15 June 2020, 03:39 WIB

Keperihan Baru


Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group | Opini

SUASANA kebatinan warga sepertinya mengikuti suasana kebatinan pemerintah. Presiden bilang berdamai dengan korona, warga pun berdamai. Apa artinya berdamai?

Berdamai tak ada lagi perang. Untuk apa lagi rapid test? Petugas covid-19 yang datang ke Pasar Cileungsi untuk melakukan rapid test diusir pedagang. Di video yang beredar di media sosial terdengar suara seseorang menyampaikan terima kasih kepada pedagang telah kompak mengusir petugas.

Yang terjadi barangkali salah paham atas pernyataan Presiden. Barangkali orang takut dengan kenyataan pahit bahkan perih bahwa dirinya terbukti positif korona. Barangkali pedagang di pasar tak lagi punya daya tahan menghadapi keperihan hidup.

Setiap hari Gugus Tugas mengumumkan fakta memprihatinkan. Di Jakarta tak ada tanda-tanda kasus korona menurun. Padahal, penurunan kasus korona secara konsisten merupakan alasan kuat untuk sampai pada keputusan PSBB berakhir. Apakah ada yang aneh? Tidak.

Ketika Gubernur Jakarta memutuskan masa transisi mulai 5 Juni 2020, saat itu angka reproduksi korona R = 0,99. Di bawah angka 1, tapi belum aman. Alasan lain ialah penurunan penyebaran korona setelah PSBB, tak secepat penyebarannya sebelum PSBB. Penurunan terjadi secara inkremental.

Dengan jalan berpikir demikian itu, Prof David Hunter, profesor epidemiologi di Universitas Oxford berpendapat, lockdown Kota London baru boleh dicabut, bila telah tercapai R = 0,25. Ketika hal itu ditulisnya di The Guardian (28/5), tak seorang pun percaya London telah mencapainya.

Siapa percaya bahwa hari ini Jakarta telah mencapai R = 0,25? Bahkan sulit dipercaya telah meraih R = 0,50. Perkara yang sama untuk Surabaya, terlebih akibat Gubernur Khofifah dan Wali Kota Risma berseteru ego kekuasaan, sampai-sampai Badan Intelijen Negara (BIN) perlu turun tangan melakukan tes cepat korona di Surabaya.

Berdamai dengan korona ialah pilihan di tengah kejamnya pertarungan menegakkan kesehatan masyarakat berhadapan dengan upaya menyelamatkan ekonomi rakyat. India lebih dulu mengambil pilihan itu. Jutaan manusia di negara itu buruh harian. Dampak ekonomi tak ter pikulkan, dampak psikologi tak tertanggungkan. India sampai pada hitung-hitungan yang menyedihkan: tingkat kematian akibat korona 3%. Atas nama keperihan, lockdown dicabut tuntas.

India tak sendirian. Kasus korona meningkat, tetapi demi bergeraknya ekonomi, Meksiko, Rusia, Iran, Pakistan, mencabut lockdown. Apa substansi yang dapat dipetik? Kiranya pemikiran bergeser, bukan lagi pada berapa kasus meningkat, berapa yang mati, melainkan berapa yang sembuh.

Dengan kata lain, sebagian energi perlu dipindahkan dari urusan rapid test menjadi urusan tes antibodi. Menurut The In dependent (14/5), sejumlah negara seperti Inggris, AS, Italia, Australia, Tiongkok, Kanada, Jepang, dan Jerman telah melakukan tes antibodi.

Berapa antibodi penduduk Jakarta? Berapa pula antibodi penduduk Surabaya? Sejujurnya publik tak tahu. Bila R masih tinggi dan antibodi penduduk tak pula diketahui, sebetulnya wajar bila ada yang menilai bahwa ketergesaan membuka perekonomian yang dibungkus dalam pengertian kenormalan baru merupakan kebijakan menyongsong bencana yang lebih panjang dan lebih dalam. Sepertinya ada kepasrahan akan terbentuknya herd immunity, kekebalan sosial.

Rasanya pilihan tinggal mengurangi dampak buruk yang lebih luas, yakni pemerintah cepat tanggap kasus demi kasus untuk kembali melakukan isolasi setempat. Hal yang tak enak bagi siapa pun.

Kiranya terbayang hidup di dalam kenormalan baru ialah juga hidup di dalam keprihatinan baru, bahkan keperihan baru. Di mana moral pemerintah? Mati karena korona kenyataan perih di seluruh dunia. Mati karena ketidakberdayaan ekonomi (kelaparan), kegagalan pemerintah yang bersangkutan. Terjadilah keperihan bentuk lain: negara dapat gagal, tapi tak ada peme rintah mau dinilai gagal. Maka, demi pemerintah tidak disebut gagal, sekalipun kasus korona terus meningkat, lockdown dicabut.

BERITA TERKAIT