06 June 2020, 05:59 WIB

Awas Alleskoenner Kai Havert!


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

USIANYA baru akan memasuki 21 tahun pada 11 Juni mendatang. Namun, penyerang muda Bayer Leverkusen, Kai Havert, sudah menjadi pembicaraan dan juga incaran bagi banyak klub. Bukan hanya Manchester United, Real Madrid, dan Li verpool yang menginginkan pemain kelahiran Aachen ini, melainkan juga tim yang akan dihadapinya malam ini, Bayern Muenchen.

Asisten pelatih Marcel Daum tidak heran apabila Havert menjadi incaran klubklub besar karena bakatnya yang luar biasa. “Dia ibarat sebuah meteor yang sedang melejit. Gaya bermainnya yang elegan membuat kita teringat bintang besar Prancis, Zinedine Zidane,” puji Daum.

Havert memang merupakan pemain yang serbabisa. Ia bisa bermain sebagai ujung tombak, tetapi juga mampu menjadi pemain sayap yang berbahaya. Bukan hanya kakinya yang lincah untuk memainkan bola, melainkan juga kepalanya sama berbahayanya.

Tidak salah apabila pemain dengan tinggi badan 1,89 meter itu dijuluki alleskoenner sebab ia bisa melakukan apa saja. Ia begitu tenang ketika sedang bermain di lapangan dan umpan-umpan yang disodorkannya pun selalu matang bagi rekan-rekannya.

Havert benar-benar menjadi pujaan baru di Bay Arena. Ketika ia mencetak gol tunggal ke gawang Freiburg dan lima menit kemudian harus ditarik keluar karena cedera, semua penonton ikut bersedih. Semua khawatir apabila Havert tidak bisa tampil pada pertandingan penting malam ini menghadapi tetangga dekat, Bayern Muenchen.

Bayer Leverkusen seakan menemukan bintang muda baru pada diri Havert. Sebelumnya Bayer pernah melahirkan pemain bintang besar Jerman, seperti Michael Ballack, Toni Kroos, dan Julian Brandt.

Apalagi di putaran kedua, Havert tampil sebagai pemain yang begitu produktif. Dari 11 gol yang ia bisa ciptakan di musim kompetisi ini, Havert mencetak 9 gol di putaran terakhir tersebut. Ia hanya tertinggal satu gol dari mesin gol Bayern Muenchen, Robert Lewandowski, dan bintang baru Borussia Dortmund Erling Haaland.

Hattrick

Bayer turun ke lapangan malam ini dengan membawa sejuta ambisi. Mereka ingin mencetak hattrick sebagai klub pertama yang bisa tiga kali berturut-turut mengalahkan Bayern Muenchen.

Setelah mampu memecundangi Hollywood FC di akhir musim lalu, Bayer membuat kejutan lagi akhir Desember silam. Bertandang ke kandang Bayern Muenchen di Allianz Arena, mereka mampu menaklukkan sang juara bertahan 2-1 melalui gol ganda yang diciptakan Leon Bailey.

Kali ini Bayer semakin berambisi untuk kembali menaklukkan sang raksasa karena mereka mengincar tiket ke Liga Champions musim mendatang. Sekarang ini mereka bercokol di urutan kelima klasemen sementara, bersaing ketat dengan Borussia Moenchengladbach.

Pelatih Peter Bosz berharap tim asuhannya kembali menampilkan permainan terbaik karena itulah modal utama untuk membuat kejutan besar. Bosz masih belum puas dengan konsistensi permainan skuad asuhannya karena masih sering naik-turun. Mereka sempat dipaksa
menyerah 1-4 oleh Wolfsburg pada pertandingan pekan lalu.

Kalau kondisinya sudah pulih, Havert kemungkinan berpasangan dengan Bailey di barisan depan. Satu lagi, posisi sayap kemungkinan diisi oleh Karim Bellaraby atau Moussa Diaby yang juga sudah pulih dari cedera dan siap diturunkan.

Namun, apabila Havert tidak bisa siap 100% untuk bermain, Bosz masih memiliki dua pilihan, yakni pemain kawakan Kevin Volland atau Lucas Alario. Itulah yang membuat pelatih asal Belanda itu cukup percaya diri untuk kembali memberi kejutan kepada Bayern Muenchen.

