06 June 2020, 05:35 WIB

Pelembagaan Gotong Royong


Eva K Sundari Pendiri Kaukus Pancasila, Ketua DPP Alumni GMNI | Opini

VIRUS korona akan tetap bersama kita di masa kenormalan baru. Risiko kematiantetap harus kita hadapi sambil melanjutkan hidup yang tidak boleh berhenti. Tidak ada pilihan lain kecuali melanjutkan gotong royong yang telah dibentuksaat pandemi, bahkan harus melembagakannya agar menjadi pranata dan modalsosial yang permanen.

"Ho lopis kuntul baris, buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!," kata Soekarno. Gotong Royong bisa diibaratkan membangun rumah, semua terlibat, tetapi tiap tiap bagian menyelesaikan tugasnya yang berbeda-beda.

Ada yang buat jendela, pintu, dinding, lantai, bikin sumur, tapi semua konvergen dengan output tunggal, yaitu rumah ditegakkan agar para penghuninya bisa terlindung dari panas, dingin, hujan, dan angin.

Gotong royong dipilih karena mampu mengakomodasi kepentingan bersama dari masyarakat yang heterogen. Indahnya, banyak riset menyimpulkan bahwa semakin beragam suatu kelompok  masyarakat, semakin kreatif, inovatif, tahan banting, dan semakin tinggi peluang keberlanjutan kelompok tersebut.

Ketahanan komunitas

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengeluarkan instruksi untuk menumbuhkan gerakan jogo tonggo (jaga tetangga) berbasis RW. Tiap RW dibentuk satgas covid yang terdiri atas tiga tim, yaitu kesehatan, ekonomi, dan sosial keamanan.

Tim kesehatan akan menjaga penduduk agar tidak keluar rumah atau jika keluar, memakai masker dan tetap menjaga jarak. Tim ekonomi fokus ke keberlangsungan ekonomi tetangga, misalnya mulai akses terhadap bansos hingga membeli produk-produk tetangga. Di Semarang dan Ambarawa, para pemuda berinisiatif menanam empon-empon dan menjual hasil pertanian sayur.

Sementara itu, di Salatiga, mereka menginisiasi pembuatan kebun komunitas. Tim sosial-keamanan fokus ke pencegahan konflik akibat covid 19. Insiden penolakan pasien maupun jenazah covid-19 mampu diselesaikan secara musyawarah. Persaingan dan konflik antar-RW (eksklusifisme) tidak akan terjadi karena ada kepentingan lebih besar, yaitu menjadikan Jateng sebagai zona kuning.

Sukses, yang semula Jateng sebagai zona merah, pada akhirnya menjadi provinsi berstatus zona kuning bersama Bali. Di Yogyakarta, ada beberapa inisiatif gotong royong yang digagas kelompok sipil dan tumbuh dari bawah walau dampaknya terbatas di suatu komunitas. Gerakan pangan Jogja (GPJ), misalnya, diinisiasi oleh Ita F Nadia dengan mendirikan 12 dapur umum.

Beberapa dosen FEB UGM membuat gerakan sambatan Jogja (Sonjo). Satu kelompok aktivis perdesaan dan koperasi KOBETA menggalang pengadaan sembako khusus untuk kelompok masyarakat terabaikan di DKI.

Pelembagaan gotong royong sudah dilakukan koperasi atau credit union, yaitu dengan melayani para anggota di mana pun tempat tinggal para anggota. Aspek (solidaritas) sosial yang diberi bobot sama dengan aspek di koperasi mulai diadopsi di socio-entrepreneurship yang sekarang menjadi tren dunia.

Dalam socio-entrepreneurship, kita tidak lagi fokus kepada egosentris (profit oriented semata), tetapi ecosentris (dukungan lingkungan demi keberlanjutan). Pendekatan kolaborasi atau gotong royong menjadi pilihan banyak pelaku bisnis sosial ini.

Kebudayaan baru

Sebagai masyarakat religius, tentu setuju dengan filosofi 'sangkan paraning dumadi' bahwa tujuan hidup di dunia ialah untuk kembali ke sang Pencipta. Etika dan moralitas menjadi pertimbangan penting bagi makhluk spiritual manusia dalam menjalani kehidupan di dunia.

Soekarno menegaskan bahwa demokrasi Indonesia yang berdasar hikmah dari musyawarah (konsensus) bukan sekadar teknik mengambil keputusan. Hal tersebut berangkat dari kesadaran ketidaksempurnaan makhluk vis a vis Tuhan Yang Maha Sempurna sehingga manusia perlu bermusyawah, saling menyempurnakan.

Setelah 10 tahun terakhir muncul kesadaran beragama di seluruh dunia, saatnya kita memasuki gelombang baru yang lebih tinggi, yaitu kesadaran spiritualitas, hakikat/substansi agama. Di dunia bisnis, orang mulai meninggalkan orientasi kepentingan tunggal material (kuantitas) beralih ke kualitas dengan memperluas kepentingan jamak (bersama), termasuk kepentingan menyelamatkan lingkungan dan alam.

Pemerintah Jateng sudah mempraktikkan gotong royong dengan mengelola zakat para ASN dan gubernur menunjuk SKPD tertentu untuk menjadi pendamping dan mengentas satu desa tertinggal, hasilnya luar biasa. Penurunan kemiskinan di Jateng di atas rata-rata nasional, bahkan Jateng menjadi penyumbang terbesar penurunan kemiskinan nasional.

Pelembagaan gotong royong (Pancasila) oleh negara, sipil, serta individu harus menjadi target demi penyelamatan kita melawan korona dan menjawab permasalahan komunitas berbasis kekuatan sendiri, sekaligus merupakan instrumen menciptakan kebudayaan baru dunia, yaitu hidup yang berorientasi pada moralitas dan budi pekerti.

BERITA TERKAIT