14 June 2020, 18:10 WIB

Edukasi Berkelanjutan Penting Untuk Hadapi Bahaya Covid-19


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

PEMBATASAN Sosial Berskala Besar (PSBB) jika dilakukan terus-menerus, bisa dipastikan ekonomi Indonesia akan memburuk secara masif. Mengutip data dari Kementerian Ketenagakerjaan, dokter dan aktivis kemanusiaan Tirta Mandira Hudhi mengungkapkan, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja telah mencapai angka dua juta orang.

Bersamaan dengan itu, pertumbuhan ekonomi hanya angka dua persen pada kuartal pertama 2020, banyak UKM gulung tikar, diikuti dengar terpuruknya sektor ekonomi di bidang pariwisata, APBN yang tidak yakin cukup menutup kebutuhan, hingga BPJS yang saat ini dalam keadaan gagal bayar.

Hal tersebut disampaikan Tirta dalam seminar Kagama Health and Caring bertopik New Normal: Perilaku Hidup Sehat, Bijak Memilih Obat dan Suplemen Kesehatan Selama Pandemi Covid-19 secara daring. Acara yang digelar Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada tersebut dihadiri sekitar 500 orang peserta. 

"Solusinya apa? Ya edukasi ke masyarakat terus menerus. Covid-19 merupakan masalah besar yang tidak akan pernah mudah dihadapi, kita harus akui kenyataan itu," tegasnya.

Lebih jauh Tirta menyampaikan saat ini Indonesia harus menghadapi dunia baru yang sangat abu-abu yaitu new normal. Dalam new normal, masyarakat diperbolehkan beraktivitas kembali, tetapi dengan mematuhi protokol pencegahan Covid-19, termasuk menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan lain-lain.

"Pertanyaannya, sampai kapan kita akan pakai masker terus ? Jawabnya tidak bisa dipastikan pandemi ini kapan berakhir," jelas alumnus FK-KMK UGM angkatan 2009 itu.

Terlepas dari berbagai kendalanya, edukasi menjadi salah satu cara yang dinilai masih relevan untuk menangani Covid-19 hingga hari ini. Tak peduli jikalau masyarakat merespon negatif.

Baca juga : Pasien Covid-19 Sembuh di Indonesia Tambah 755 jadi 14.531 Orang

"Edukasi ini juga bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Kita lihat banyak orang tidak mengindahkan protokol kesehatan, mengambil paksa jenasah dan menolak rapid test." ujarnya.

Menurut pria asal Surakarta, Jawa Tengah ini, masyarakat, pemerintah, dan akademisi harus bersinergi. Dia mengimbau para akademisi, agar menjadi "lilin" bagi daerahnya sendiri.

"Apapun media yang Anda punya, buatlah narasi positif untuk lingkungan sekitar. Kontennya fokus pada penanganan dan pencegahan Covid-19," tegasnya.

Di samping edukasi, wajib pula terus melakukan tracing, serta meningkatkan fasilitas kesehatan, termasuk penelitian vaksin dan obat-obatan.

Pandemi Covid-19 menyadarkan dan menjadi pelajaran barharga betapa pentingnya penelitian di bidang kesehatan. Antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat wajib mengingatkan soal ini.

"Dari berbagai kendala yang ditemui saat penanganan Covid-19. Kita jadi tahu bahwa  kesehatan bukan menjadi prioritas negara ini sejak zaman dulu.Kita tidak fokus pada pengembangan obat dan tidak fokus pada penelitian. Selama ini kita hanya fokus pada pengembangan ekonomi makro," pungkas dokter muda yang juga membuka usaha sepatu ini.

Tirta mengatakan, Indonesia lupa bahwa kesuksesan ekonomi makro seketika bisa hilang karena virus. Ini menjadi refleksi bersama. 

"Penting juga bagi masyarakat Indonesia untuk bersatu mencari solusi dan menghadapi kondisi sekarang. Ini baik dilakukan daripada saling menyalahkan," pungkasnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT