11 June 2020, 08:00 WIB

The Fed Tahan Suku Bunga Dekati Nol hingga 2022


Antara | Ekonomi

FEDERAL Reserve AS pada Rabu (10/6) mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah pada level rekor terendah mendekati nol di tengah meningkatnya dampak dari resesi yang diinduksi covid-19, dan memproyeksikan suku bunga tetap pada level saat ini hingga setidaknya 2022.

"Krisis kesehatan publik yang sedang berlangsung akan sangat membebani aktivitas ekonomi, lapangan kerja, dan inflasi dalam waktu dekat, dan menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap prospek ekonomi dalam jangka menengah," Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), badan pembuat kebijakan The Fed, mengatakan dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri pertemuan dua hari.

Mengingat perkembangan ini, komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada 0,00 hingga 0,25%, kata pernyataan itu.

"Virus dan langkah-langkah tegas yang diambil untuk mengendalikan penyebarannya telah menyebabkan penurunan tajam dalam kegiatan ekonomi dan lonjakan kehilangan pekerjaan," kata Ketua Federal Reserve Jerome Powell dalam konferensi pers virtual Rabu (10/6) sore.

"Indikator pengeluaran dan produksi anjlok pada April, dan penurunan PDB riil pada kuartal saat ini cenderung menjadi yang paling parah dalam catatan," kata Powell.

Bahkan setelah laporan ketenagakerjaan Mei positif yang tak terduga, hampir 20 juta pekerjaan telah hilang sejak Februari, ia mencatat, menambahkan bahwa peningkatan pengangguran telah sangat parah bagi pekerja berupah rendah, untuk wanita, dan untuk Afrika Amerika dan Hispanik.

Powell mengatakan beberapa indikator dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan stabilisasi atau bahkan rebound  moderat di beberapa segmen ekonomi, seperti barang dagangan ritel dan penjualan kendaraan bermotor, serta pengangguran turun karena beberapa pekerja kembali ke pekerjaan mereka dari PHK sementara.

Pertemuan kebijakan bank sentral mengikuti pengumuman Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER) pada Senin (8/6) bahwa ekonomi AS secara resmi memasuki resesi pada Februari, mengakhiri ekspansi terpanjang dalam sejarah AS.

Baca juga: Dolar Jatuh ke Level Terendah 3 Bulan

Dalam pernyataan terpisah pada Rabu (10/6), The Fed memproyeksikan bahwa ekonomi AS akan menyusut 6,5% pada 2020, diikuti oleh kenaikan 5,0% tahun depan.

Powell mengatakan kepada wartawan bahwa proyeksi ekonomi dibuat dengan ekspektasi umum bahwa pemulihan ekonomi akan dimulai pada paruh kedua tahun ini dan berlangsung selama beberapa tahun ke depan.

Dia juga menyuarakan keprihatinannya bahwa jutaan orang Amerika bisa menganggur secara permanen dari krisis ini. Menurut proyeksi ekonomi Fed, tingkat pengangguran bisa turun menjadi 9,3% pada akhir tahun ini.

The Fed juga memproyeksikan suku bunga akan tetap mendekati nol hingga setidaknya 2022, karena pembuat kebijakan berusaha untuk mendukung pemulihan ekonomi dari resesi yang diinduksi covid-19.

"Tingkat penurunan dan laju pemulihan tetap sangat tidak pasti dan akan sangat tergantung pada keberhasilan kita dalam mengendalikan virus," kata Powell. "Pemulihan penuh tidak mungkin terjadi sampai orang yakin bahwa itu aman untuk terlibat kembali dalam berbagai kegiatan."

Ketua The Fed mengatakan ekonomi AS kemungkinan akan membutuhkan lebih banyak dukungan fiskal dan moneter untuk waktu yang lama, menunjukkan bahwa Kongres bisa berbuat lebih banyak untuk membantu para pengangguran dan pemilik usaha kecil.

The Fed memangkas suku bunga mendekati nol pada dua pertemuan yang tidak dijadwalkan pada Maret dan mulai membeli sejumlah besar surat berharga pemerintah dan sekuritas yang didukung hipotek untuk memperbaiki pasar keuangan. Bank sentral juga meluncurkan program pinjaman baru untuk menyediakan hingga US$2,3 triliun  guna mendukung ekonomi dalam menanggapi wabah.

Powell mengatakan pembelian obligasi pemerintah dan sekuritas yang didukung hipotek yang sedang berlangsung telah membantu memulihkan kondisi pasar yang tertib, dan telah mendorong kondisi keuangan yang lebih akomodatif.

"Karena fungsi pasar telah membaik sejak ketegangan yang dialami pada Maret, kami telah secara bertahap mengurangi laju pembelian ini," katanya, sambil mencatat bahwa bank sentral akan meningkatkan kepemilikan obligasi dan sekuritas yang didukung hipotek selama beberapa bulan mendatang setidaknya pada langkah saat ini. (A-2)

BERITA TERKAIT