03 June 2020, 14:40 WIB

Pendapatan Zoom Melonjak Saat Pandemi Covid-19


Deri Dahuri | Internasional

PERUSAHAAN komunikasi video Zoom, Selasa (2/6), melaporkan bahwa pendapatannya melonjak dengan semakin popularnya layanan pertemuan video untuk bekerja atau bersosialisasi bersamaan  dengan merebaknya pandemi virus korona atau Covid-19.

Zoom mengatakan pihaknya mendapat untung US$ 27 juta atau hampir Rp383 miliar dari pendapatannya yang melonjak 169% dengan nilai US$ 328 juta pada kuartal fiskal yang berakhir 30 April 2020.

Pada kuartal yang sama tahun sebelumnya atau tahun 2019, Zoom melaporkan nol dolar per saham dalam laba bersih untuk pemegang saham.

"Krisis Covid-19 telah mendorong permintaan yang lebih tinggi untuk interaksi tatap muka yang terdistribusi dan kolaborasi menggunakan Zoom," kata pendiri dan CEO  Zoom, Eric Yuan, dalam pers rilisnya.

Pada kuartal pertama 2020,  Zoom memiliki sekitar 265.400 pelanggan yang membayar dengan sedikitnya 10 orang dalam setiap pertemuan dengan video dan terjadi peningkatan 354% jika dibandingan dengan kuartal pertama 2019.

Laporan tersebut disampaikan perusahaan yang berpusat di kota Silicon Valley San Jose, California, Amerika Serikat (AS) pada Selasa (2/8) waktu setempat.

Pada akhir hari perdagangan pasar formal, saham Zoom mengalami sedikit kenaikan dengan memberi sedikit keuntungan.  Saham tak terlalu diburu karena dikhawatirkan popularitas aplikasi video komunikasi Zoom akan menurun dengan mulainya pelonggaran lockdown dan sebagian besar orang bisa kembali beraktivitas dan bertemu langsung.   

Zoom menginformasikan kepada para analis bahwa sekitar setengah pertumbuhan keuntungannya terkait pelayanan dari pelanggan berbayar per bulan. Pelanggan bulanan Zoom memang berbeda dengan pelanggan tahunan yang lebih setia.

"Ini adalah pengingat bahwa Zoom melihat lonjakan yang tidak biasa selama apa yang kami harapkan akan menjadi peristiwa jangka pendek," kata analis teknologi independen Rob Enderle.

"Begitu kamu tidak perlu lagi social distancing secara ketat, banyak orang akan ingin kembali ke pertemuan secara langsung,” jelas Enderle.

Di sisi lain, menurut Direktur Keuangan Zoom Kelly Steckelberg, masih terlalu dini untuk mengetahui apakah pelanggan bulanan akan meninggalkan penggunaan Zoom di lokasi dilakukan pelonggaran social atau physical distancing dan sejumlah orang akan kembali bekerja seperti biasa.  

Namun seiring popularitas dan pelanggannya bertambah, aplikasi Zoom disebut kurang memiliki keamanan dan perlindungan privasi para penggunanya.  Kedatangan tamu cyber yang tak diharapkan saat pertemuan video online muncul atau disebut ‘zoombombing’.

Pada awalnya, Zoom dibangun untuk keperluan para bisnis dengan tim IT khusus untuk menangani penerapan fitur keamanan.

Dalam perjalanannya bersamaan dengan munculnya pandemi Covid-19, Zoom banyak digunakan masyarakat luas untuk bisa melakukan work from home atau bersosialisasi dari rumah tetapi dari segi keamanan masih lemah.

"Sebagai CEO, saya seharusnya melakukan pekerjaan yang lebih baik," kata Yuan saat memberi penjelasan mengenai keuntungan Zoom melalui video online dengan para analis.

"Kami seharusnya memainkan peran TI untuk pengguna pertama kali. Kami mendapat pelajaran sulit. Ini adalah kesalahan yang saya buat," jelas Yuan. 

Zoom dinilai kurang melindungi segi keamanan dan perlindungan privasi. Yuan menegaskan ke depan Zoom akan melindungi keamanan pertemuan dengan menggunakan aplikasi Zoom secara end-to end khusunya bagi para pebisnis dan bukan layanan Zoom yang gratis. (AFP/OL-09)

 

BERITA TERKAIT