17 June 2020, 05:27 WIB

Atasi Defisit, Dorong Pertumbuhan


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

DAMPAK pandemi covid-19 terhadap perekonomian nasional terlihat sudah. Selama Mei, dilaporkan terjadi defi sit Rp179,6 triliun atau 21,1% dari defisit yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020.

Pertumbuhan ekonomi pun hanya akan tumbuh minus 3,1% pada kuartal II 2020. Untuk mengurangi defisit dan mendorong pertumbuhan, pemerintah meningkatkan anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) dari Rp677,2 triliun menjadi Rp695,2 triliun.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, defi sit di atas setara 1,01% terhadap defisit pendapatan domestik bruto (PDB) yang ditetapkan dalam Perpres 54/2020 sebesar 5,07%. Dalam Peraturan Presiden 54/2020 tentang Perubahan Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, defi sit ditetapkan sebesar Rp852,9 triliun.

“Ini terjadi kenaikan 42,8% dari defisit Mei tahun lalu karena memang terlihat penerimaan negara mengalami kontraksi,” ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual bertajuk APBN KiTa, kemarin.

Mengenai pertumbuhan ekonomi, Sri Mulyani menuturkan kuartal II 2020 yang hanya akan tumbuh minus 3,1% itu merupakan penurunan tajam jika dibandingkan dengan kuartal I yang positif 2,97%. Penurunan itu, ditegaskannya, akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan penyebaran covid-19.

Naiknya anggaran PEN sebesar Rp18 triliun, masih kata Menkeu, diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah lebih baik pada kuartal III dan IV 2020.

Tidak terhindarkan

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut kontraksi pada pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 tidak dapat dihindarkan.

“Inflasi sisi permintaan rendah dipengaruhi lemahnya daya beli masyarakat mengingat aktivitas produksi yang terganggu akibat kebijakan
PSBB di berbagai daerah. Karena itu, pertumbuhan ekonomi Q2 2020 diperkirakan kembali melambat dan berpotensi kontraksi -2% hingga -3%,” cetus Josua, kemarin.

Ekspektasi konsumsi rumah tangga yang terkontraksi pada triwulan II 2020, menurut Josua, mengindikasikan juga dampak penyaluran jaring
pengaman sosial dan bansos belum cukup optimal meningkatkan daya beli masyarakat.

Anggota Komisi XI DPR Hendrawan Soepratikno berpendapat dampak pandemi covid-19 telah memberatkan perekonomian nasional. Untuk menghadapi dampak itu, pemerintah diminta merespons cepat dan tepat.

“Kecepatan dan ketepatan pemerintah dalam mengambil kebijakan menjadi kunci dalam penyelamatan ekonomi nasional. Bila dalam dua kuartal mendatang pemulihan tidak terjadi, otomatis Indonesia berada dalam lubang resesi,” tegas Hendrawan.

Direktur riset dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menuturkan pertumbuhan ekonomi diharapkan hanya terkontraksi di triwulan II. Pada triwulan selanjutnya diprediksi membaik. “Minusnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan II tidak berarti Indonesia mengalami resesi sebab resesi terjadi bila pertumbuhan terkontraksi selama tiga triwulan berturut-turut.”

Menurut Piter, hal itu telah diprediksi sejak awal karena adanya pandemi covid-19.

Sementara itu, hingga kemarin, jumlah pasien positif covid-19 secara nasional telah mencapai 40.400 orang. Sebanyak 15.703 orang dinyatakan sembuh dan 2.231 meninggal. (Mir/Des/Ata/ X-6)

BERITA TERKAIT