15 June 2020, 19:00 WIB

Emisi Industri Susu Perburuk Krisis Iklim


Fathurrozak | Weekend

Laporan oleh Institut Pertanian dan Kebijakan Perdagangan (Institute for Agriculture and Trade Policy-IATP) di Amerika Serikat menunjukkan dampak dari 13 perusahaan susu yang ada di dunia terhadap krisis iklim. Ada peningkatan emisi sebesar 11% dalam dua tahun setelah perjanjian perubahan iklim Paris 2015, sebagian besar disebabkan oleh sektor ini. 

Dilansir The Guardian, Senin (15/6), laporan itu menunjukkan bahwa konsumsi susu serta daging, harus dikurangi secara signifikan di negara-negara kaya untuk mengatasi darurat iklim. Peneliti juga mengatakan pertumbuhan perusahaan susu raksasa memaksa harga susu berada di bawah biaya produksi selama satu dekade terakhir. Hal ini menyebabkan krisis mata pencaharian di wilayah pedesaan dan perlu adanya subsidi bagi wajib pajak agar peternak tetap bisa bertahan. 

Para peneliti mengatakan, pembatasan produksi harus diperkenalkan kembali untuk melindungi iklim dan peternak skala kecil. Sementara itu, produsen susu global terbesar adalah Uni Eropa, India, dan AS.

"Tidak seperti sektor perusahaan bahan bakar fosil, yang mengalami peningkatan pengawasan publik, tekanan publik untuk meminta perusahaan-perusahaan daging dan susu global bertanggung jawab atas emisi mereka masihlah kecil," kata direktur Eropa di IATP dan penulis laporan Shefali Sharma.

Laporan IATP menggunakan model penilaian lingkungan ternak global Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) untuk menetapkan tingkat emisi produk susu yang diproduksi di berbagai daerah. Ini kemudian diterapkan pada jumlah produksi perusahaan yang dihitung oleh IFCN dairy research network.

Lebih dari 90% emisi industri susu perusahaan dihasilkan dari gas metana peternakan sapi. Penelitian menunjukkan, semua susu nabati seperti kedelai dan oat, menghasilkan emisi yang jauh lebih sedikit daripada susu sapi.

Laporan IATP menemukan bahwa emisi dari perusahaan besar naik dari 306 juta ton setara CO2 pada 2015 menjadi 338 juta ton pada 2017. Sementara itu, emisi tahunan di Inggris adalah 350 juta ton per tahun.

Dalam suatu laporan bersama tahun 2019 oleh FAO dan Global Dairy Platform mengatakan, untuk membatasi kenaikan suhu, sektor industri susu harus mengurangi emisi gas rumah kaca dan bekerja menuju masa depan rendah karbon.  Emisi sektor industri susu meningkat sebesar 18% antara tahun 2005 dan 2015 karena produksi susu secara keseluruhan telah tumbuh secara substansial sebesar 30%. Kabar baiknya, ada banyak peluang di dalam sektor ini untuk membatasi perubahan iklim dengan mengurangi emisi. 

Sementara itu, dari perwakilan industri susu mengatakan laporan itu tidak mencerminkan realitas sektor industri susu. Dalam pernyataan bersama, presiden Federasi Susu Internasional Judith Bryans, dan direktur eksekutif Global Dairy Platform Donald Moore, mengatakan sektor susu berkomitmen untuk memproduksi makanan bergizi dengan cara yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

“Sangat mudah untuk mengeluarkan laporan yang mengkritik dan mencoba melukiskan gambaran sederhana dari suatu sektor yang tidak mengandung semua kenyataan tentang bagaimana sektor susu global memberi makan dunia dengan makanan yang kaya nutrisi, aman, dan tidak jadi dengan cara yang mengupayakan perbaikan lingkungan yang berkelanjutan, sambil menyediakan mata pencaharian bagi sebagian besar populasi dunia, ” kata Bryans dan Moore. (M-1)

BERITA TERKAIT