13 June 2020, 08:50 WIB

Dubes Libia di PBB Tuntut Penyelidikan Kematian Warga Sipil


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Duta Besar Libia untuk PBB Taher el-Sonni, Jumat (12/6), meminta Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyelidiki kejahatan perang yang dilakukan panglima perang Khalifa Haftar di Tarhuna, markas panglima pemberontak itu di Libia barat.

"Pembicaraan politik macam apa yang menurut Anda masih mungkin dilakukan dengan penjahat perang seperti itu? Apakah Mahkamah Pidana Internasional perlu bukti lebih lanjut terhadapnya?" cuit Taher el-Sonni di Twitter.

El-Sonni mengatakan setidaknya ada delapan kuburan massal. Lalu ada mayat orang di kota itu, beberapa dikubur hidup-hidup. Ada yang ditemukan terbaring di sumur dan kontainer. Semua dibunuh selama milisi Haftar menguasai Tarhuna.

Pekan lalu, dia menyerukan dilakukan penyelidikan oleh PBB atas kematian sejumlah warga di Tarhuna. Permintaan itu datang melalui telepon antara El-Sonni dan Rosemary A. DiCarlo, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian.

Baca juga: Kasus Covid-19 India Melonjak ke Urutan Keempat Dunia

Tentara pemerintah Libia yang diakui PBB, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) membebaskan Tarhuna Jumat lalu dari pasukan Haftar.

GNA telah diserang oleh pasukan Haftar sejak April 2019. Akibatnya lebih dari 1.000 tewas dalam kekerasan tersebut.

Pada Maret lalu, GNA meluncurkan Operasi Badai Perdamaian untuk melawan serangan Haftar di ibu kota dan baru-baru ini merebut kembali lokasi strategis, termasuk pangkalan udara Al-Watiya dan Tarhuna.

GNA didirikan pada 2015 di bawah perjanjian yang dipimpin PBB, tetapi upaya penyelesaian politik jangka panjang gagal karena serangan militer oleh pasukan Haftar. (AA/OL-14)

BERITA TERKAIT