04 June 2020, 00:12 WIB

Jaga Kualitas Belajar Siswa, Sekolah Bisa Terapkan Matrikulasi


Syarief Oebaidillah | Humaniora

MESKI dihantam pandemi Covid-19, proses pendidikan di Indomesia harus terus berjalan walau dengan kebijakam belajar dari rumah. Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Didik Suhardi mengakui keterbatasan infrastruktur membuat proses belajar tidak optimal saat belajar dari rumah.

Mengantisipasi tidak terpenuhinya Kriteria Ketentuan Minimal (KKM) proses belajar- mengajar yang berpotensi menghasilkan generasi yang hilang (lost generatiom), Didik menyarankan kepala dinas dan kepala sekolah di daerah menyusun bridging course (matrikulasi) agar siswa punya kesiapan menghadapi pembelajaran diatas tingkatnya saat ini.

"Oleh karena kondisi learning from home di setiap daerah belum ada petanya, tidak ada pula peta kualitas hasil pembelajaran di setiap wilayah. Berapa lama matrikulasi akan dilakukan di setiap sekolah, diserahkan sepenuhnya kepada dinas pendidikan dan satuan pendidikan," kata Didik yang kini bertugas di Pusdatin Kemendikbud.

Ia menjelaskan, matrikulasi merupakan salah satu strategi paling efektif dan efisien yang bisa dilakukan di sekolah daripada menambah waktu belajar satu semester untuk menutupi kekurangan waktu belajar dan peningkatan standar kualitas lulusan sesuai kurikulum nasional.

Pasalnya, jika menambah satu semester, tentu membutuhkan biaya yang sangat mahal. Jika menggunakan asumsi anggaran dari BOS saja, perlu anggaran kurang lebih Rp30 triliun untuk tambahan waktu satu semester.

Baca juga : Kualitas Pembelajaran Harus Jadi Perhatian saat Terapkan PJJ

"Di sinilah makna 'merdeka belajar' dan 'guru penggerak' bisa dioptimalkan untuk mencapai standar kualitas yang diharapkan. Tentu, suasana belajar yang menyenangkan dan berpusat pada siswa tetap harus dijaga," ujarnya.

Keputusan melakukan matrikulasi, diserahkan kepada daerah dan sekolah dengan melihat komdisi siswa. Menurut Didik, untuk sekolah-sekolah yang kualitasnya masih di bawah rata-rata, matrikulasi mutlak dilakukan. Proses belajar-mengajar akan tersendat kalau matrikulasi tidak dilakukan karena para siswa belum siap belajar kurikulum kelas di atasnya.

"Ini juga sekaligus merupakan kesempatan untuk melaksanakan Full Day School sehingga waktu belajar di sekolah bisa ditambah sampai habis shalat asar. Full Day menjadi jalan keluar agar para siswa tetap mendapat layanan maksimal, " papar Didik.

Ia menegaskan, perlu kerja keras semua pihak terutama para pengambil kebijakan, kepala daerah, anggota legislatif, termasuk para pengawas dan pemerhati pendidikan untuk memastikan penyiapan Generasi Emas Indonesia tetap konsisten dan berjalan sesuai arah peningkatan SDM yang diharapkan.

"Jadi, demokrasi di Indonesia akan berjalan semakin baik dan berkualitas apabila pendidikan masyarakatnya juga semakin baik dan berkualitas. Pendidikan yang berkualitas dan berkarakter menjadi penentu kesuksesan pelaksanaan demokrasi di Indonesia, " pungkas Didik. (OL-7)

BERITA TERKAIT