoran kecil praktis tak ada gunanya buka.

Dampak norma jaga jarak 2 meter itu tak hanya menimpa bisnis hospitality. Dengan ketentuan itu sekolah tak bisa dibuka penuh untuk semua murid dan untuk semua sekolah. Pemerintah Skotlandia menggariskan jaga jarak 2 meter itu tak hanya di kelas, tapi juga di ruang guru, di halaman, bahkan di toilet.

Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon bilang berhentilah melihat norma jaga jarak 2 meter versus 1 meter sebagai patung berhala atau sebagai posisi ideologi. Jarak 2 meter terus dievaluasi.

Akan tetapi, dia tak akan mengendurkan norma jarak 2 meter menjadi 1 meter bila hal itu menyebabkan rakyat Skotlandia kembali terserang korona dan lockdown terpaksa kembali dilakukan.

Dalam hal sekolah dibuka kembali, kiranya kita dapat ‘belajar’ dari garis keras Skotlandia. Tegakkanlah norma jaga jarak 2 meter (bukan 1 meter). Tak hanya di kelas, juga di ruang guru, di halaman sekolah, di toilet.

BERITA TERKAIT