15 June 2020, 18:22 WIB

Pesawat TNI Jatuh Lagi, Peremajaan Alutsista Perlu Dipercepat


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

DUA alat utama sistem persenjataan TNI gagal beroperasi hany berselang waktu yang singkat, yaitu jatuhnya helikopter Mi-17 milik TNI AD di Kendal, Jawa Tengah dan jatuhnya pesawat temnpur BAe-Hawk 209 milik TNI AU di Kampar, Riau.

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta menilai pemerintah perlu mempercepat peremajaan alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI.

"Kita sangat perlu terus meng-ABG-kan atau meremajakan alutsista kita. Kita harus akui ada alutsista kita yang berusia sudah tua meskipun masih dinyatakan laik terbang, apalagi hanya untuk latihan misalnya," katanya dalam keterangan resmi, Senin (15/6).

Menurut Wakil Ketua Fraksi PKS ini pesawat milik TNI sudah beberapa kali jatuh. Awal 2016 pesawat Tucano jatuh di Malang, kemudian akhir 2016 pesawat Hercules C-130 juga jatuh di Wamena. Awal Juni ini juga helikopter milik TNI AD jatuh di Kendal, menewaskan empat orang.

"Ini wajah alutsista kita yang tidak bisa kita pungkiri," ujarnya.

Oleh karena itu, Sukamta mendorong evaluasi rutin dilakukan dan membuat standar baru yang lebih tinggi mengenai kondisi kelayakan terbang pesawat alutsista. Pesawat yang selama ini masih dikatakan laik terbang oleh standar lama, bisa jadi sudah tidak laik terbang menurut standar baru nanti.

Baca juga : Pengamat Duga Kecelakaan Pesawat Hawk Karena Masalah Perawatan

"Jadi cuma pesawat yang tergolong ABG saja yang layak diterbangkan. Ini lebih baik untuk keselamatan kita semua, bangsa ini," ungkapnya.

Jangan sampai anekdot yang beredar terus menjadi kenyataan yakni pesawat tempur Indonesia tidak perlu ditembak nanti jatuh sendiri. Ini juga terkait marwah pertahanan Indonesia di hadapan dunia internasional.

“Tahun 2020 ini bertepatan dengan mulai masuknya kita pada tahap minimum essential force (MEF) ke-4, yaitu tahun 2020-2024. Kejadian ini sekaligus bisa menjadi momentum bagi kita untuk terus mengevaluasi dan memperkuat alutsista kita," paparnya.

Menurut dia, PT Dirgantara Indonesia bisa menjadi sandaran untuk peremajaan alutsista.

"Semoga ke depan kita bisa memenuhi sendiri kebutuhan alutsista dalam negeri secara dominan dan minim impor alutsista, sehingga kebutuhan anggarannya bisa ditekan dan dioptimalkan untuk dapat spesifikasi yang tinggi,” pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT