03 June 2020, 04:30 WIB

Rahasia Kekebalan Tubuh Anak


Atalysa Puspa | Humaniora

SELAMA tiga bulan di rumah saja karena pandemi covid-19, Hesti, 25, melarang anak-anaknya, Akbar, 8, dan Rama, 3, keluar pagar. 

Seluruh aktifitas dilakukan di rumah karena kebetulan halaman rumahnya agak luas. Anak bisa berjemur di pagi hari, berlari mengitari halaman, berkemah di teras, hingga berkebun. Hesti juga berupaya menyediakan makanan sehat dan bergizi, meniadakan minuman dingin, serta membasmi debu yang bisa memicu alergi anak sulungnya.

“Untung anak-anak menurut dan diajak disiplin tetap di rumah saja meskipun banyak temannya yang masih berkeliaran di luar rumah,” serunya kepada Media Indonesia, kemarin.

Hesti memilih opsi preventif ketimbang kuratif karena rumah sakit selama covid-19 cenderung menjadi zona yang menakutkan. Dokter spesialis anak dari RSCM Zakiudin Munasir dalam webinar, kemarin, menjelaskan daya tahan tubuh anak berkembang seiring dengan usianya dan banyak faktor yang memengaruhinya.

“Asupan gizi seimbang, vitamin, mineral, semua berperan. Kalau semua bagus, anak tak akan sakit,” ujar Zakiudin. Hingga 18 Mei lalu, Ikatan

Dokter Anak Indonesia (IDAI) merilis sudah ada 584 anak terkonfi rmasi positif covid-19 di Indonesia, sebanyak 14 anak meninggal dunia. Sementara itu, pasien dalam pengawasan (PDP) anak jumlahnya mendapai 3.324 orang, 129 di antaranya meninggal dunia.

Jika dibandingkan dengan orang dewasa, sahut Zaki udin, jumlah anak yang terpapar covid-19 memang sedikit. Namun, itu bukan berarti anak memiliki kekebalan tubuh yang lebih kuat dari orang dewasa.

“Anak jarang terkena covid-19 karena mereka lebih jarang di luar rumah. Apabila anak mulai berkegiatan di luar rumah secara normal seperti pergi ke sekolah, anak menjadi kelompok rentan terpapar covid-19.”


Cegah kambuh

Khusus untuk anak yang memiliki alergi, Zakiudin menyampaikan perlakuannya harus berbeda sebab mereka termasuk yang berisiko mengalami gejala berat kalau terkena covid-19. Untuk itu, tidak cukup hanya membatasi kontak fisik anak dengan dunia luar karena bisa jadi pemicu kekambuhan alerginya terjadi di dalam rumah.

“Untuk anak dengan alergi itu memang sangat tidak menguntungkan saat pandemi ini. Maka, kalau punya alergi, lalukanlah kontrol  ingkungan dengan baik dan obati alerginya dengan baik,” serunya.

Penelitian gabungan selama lima tahun lewat Human Microbiome Project mengungkapkan bayi telah mewarisi bakteri dari ibunya begitu dia lahir. Hingga berumur 2-3 tahun, sistem kekebalan tubuh bayi tumbuh bersama mikrobiota, mereka belajar tidak menyerang bakteri.

Mikrobiota menjaga sistem kekebalan tubuh agar tetap seimbang. Alergi dan asma, misalnya, muncul karena adanya ketidakseimbangan mikrobiota dalam tubuh. Guru Besar FK Universitas Airlangga Subijanto Marto Sudarmo mengatakan, mikrobiota paling banyak terdapat di usus yang berperan menstimulasi sel limfatik pada usus untuk memproduksi 70%-80% imun yang beredar dalam tubuh. Hal ini menjadikan usus sebagai organ yang penting. “Kita tidak bisa hidup tanpa mikroba,” ujarnya.

Untuk menyeimbangkan jumlah mikroba dalam usus, ia menyarankan mengonsumsi probiotik yang terkandung dalam makanan, dari susu, yogurt, tempe, acar, atau minuman probiotik. (H-2)

 

BERITA TERKAIT