03 June 2020, 18:05 WIB

Kolaborasi Keilmuan Jadi Kunci Kesuksesan Startup


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

REVOLUSI digital turut melahirkan banyak perusahaan rintisan (startup) di Indonesia. Namun, tak sedikit startup yang gagal berkembang. Data startupranking.com menunjukkan jumlah startup di Indonesia pada 2020 mencapai 1.719, menyusut jika dibandingkan pada 2018 yang mencapai 2.079.

Hal itu membuktikan, mengembangkan startup bukan hal yang mudah, meski Indonesia kini punya 5 startup berkategori unicorn. Wakil Rektor I Bidang Pembelajaran Universitas Prasetiya Mulya Agus W Soehadi mengatakan, startup bisa berkembang bila bisnisnya berbasis penyelesaian masalah masyarakat. Untuk mewujudkannya diperlukan kolaborasi secara keilmuan. 

"Seorang entrepreneur perlu diperlengkapi dengan konten teknologi dan teknik yang kuat sehingga muncul bisnis berbasis evidence atau temuan-temuan baru. Bukan sekedar mereplikasi apa yang sudah ada, tapi memberikan sesuatu yang baru bagi industri. Karena itu suatu hal yang penting agar suatu industri dapat tumbuh dan berkembang," katanya dalam keterangan tertulis. 

Hal itupun jadi perhatian Universitas Prasetiya Mulya yang mendorong kolaborasi antarprogram studi di kampusnya, maupun kolaborasi dengan dunia industri sejak awal mula pembelajaran. Hal itu agar temuan yang bersifat inovatif dan aplikatif bisa terwujud dalam proses kolaborasi tersebut. 

Dalam pengembangan startup, Prasetiya Mulya dalam proses pembelajaran program studi Strata-1 Bussiness misalnya, merancang pendekatan experential learning. Agus menjelaskan, pendekatan ini menuntun mahasiswa untuk memecahkan akar masalah melalui kerangka kerja pembelajaran berbasis proyek. 

Baca juga : Lestari Moerdijat: KBM di Sekolah Harus Betul-Betul Siap

"Mahasiswa akan terjun langsung dalam perencanaan bisnis, simulasi bisnis, dan proyek kewirausahaan lainnya yang bertujuan untuk menghasilkan kreativitas dan inovasi," ujarnya. 

Dalam prosesnya, kolaborasi keilmuan dijalankan agar usaha rintisan yang diproyeksikan bisa memecahkan masalah secara spesifik. Salah satu contoh kolaborasi ialah dalam bidang bisnis dan teknik (engineering) yang berperan dalam interaksi dan jaringan sebuah proses bisnis (networking systems), sistem berbasis komputer (computer-based systems), kecerdasan (intelligence) dan konektivitas (connectivity) untuk mempermudah interaksi antara manusia, manusia-mesin, dan mesin-mesin. 

"Semua saling terhubung antara satu dengan yang lain, yang  akhirnya bisa membuat keputusan tanpa keterlibatan manusia. Fungsinya tidak hanya menambahkan nilai pada kemunculan startup tetapi juga menjanjikan keberlanjutan bisnis yang semakin matang," jelas Agus. 

Di sisi lain, pembelajaran di prodi S1 Computer Systems Engineering juga memadukan jiwa entrepreneur dengan dibukanya akses pengerjaan tugas akhir lewat kolaborasi dengan mahasiswa prodi bisnis dan ekonomi. 

"Di luar mata kuliah yang teknis, kami juga memasukan unsur-unsur entrepreneurship pada rancangan mata kuliah seperti Community Development yaitu kolaborasi dengan mahasiswa dari School of business and Economics untuk mengobservasi real problem di masyarakat kemudian membuat solusi; lalu ada juga mata kuliah Creativity & Technology Innovation dan Business Innovation yaitu matakuliah berbasis inovasi, untuk menggali kreatifitas dari sisi teknologi atau engineering mindset.", kata Erwin Anggadjaja, Kepala Program Studi S1 Computer Systems Engineering. (RO/OL-7) 

BERITA TERKAIT