15 June 2020, 16:47 WIB

KSAU: Pesawat Hawk Berusia 30 Tahun, Namun Masih Layak Terbang


Antara | Politik dan Hukum

KEPALA Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Fadjar Prasetyo mengatakan bahwa pesawat Hawk 0209 TT yang jatuh di permukiman warga di Kecamatan Siak Hulu, Kampar, Riau pada Senin pagi dalam kondisi laik terbang.

"Pesawat laik terbang karena telah melalui proses pengecekan. Beberapa hari sebelumnya juga melaksanakan misi penerbangan dan berlangsung normal," kata Fadjar dalam keterangan pers di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Senin siang.

Dia mengatakan bahwa pesawat itu buatan tahun 1990 dan hingga saat ini telah menghabiskan 3.100 jam terbang. Meski telah berusia 30 tahun, dia mengatakan pesawat itu masih dianggap layak mengingat jam terbang dinilai normal.

"Pesawat ini buatan tahun 1990 dan sampai saat ini usia airframe-nya sudah 3.100 jam. Ini sebenarnya usia 3.100 jam tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Normal dari sisi usia penerbangan," ujarnya.

Untuk itu, ia mengatakan TNI AU akan segera melakukan investigasi mendalam terkait insiden tersebut. Ia memperkirakan, dibutuhkan dua pekan untuk melakukan investigasi penyebab jatuhnya pesawat tersebut.

"Kami akan melaksanakan investigasi. Dan ini membutuhkan waktu yang nantinya diharap dapat menemukan jawaban penyebab kecelakaan ini," ujarnya.

Lanud Roesmin Nurjadin memiliki dua Skadron tempur. Selain Skadron Udara 12, juga ada Skadron Udara 16. Pesawat tempur Hawk yang jatuh sekitar pukul 08.30 WIB itu diketahui baru selesai melaksanakan misi latihan tempur di Siabu.

Sesaat sebelum jatuh, Lettu Pnb Aprianto Ismail, pilot tunggal pesawat itu sempat melaporkan terjadi keganjilan pada bagian mesin. Kemudian, lampu indikator peringatan juga menyala yang mengindikasikan adanya kerusakan bagian mesin.

Selain itu, pilot juga sempat merasakan adanya suara ledakan pada bagian mesin hingga mesin pesawat buatan Inggris itu benar-benar kehilangan daya hingga terhempas dan jatuh menimpa rumah warga.

Lokasi jatuhnya pesawat, lanjut jenderal bintang empat itu, berada sekitar dua kilometer dari ujung landasan. Pesawat juga diketahui berada 500 kaki ketika kehilangan tenaga dan jatuh menimpa rumah warga.

Beruntung, rumah warga yang hancur akibat tertimpa badan burung besi itu dalam keadaan kosong. Fadjar juga memastikan kondisi pilot dalam keadaan baik dan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

"Penerbang melaporkan terjadi keanehan di mesin. Ada suara aneh diikuti lampu peringatan menyala ketika terjadi sesuatu tidak benar di mesin. Mesin kemudian kehilangan tenaga atau lost power. Namun pada saat itu komunikasi masih normal dan pilot memutuskan untuk eject dengan kursi pelontar," urainya. (OL-4)

BERITA TERKAIT