16 June 2020, 04:38 WIB

DPR Desak Audit Alutsista TNI


Cah/RK/X-11 | Politik dan Hukum

DPR mendesak Kementerian Pertahanan untuk mengaudit alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki TNI. Itu penting dilakukan sebagai bagian dari penguatan sistem pertahanan nasional.

Anggota Komisi I DPR, Willy Aditya, menyatakan hal tersebut terkait dengan jatuhnya pesawat tempur TNI-AU jenis Hawk 209 di permukiman warga di Desa Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, kemarin. Sebelumnya, helikopter MI-17 milik TNI AD juga jatuh di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (6/6).

“Perkembangan ancaman pertahanan terus berubah. Peralatan dan perlengkapan yang dipakai TNI harus menyesuaikan dengan situasi kekinian, termasuk pesawat yang dipakai. Kejadian berturut-turut ini harus mendapat perhatian serius,” kata politikus Partai NasDem itu, kemarin.

Adapun Wakil Ketua Fraksi PKS, Sukamta, menyatakan PT Dirgantara Indonesia bisa menjadi sandaran untuk peremajaan alutsista. “Semoga ke depan kita bisa memenuhi sendiri kebutuhan alutsista dalam negeri secara dominan dan minim impor alutsista,” tegasnya.

Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto mengatakan kecelakaan terjadi saat pesawat akan mendarat kembali dari latihan rutin terjadwal pukul 08.13 WIB.

“Pilot Lettu Pnb Apriyanto Ismail sempat eject (keluar dengan kursi pelontar) dan selamat. Pesawat kondisi rusak berat atau total lost, menimpa dua rumah warga yang dalam kondisi kosong. Tidak ada korban jiwa,” ungkap Fajar.

Ia mengatakan TNI-AU akan mendalami keterangan pilot yang berasal dari Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, itu serta memeriksa lokasi kejadian dan pesawat.

Penyebab kecelakaan pesawat buatan 1990 ini akan muncul setelah seluruhnya tuntas. Namun selama ini, kata Fajar, pesawat ini tidak memiliki catatan serius karena selalu mendapatkan perawatan rutin.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menilai jatuhnya pesawat kecil kemungkinan diakibatkan human error. Alasannya pilot dalam kondisi stabil dan berusaha menguasai pesawat. “Tapi kalau human error di luar pesawat seperti maintenance hingga sabotase, itu bisa saja terjadi,” jelasnya. (Cah/RK/X-11)

BERITA TERKAIT