04 June 2020, 06:20 WIB

Kepercayaan Investor makin Kukuh


Hilda Julaika | Ekonomi

KEPERCAYAAN terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan terus membaik. Para pelaku perdagangan atau investor di pasar keuangan pun terus memburu aset rupiah.

Dalam lelang surat utang negara pada 2 Juni lalu, misalnya, total penawaran yang masuk mencapai Rp105,27 triliun dan akhirnya diserap pemerintah sebesar Rp24,35 triliun.

Di pasar modal, investor asing terus meningkatkan pembelian saham. Dalam  perdagangan di bursa saham kemarin ini asing mencatat nilai pembelian bersih Rp1,5 triliun. Jumlah itu melonjak jika dibandingkan dengan hari sebelumnya yang berjumlah Rp780-an miliar.

Seiring dengan derasnya animo investor dan semakin pulihnya kepercayaan asing, nilai tukar rupiah diperdagangkan makin mendekati level 14.000 per US$. Rupiah ditutup menguat 320 poin atau 2,22% menjadi 14.095 per US$ dari sebelumnya 14.415 per US$.

Sementara itu, IHSG di Bursa Efek Indonesia naik 93 poin atau 1,93% mendekati level 5.000 dan bertengger di 4.941 dengan nilai perdagangan mencapai Rp11,13 triliun.   

Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono di Jakarta mengatakan rupiah berpotensi menguat menembus level psikologis 14.000 per US$ dalam pekan ini. “Rupiah sangat mungkin menyentuh 14.000, bahkan di bawah itu,” kata Wahyu seperti dikutip dari Antara.

  Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah, menilai tren penguatan rupiah bisa terus berlanjut apabila kenormalan baru atau new normal berjalan dengan lancar.

“Kalau pelonggaran aktivitas ekonomi baik di global maupun dalam negeri berjalan lancar, penguatan rupiah bisa berlanjut,” ujar Piter kepada Media Indonesia.

Potensi gelombang kedua penyebaran virus covid-19 tetap perlu diwaspadai meski dampaknya tidak akan menimbulkan koreksi penguatan rupiah secara tajam.

“Kalaupun ada koreksi, tidak akan tajam. Rupiah cenderung akan terus menguat, didukung likuiditas global yang cukup berlimpah akibat stimulus yang dikeluarkan banyak negara,” pungkasnya.

Cadangan devisa meningkat

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai peluang rupiah tidak lepas dari koordinasi kebijakan yang baik.

“Koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal, moneter, dan juga sektor keuangan mendukung stabilitas dan confidence pasar, investor dalam dan luar negeri, untuk ekonomi kita,” ujarnya.
Perry juga mengatakan inflasi tahunan masih tergolong rendah, yakni 2,19%.

Untuk cadangan devisa, Perry menyebut posisinya kini meningkat dari posisi pada akhir bulan lalu.  Posisi cadangan devisa pada akhir Maret lalu sempat turun ke posisi US$121,0 miliar dan pada April naik kembali menjadi US$127,9 miliar.

“Bulan ini juga akan meningkat, nanti pada 8 Juni akan diumumkan posisinya per akhir Mei 2020. Jumlahnya lebih tinggi daripada akhir bulan yang lalu (April),” ucapnya. (Dhk/E-1)

 

BERITA TERKAIT