12 June 2020, 04:02 WIB

Surveilans semakin Aktif


X-10 | WAWANCARA

PADA Selasa (9/6) dan Rabu (10/6) terjadi peningkatan jumlah kasus baru positif covid-19 secara signifikan. Bahkan, jumlah dalam dua hari itu merupakan yang tertinggi sejak kasus pertama muncul dan diumumkan pada 2 Maret lalu.

Pada Selasa, jumlah kasus baru mencapai 1.043 dan pada Rabu naik lagi menjadi 1.241. Padahal, jumlah kasus sebelumnya masih di bawah angka 1.000. Untuk mengetahui lebih lanjut soal itu, wartawan Media Indonesia Atalya Puspa mewawancarai anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, kemarin. Berikut petikannya.

Bagaimana kondisi covid-19 di Indonesia saat ini dilihat dari data dan fakta-fakta epidemiologi?
Yang jelas penambahan jumlah kasus mingguan memang ada peningkatan di pekan terakhir ini. Peningkatan tersebut juga terpengaruh dari kontribusi DKI Jakarta dalam melakukan surveilans aktif di daerah merah untuk menjaring orang tanpa gejala (OTG).

Nah, kita harus membedakan kasus naik karena laju penyebaran tinggi atau mereka melakukan surveilans secara lebih baik lagi. Kalau dulu cuma orang di rumah sakit kita periksa, sekarang sampai turun ke masyarakat untuk nyari OTG, ada upaya screening dan akhirnya penemuan kasus positif. Ada upaya mendeteksi kasus di masyarakat. Itu kondisi kita saat ini.

Jadi, peningkatan jumlah kasus covid-19 merupakan buah dari upaya penelusuran kontak yang semakin baik?
Kalau kita lihat data harian, lihatlah dari jumlah spesimen yang diperiksa. Kalau dulu misalnya dalam sehari yang diperiksa hanya 3.000, wajar saja yang ditemukan hanya 100. Sekarang kapasitas pemeriksaan meningkat, pasti kasus positif meningkat. Kalau saya lebih memegang warn alert berapa jumlah yang diperiksa dan berapa jumlah positifnya.

Tapi memang tiap daerah memiliki karakteristik, tantangan, dan kemampuan yang berbeda. Saya nggak akan pukul rata semua sama. Tiap daerah punya kapasitas dan kemampuan yang beda. Tapi harus diingat, semuanya tengah belajar mengejar agar penularan covid-19 tidak tinggi.

Apakah saat ini Indonesia tengah memasuki puncak pandemi covid-19?
Saat ini dan tiga pekan lalu memang sedikit sama karena tiga pekan lalu sempat naik, lalu turun, dan sekarang naik lagi. Tapi kita belum bisa bilang saat ini jadi puncak pandemi sampai jumlah pemeriksaan di pekan ini keluar.

Kalau untuk kapan mereda, dulu awal muncul pandemi, banyak orang mengeluarkan prediksi. Tapi sekarang kan nggak terbukti. Di luar itu, yang bisa menentukan akan melandai ialah masyarakatnya. Perilaku masyarakat ini yang menjadi kontrol. Peran utamanya di masyarakat.

Lantas wilayah mana yang memiliki risiko penularan covid-19 terendah dan tertinggi?
Risiko penularan tidak bisa dikuantifikasi. Begini, kalau kita terpaku dengan jumlah kasus, tertinggi saat ini DKI, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah, tetapi dari situ kita harus hitung per 100 ribu penduduk. Gak fair kalau lihat penambahan kasus aja. Penduduk banyak kasus tinggi itu wajar saja.

Nah, kalau dilihat berdasarkan provinsi, risiko penularan tertinggi ada di DKI, yakni 74/100 ribu penduduk, disusul Kalimantan Selatan 31,9/100 ribu, dan Kalimatan Utara. Kabupaten/ kota risiko tertinggi ada di Jakarta Pusat, Jayapura, Surabaya, Banjarmasin, dan Mataram.

Kalau terendah, ada di Tegal, Blora, Lebak Banten, Aceh Utara, dan Rokan Hulu, tetapi ini dinamis.

Terkait dengan kenormalan baru, apakah menurut Anda ini sebuah keputusan yang tepat?
Saya lebih senang menggunakan term adaptasi kebiasaan baru menuju masyarakat aman covid-19. Ya, memang kita harus adaptasi. Seperti apa? Dengan menerapkan protokol kesehatan, pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, meningkatkan imunitas, dan sebagainya.

Itu pilihannya karena kita harus terbiasa dengan kebiasaan baru. Karena kalau enggak gitu, kita enggak akan keluar dari masalah ini.

Namun, pemerintah gak pernah menentukan kapan tanggal daerah dibuka, apakah sama semua untuk semua daerah, karena tiap daerah kondisi kesehatan epidemiologinya berbeda. Maka kita lakukan kajian indikator kesehatan masyarakat untuk menentukan risiko kenaikan kasus.

Pemerintah pusat lakukan kajian dan rekomendasi, tetapi memberikan kewenangan kepada pemda untuk melakukan adaptasi kebiasaan baru.

Terkait dengan sistem bersatu lawan covid (BLC), apakah sejauh ini efektif untuk memantau penyebaran kasus secara real time?
Seluruh data identifi kasi kasus, manajemen kasus, konfi rmasi kasus, logistik, mobilitas, harus masuk ke sistem yang sama, inilah BLC. Ini sampai hari ini alhamdulillah mampu menyatukan beragam data covid-19 di Indonesia.

Kita dalam kondisi darurat kita kembangkan sambil jalan, perbaikan juga dilakukan sembari jalan. Alhamdulillah tim kita sportif untuk membangun ini. Meskipun data belum lengkap, ini dilakukan secara bertahap. Ini salah satu pencapaian, gak mudah mengintegrasikan data. Waktu singkat, yakni selama tiga bulan pengembangan. Ini sesuatu yang membanggakan.

Bagaimana tanggapan Anda soal ancaman gelombang kedua covid-19?
Kita harus menerapkan protokol kesehatan. Jangan lengah, tetap tertib menggunakan masker, cuci tangan, jaga jarak, dan jaga imunitas. Semua orang ingin kembali normal. Tetap pesan saya kepada masyarakat, jadilah bagian dari mereka yang saling menjaga. Menjaga kita dan menjaga sekitar kita. (X-10)

BERITA TERKAIT