03 June 2020, 11:45 WIB

New Normal di DKI Jangan Seperti Korsel, Baru Buka Ditutup Lagi


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Golkar Judistira Hermawan, mewanti-wanti Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam kebijakan kenormalan baru atau new normal usai berakhirnya masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Ibu Kota. Penyebaran covid-19 rawan terjadi apabila warga bebas beraktivitas tanpa memedulikan protokol yang ketat.

"Tugas masyarakat adalah menaati aturan-aturan yang telah ditetapkan. Setiap berkegiatan di luar tetap pakai masker, rajin cuci tangan. Jangan kayak di Korea Selatan. New normal baru dibuka satu minggu, kemudian dia tutup. Itu kita tidak inginkan betul," ujar Judistira, Rabu (3/6).

Ia mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI harus belajar dari kasus Korea Selatan soal tempat sekolah yang rawan tertular covid-19. Judistira meminta agar pembukaan kembali tempat belajar mengajar menjadi opsi belakangan.

Baca juga: Mal dan Kafe di DKI Dibuka Lebih Dahulu Dibanding Tempat Hiburan

"Khusus sekolah, jangan kita terburu-buru. Anak-anak itu paling sulit untuk disampaikan tentang apa-apa yang harus dilakukan untuk menjaga diri. Utamakan keselamatan anak-anak, ketika Jakarta sudah aman betul. Pembukaan sekolah paling akhir deh," sambung Judistira.

Sampai saat ini vaksin covid-19 belum ditemukan. Oleh karenanya, dia meminta kesadaran warga untuk tetap berhati-hati. Pemprov DKI juga diminta untuk masih membatasi pergerakan warga meski kenormalan baru diterapkan.

"Satu-satunya cara kita harus hidup dengan virus ini harus cerdas menghadapi dia. Masyarakat diminta agar menaati semua protokol dan aturan yang akan disusun pemerintah. Dan tugas pemerintah menyusun dengan baik aturan-aturan kita masuk fase yang dinamakan normal baru," tukas kakak kandung artis Nia Ramadhani ini.

Dari pemberitaan mediaindonesia.com yang bersumber dari BBC pada (29/5), lebih dari 200 sekolah di Korea Selatan ditutup lagi hanya beberapa hari setelah dibuka kembali. Penyebabnya adalah karena terjadi lonjakan baru kasus covid-19.

Pada Rabu (27/5), ribuan pelajar Korsel kembali ke sekolah usai pembatasan dilonggarkan. Baru sehari dibuka, 79 kasus baru dicatat yang menjadi angka harian tertinggi dalam dua bulan. Sebagian besar kasus itu telah dikaitkan dengan pusat distribusi di luar Seoul. (OL-14)

 

BERITA TERKAIT