Satu yang membuat Bosz merasa kehilangan ialah absennya kapten kesebelasan, Lars Bender. Pemain kawakan ini harus absen karena cedera. Selama ini, Bender tidak hanya mampu membuat solid barisan belakang, tetapi juga bisa menerobos kebuntuan para penyerang karena kejeliannya melihat peluang.

Bosz dikenal sebagai pelatih yang berani bermain terbuka dengan pola 3-4-3. Seperti halnya Borussia Dortmund, ia hanya menempatkan tiga pemain di belakang dengan Bender sebagai pilarnya. Dengan absennya Lars Bender, posisi di jantung pertahanan diisi kembarannya, Sven Bender.

Sven akan didampingi Jonathan Tan di kanan dan Aleksander Dragovic di kiri. Kiper Lucas Hradecky apabila tampil dengan performan terbaiknya, sulit untuk bisa ditaklukkan. Itu sudah dibuktikan ketika membuat para pemain Bayern frustrasi tidak bisa menjebol gawangnya saat bermain di Allianz Arena.

Apalagi jika empat pemain gelandang Kerem Demirbay, Charles Aranguis, Julian Baumgartlinger, dan Nadiem Amiri tampil kompak menggalang lapangan tengah. Keempat pemain ini sangat solid untuk bisa menopang pertahanan dan tidak mudah untuk bisa ditembus para pemain Bayern sekali pun.

Thiago Alcantara

Bayern sangat berharap gelandang asal Spanyol, Thiago Alcantara, siap turun bermain malam ini. Sudah dua kali ia tidak bermain karena cedera yang dialami. Absennya Thiago membuat Joshua Kimmich harus berjuang sendirian sebagai pengatur permainan. Beruntung Leon Goretzka selalu tampil bagus sehingga Bayern bisa meraih dua kemenangannya.

Kehadiran Thiago akan mengubah permainan Bayern. Ia bisa bergantian dengan Kimmich untuk membantu serangan. Pelatih Hans-Dieter Flick pun bisa kembali dengan pola 4-2-3-1 yang menjadi kesukaannya.

Thomas Mueller kembali menjadi second stricker di belakang torjaegerkanone, Lewandowski. Sementara itu, Serge Gnabry dan Kingsley Coman beraksi dari sayap untuk memberi umpan silang atau menusuk jantung pertahanan Bayer Leverkusen.

Hansi Flick berambisi mempertahankan rekor tidak terkalahkan pada 2020 ini. Ia pantas untuk percaya diri karena mempunyai dua bek sayap yang tidak pernah mengenal lelah. Baik Benjamin Pavard di kanan maupun Alphonso Davies di kiri, selalu ada di setiap permainan.

Kalaupun mereka terlambat untuk turun, Bayern masih memiliki David Alaba yang cepat untuk menutup lubang di belakang. Belum lagi palang pintu Jerome Boateng yang mulai menemukan permainan terbaik seperti ketika ikut membawa Jerman memenangi Piala Dunia 2014.

Kiper Manuel Neuer merupakan palang pintu terakhir yang selalu bisa menjaga agar gawang Bayern tetap aman. Kapten kesebelasan Bayern dan juga tim nasional Jerman ini mengingatkan kita kepada kiper legendaris Kolombia, Rene Higuita. Ia mampu memainkan peran sebagai kiper libero dengan menjadi pemain belakang terakhir ketika ada serangan cepat dari lawan.

Hanya saja, Neuer sudah semakin menua. Di usianya ke-34 tahun sekarang ini, Neuer bukan lagi pemain yang sigap seperti di Brasil 2014. Ia sempat terlambat dan tidak aman menghalau bola ketika menghadapi Dortmund sehingga Erling Haaland nyaris menjebol gawangnya.

Malam ini Neuer akan diuji lagi oleh pemain yang seumur dengan Haaland. Calon bintang besar Jerman masa mendatang Havert akan
menantang sang kapten kesebelasan. Neuer tidak boleh lagi salah membuat perhitungan karena Havert merupakan seorang alleskoener. Ia bisa mengubah hasil pertandingan. Jadi, hati-hati dengan Kai Havert!!!

BERITA TERKAIT