05 June 2020, 01:40 WIB

Jim Mattis Sebut Trump Memecah Belah Amerika


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

MANTAN Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Jim Mattis pada Rabu (3/6) mengkritik pedas Presiden AS Donald Trump dengan sebuah pernyataan yang menuduh Presiden AS itu berusaha menabur perpecahan di AS.

“Donald Trump ialah presiden pertama dalam hidup saya yang tidak sedikit pun berusaha menyatukan warga Amerika, berpura-pura mencoba pun tidak,” kata Mattis dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan secara daring oleh majalah The Atlantic.

Mattis yang mengundurkan diri pada Desember 2018 atas perintah Trump untuk penarikan penuh pasukan dari Suriah, juga menyuarakan dukungan bagi para demonstran tentang demo antirasialisme yang telah mengguncang negara.

Mattis mengkritik keputusan Trump yang menggunakan kekuatan militer untuk menindak unjuk rasa yang berlangsung atas tindakan kepolisian yang menyebabkan kematian seorang pria kulit hitam, George Floyd.

Kritik pedas semacam itu jarang terjadi karena Mattis di masa lalu mengatakan bahwa tidak pantas baginya mengecam seorang presiden yang sah. Namun, Mattis menuduh Trump berusaha memecah belah Amerika Serikat dan secara tegas mengecam tindakan militerisasi terhadap kerusuhan sipil yang terjadi.

Dia mengecam keputusan menggunakan kekuatan untuk membersihkan pengunjuk rasa damai dari dekat Gedung Putih pada Senin untuk memungkinkan Trump berpose untuk foto-foto di gereja yang rusak di dekatnya, dengan menyebutnya sebagai ‘penyalahgunaan wewenang eksekutif’.

Trump mengkritik balik James Mattis. Trump menyebut Mattis sebagai seorang jenderal (purnawirawan) yang terlalu berlebihan di dunia dan tidak memiliki kewibawaan militer.

“Mungkin satu-satunya kesamaan yang dimiliki Barack Obama dan saya adalah kami berdua mendapat kehormatan memecat Jim Mattis, jenderal yang paling berlebihan di dunia. Saya meminta surat pengunduran dirinya dan merasa senang karenanya. Julukannya ialah Chaos dan saya tidak menyukainya, kemudian berubah menjadi Mad Dog,” ujar Trump dalam cicitannya di Twitter.


Tolak perintah Trump

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper pada Rabu (3/6) mengatakan ia tidak mendukung pemberlakuan Undang-Undang Huru-hara yang memungkinkan tentara aktif dikerahkan guna mengakhiri aksi pengunjuk rasa.

Pernyataan itu disampaikan Esper meskipun Presiden AS Donald Trump mengancam akan menggunakan militer untuk menghadapi pengunjuk rasa. Trump pada minggu ini mengatakan ia dapat mengerahkan pasukan militer di negara bagian yang dinilai gagal mengendalikan aksi massa.

“Pengerahan pasukan militer aktif guna membantu penegakan hukum merupakan opsi paling terakhir yang akan dipilih hanya dalam situasi paling mendesak dan berbahaya. Kita tidak dalam situasi seperti itu sekarang,” kata Esper saat jumpa pers.

Di sisi lain, bentrokan terjadi antara demonstran dan polisi antihuru-hara di luar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Athena, Rabu (3/6), saat aksi unjuk rasa tentang kematian seorang pria kulit hitam AS, George Floyd.

Menurut laporan polisi, para demonstran mulai melemparkan bom api dan batu ke petugas di luar kedutaan. Sementara itu, api disulut di tempat sampah di sekitarnya. Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata. (AFP/AA/CNBC/I-1)
 

BERITA TERKAIT